Takjubnya Desa Penglipuran! Ayo Dong Berlibur ke Pulau Dewata…

Mengapa banyak wisatawan tertarik berlibur ke pulau Bali? Pertanyaan ini kerap muncul terutama bagi mereka yang pertama kali berlibur ke Pulau Dewata. Bali adalah salah satu destinasi wisata paling terkemuka di Indonesia dan jangan lupa untuk menyempatkan mampir ke objek wisata satu ini, yakni desa Penglipuran. Tak lengkap rasanya bila belum ke lokasi primadona pariwisata di Bali ini. Simak ulasan lengkapnya.
Umi Kalsum Founder dan CEO PVK Group,ARTI DESA PENGLIPURAN,BALI DIANUGERAHI PENGHARGAAN DESTINASI WISATA TERFAVORIT DUNIA NOMOR SATU VERSI PEMBACA MEDIA PVK GROUP DI TAHUN 2020,DESA PENGLIPURAN,DESA PENGLIPURAN SEBAGAI TRADISIONAL BALINESE VILLAGE,MEDIA ONLINE PARIWISATA INDONESIA TERFAVORIT 2020,MEDIA PVK GROUP,MEDIA PVK GROUP DENGAN 10 SITUS PARIWISATA DAN E MAGAZINE,PARIWISATA INDONESIA
Desa Penglipuran di Bali, (Dok. Instagram Sesesvana)

PariwisataIndonesia.id – Sungguh besar karunia Tuhan kepada negeri Indonesia, memancarkan kekayaan alam dengan pesonanya yang cantik dan tersebar dari Sabang sampai Merauke. Oh bahagianya, semua terasa bak surga dunia. Kita patut bersyukur dan menjaganya bersama-sama.

Salah satu destinasi wisata di negara kita yang begitu indah dan sudah mendunia bahkan selalu bikin rindu ingin terus datang kembali adalah Bali.

Mengapa banyak wisatawan tertarik berlibur ke pulau Bali?

Pertanyaan ini kerap muncul terutama bagi mereka yang pertama kali berlibur ke Bali. Sobat Pariwisata, pulau Bali adalah salah satu destinasi wisata paling terkemuka di Indonesia.

Selain menyuguhkan segudang pantai yang eksotik terdapat juga banyak pilihan tempat wisata seru lainnya, dari harga termurah sampai akomodasi lainnya yakni resor termewah tempat menginap Raja Salman di Bali.

Termasuk kuliner tradisional; berbagai aktivitas seni dan budaya, tentunya membuat banyak wisatawan kepincut untuk liburan bersama pasangan, keluarga tercinta, dan kerabat.

Bahkan Bali terkenal secara global sebagai tempat meeting. Tak jarang, sejumlah pertemuan bisnis dan pekerjaan dilakukan dari Bali karena mereka merasakan aman dan nyaman saat berada di Pulau Dewata.

Sebelum menyuguhkan tempat wisata di Bali yang paling favorit versi redaksi Pariwisata Indonesia, jangan lupa untuk menyempatkan mampir ke objek wisata satu ini, yakni desa Penglipuran.

Desa ini memang populer, tak lengkap rasanya bila belum ke lokasi primadona pariwisata di Bali ini.

Pasalnya, digadang-gadang meraih predikat sebagai salah satu desa terbersih di dunia yang terletak di Kabupaten Bangli, Provinsi Bali, Indonesia.

Menelisik asal muasal namanya, berasal dari kata ‘pelipur’ dan ‘lara’, artinya desa ini dimaknai sebagai pelipur lara untuk bangkit dan mengusir rasa sedih.

Makna lainnya juga berasal dari kata ‘pangleng’ dan ‘pura’ yang artinya tempat yang dikellilingi oleh pura dari empat penjuru mata angin sebagai pengingat warisan para leluhur.

Menelusuri kehidupan masyarakatnya, mereka sangat melestarikan budaya tradisional Bali.

Hal itu, dapat dilukiskan melalui arsitektur bangunan dan pengolahan lahan masih mengikuti konsep Tri Hita Karana.

Makna filosofis di balik Tri Hita Karana adalah masyarakat di sini sangat meyakini unsur keseimbangan hubungan antara Tuhan, manusia, dan lingkungan.

Pengejawantahan terhadap nilai budaya yang terkandung pada Tri Hita Karana berarti tiga penyebab terciptanya kebahagiaan.

Pada akhirnya, terwujudlah kehidupan yang harmonis meliputi pembangunan manusia seutuhnya yang astiti bakti terhadap Tuhan Yang Maha Esa, cinta kepada kelestarian lingkungan serta rukun dan damai dengan sesamanya.

Objek wisata ini menjadi pilihan yang sangat direkomendasikan karena pariwisatanya berjalan berdampingan.

Semua pihak pun merasa diuntungkan, masyarakat dan wisatawan saling mengisi satu sama lain. Tanpa harus menghilangkan budaya dan tradisi yang sudah terjadi secara turun temurun.

Menurut keterangan resminya, disebutkan sejak tahun 1993, Pemerintahan Bali mulai mempromosikan desa Penglipuran menjadi salah satu objek wisata terfavorit.

Di mana, desa ini berhasil membangun “Pariwisata berbasis Komunitas”, alasan lainnya, guna menghindari kapitalisme pariwisata di desa tersebut.

Melalui konsep tersebut, diharapkan semua pihak turut mendapatkan manfaat dari pariwisata ini, bahkan sebagian keuntungan didonasikan untuk pembangungan desa.

Sejak saat itu, pemandu wisata; penjaga tiket: dan petugas lainnya atau mereka yang terlibat di sini, dipekerjakan langsung oleh desa, dan turut memperoleh bayaran dari jumlah keuntungan yang didapat dari kunjungan wisatawan atau dengan kata lain “berkonsep bagi hasil”.

Sebelumnya, masyarakat desa Penglipuran memperoleh pendapatan dari jasa pemandu wisata saat kunjungan turis bertandang ke pekarangan, mereka menjelaskan tradisi dan budaya yang mendiami desa itu.

Namun, dikritik lantaran dianggap tidak memenuhi rasa keadilan karena pekarangan yang jauh dari pintu utama cenderung mendapatkan lebih sedikit kesempatan.

Alhasil, diubahlah dengan konsep baru. Semua pekarangan diberi nomor urut dan pemandu wisatanya pun juga mengalami hal serupa. Skemanya bergilir, urut kacang.

Seiring waktu, pariwisata ini pun semakin berkembang dan terus disempurnakan. Pemerintah Provinsi Bali juga turut menyokong berdirinya homestay, pada zaman itu menjamurnya homestay tak seperti sekarang.

Berikutnya lagi, berdasarkan hasil musyawarah desa lahirlah keputusan, antara lain: Setiap rumah diberikan kesempatan untuk menawarkan suvenir di pekarangan masing-masing; setiap suvenir yang terjual diberikan kembali untuk mendukung pembangunan desa, semisal dipatok Rp 5 ribu/item disumbangkan untuk desa.

Hal ini, tentu saja membawa dampak yang positif karena membangkitkan sektor ekonomi di desa tersebut dan objek wisata ini masih kental nuasa Bali asli dan belum banyak mendapatkan pengaruh modern.

Hal lain dari profil masyarakat yang mendiami desa ini, selain memiliki budaya untuk senantiasa menghormati alam, penduduk desa Penglipuran pun sangat menjunjung tinggi kehormatan wanita.

Mengapa? Karena, aturan di desa tersebut melarang pria untuk melakukan poligami, jika kedapatan begitu maka diberikan sanksi sosial, seperti menerima hukuman dengan dikucilkan dari desa.(Eh)

Selanjutnya  >>>  Ajak Semua Pihak Dorong Pemulihan Ekonomi Bali, Desa Penglipuran sebagai Tradisional Balinese Village