Ajak Semua Pihak Dorong Pemulihan Ekonomi Bali, Desa Penglipuran sebagai Tradisional Balinese Village

Pulau Bali adalah salah satu destinasi wisata paling terkemuka di Indonesia dan upaya mendorong pemulihan pariwisatanya yang terdampak pandemi COVID-19, maka sepekan ke depan, Bali menjadi headline utama di website Pariwisata Indonesia. Mengingat, masyarakatnya hampir secara menyeluruh menggantungkan hidup dari pariwisata Let's Go, The Island of Gods - Bali!
Umi Kalsum Founder dan CEO PVK GROUP,AJAK SEMUA PIHAK DORONG PEMULIHAN EKONOMI BALI,AYO DONG BERLIBUR KE PULAU DEWATA,DESA PENGLIPURAN SEBAGAI TRADISIONAL BALINESE VILLAGE,INDONESIA OFFICIAL TOURISM WEBSITE,LETS GO THE ISLAND OF GODS - BALI!,MEDIA ONLINE PARIWISATA INDONESIA TERFAVORIT 2020,MEDIA PARIWISATA INDONESIA OFFICIAL,MEDIA PVK GROUP,MEDIA PVK GROUP DENGAN 10 SITUS PARIWISATA DAN E MAGAZINE,MEDIA RESMI PARIWISATA INDONESIA,MENGAPA BANYAK WISATAWAN TERTARIK BERLIBUR KE PULAU BALI?,PARIWISATA BALI,PARIWISATA INDONESIA,SISTEM PEMERINTAHAN DESA PENGLIPURAN,TAKJUBNYA DESA PENGLIPURAN,WEBSITE RESMI PARIWISATA INDONESIA,Bali Dianugerahi Penghargaan Destinasi Wisata Terfavorit Dunia Nomor Satu Versi Pembaca Media PVK Group di Tahun 2020,
Desa Penglipuran di Bali (Dok. Instagram Joanna Santoso)

PariwisataIndonesia.id – Di artikel sebelumnya berjudul, “Takjubnya Desa Penglipuran! Ayo Dong ke Pulau Dewata, Yuk!”, yang mengulas sejumlah topik dan salah satunya adalah mengapa banyak wisatawan tertarik berlibur ke pulau Bali?

Takjubnya Desa Penglipuran! Ayo Dong Berlibur ke Pulau Dewata…  <<<  Sebelumnya

Pertanyaan tersebut, kerap muncul terutama bagi mereka yang pertama kali berlibur ke Bali.

Menyambung hal itu, redaksi Pariwisata Indonesia turut menjelaskan asal muasal nama “Desa Penglipuran” dan makna filosofis di balik Tri Hita Karana, juga diungkap sejelasnya dalam seri itu.

Sobat Pariwisata, rangkaian paralel artikel menjadi dua hal yang tidak bisa dipisahkan tetapi merupakan dua pembahasan yang berbeda. Yuk simak kelanjutannya!

Tercatat, luas desanya tersebut mencapai 112 hektar dan lokasinya berada di ketinggian 500-600 meter dari atas laut. Untuk memulai perjalanan dari titik Kota Denpasar menuju ke desa Penglipuran menempuh jarak mencapai 45 kilometer, namun, cukup 5 kilometer jika dari kota Bangli.

Sistem Pemerintahan Desa Adat

Ada hal yang menarik dalam sistem Pemerintahan desanya, yakni tercipta dalam satu Lembaga Kepemimpinan Adat yang disebut Prajuru Desa Adat Penglipuran.

Lembaga ini terdiri dari dua bagian yaitu Kanca Roras dan Bendesa atau Kelihan Adat. Berikut penjelasannya, sebagai berikut:

  1. Kanca Roras menyerupai Majelis Perwakilan atau Badan Legislatif. Pembentukannya, ditunjuk berdasarkan senioritas atau dikenal dengan sistem ulu-apad, mereka itu berjumlah 12 orang. Kanca Roras merupakan perpaduan makna kata: Ka-anca, berarti diberi amanah dan roras/rolas artinya dua belas.
  2. Adapun makna “Kelihan Adat” adalah Orang-orang yang dipilih dan dituakan dalam adat. Kelihan Adat menyerupai Pejabat Eksekutif yang pengangkatannya dilakukan melalui pemilihan dalam suatu rapat umum atau dikenal dengan kajudi ring paruman desa. Dalam melaksanakan fungsi dan tanggung jawab, Kelihan Adat bekerja setelah mendapat mandat dari Kanca Roras.

Selanjutnya, warga yang hidup di desa Penglipuran, menganut 2(dua) jenis hukum yang wajib ditaati, yaitu Awig (peraturan tertulis.Red) dan Drestha (adat kebiasaan tak tertulis.Red).

Harga Tiket Masuk dan Jam Operasional

Harga tiket masuk ke desa Penglipuran, tarifnya adalah sebagai berikut:

Harga untuk wisatawan domestik, kategori dewasa dibandrol Rp 15 ribu; usia anak Rp 10 ribu.

Harga untuk wisatawan mancanegara: Dewasa Rp 30 ribu; usia anak Rp 25 ribu.

Jam operasional: Dibuka setiap hari, mulai pukul 08.00-17.00 Wita.

Sobat Pariwisata, ada baiknya dalam mengawali kunjungan tetapkan pertama kali ke desa Penglipuran saat berada di Bali.

Alasannya, antara lain, karena: mampu menarik perhatian wisatawan dari berbagai kalangan; mengedepankan kearifan lokal; keragaman budaya yang bikin takjub; berwisata sambil melestarikan cagar budaya; berderet bangunan khas nuansa Bali; dan kerajinan hingga makanan tradisional; objek wisatanya berdampak positif pada potensi sosial dan ekonomi bagi masyarakat setempat; kultur masyarakatnya sudah terbentuk saat menyambut wisatawan sehingga tamu yang berkunjung merasa diagungkan.

Desa Penglipuran memang luar biasa dan sungguh bikin kita takjub, karena di sini tidak terlihat sampah bertebaran. Oleh sebab itu, pengunjung sangat menikmati berwisata ke desa tersebut, selain disuguhi deretan tanaman hijau yang asri, juga terdapat pemandangan gunung yang menyejukkan mata. Tak heran, bila udaranya terasa bersih dan menyegarkan.

Berikutnya lagi, tak menemukan kendaraan bermotor yang hilir mudik. Nah, itulah beberapa keistimewaan yang dimiliki dari desa Penglipuran.

Pulau Bali adalah salah satu destinasi wisata paling terkemuka di Indonesia dan upaya mendorong pemulihan pariwisatanya yang terdampak pandemi COVID-19, maka sepekan ke depan, Bali menjadi headline utama di website Pariwisata Indonesia.

Mengingat, masyarakatnya hampir secara menyeluruh menggantungkan hidup dari pariwisata Ayo Dong ke Pulau Dewata. Yuk!


Sangat pantas jika desa Penglipuran disebut sebagai “Tradisional Balinese Village” karena paripurna dalam menyuguhkan eksotisme dan kebudayaan Bali.

Sudah merencanakan perjalanan ke Bali? Salah satu yang direkomendasikan versi Redaksi Pariwisata Indonesia yang wajib dikunjungi adalah desa Penglipuran. Tertarik ke objek wisata ini, Sob?(Eh)