Mendaki Batu Legenda, Berburu Spesies Langka

Bukit Kelam, Meteor atau Perbuatan Orang Sakti?
Pariwisata Indonesia, Artikel Pariwisata Indonesia, Berlibur di Indonesia Aja, Panduan Pariwisata di Indonesia, Pariwisata Indonesia 2022, Foto Pendakian ke Gunung Kelam, Foto Bukit Kelam, Batu Daya di Kalimantan Barat, Umi Kalsum Founder dan CEO Media PVK Group, PT Prima Visi Kreasindo, Situs Pariwisata Indonesia, Media Online Pariwisata Indonesia, Mitos Bukit Kelam, Cerita di Balik Legenda Bukit Kelam, Anita Basudewi Simamora, Bukit Kelam termasuk dalam sepuluh monolit terbesar di dunia
Bukit Kelam termasuk dalam sepuluh monolit terbesar di dunia, dan gunung batu raksasa yang berdiri gagah perkasa di Tanah Borneo ketinggiannya mencapai 1.002 mdpl, terletak di di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. (Ilustrasi gambar: Media PI/Sumber foto milik Zhilal Darma)

Halo, Gaes!

Kalo ngaku sebagai pecinta olahraga panjat tebing, gue punya rekomendasi tempat yang harus lo daki. Bukit Kelam namanya. Seperti namanya, bukit ini emang memiliki warna hitam yang eksotis.

Bukit Kelam berlokasi di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, atau berjarak 20-an kilometer dari pusat kota Sintang.

Walaupun menyandang nama bukit, Bukit Kelam bukan berasal dari tanah. Melainkan, merupakan batu monolit ‘segede gaban’ yang tentunya berbeda dengan kebanyakan bukit-bukit yang ada di Tanah Air.

FYI, Bukit Kelam (atau Gunung Kelam) termasuk dari sepuluh monolit terbesar di dunia adalah gunung batu raksasa yang berdiri gagah perkasa di Tanah Borneo dengan ketinggian mencapai 1.002 mdpl.

Oleh karena itu, taman wisata alam yang sejuk ini -bentukan kerak bumi (geologis)- sayang banget untuk lo lewatkan. Terutama bagi para pecinta adventure, rasakan sensasi memacu adrenalin saat mendaki Bukit Kelam.

Menariknya lagi, nih, Gaes, di sepanjang perjalanan, lo pun akan disuguhkan pemandangan alam yang kece badai, mulai dari sungai dan sawah luas membentang di kaki Bukit Kelam hingga perkebunan kelapa sawit, pisang, dan karet.

Tak ubahnya dengan tempat-tempat lain yang ada di negeri yang kita cintai dan banggakan ini, keberadaan Bukit Kelam juga enggak jauh-jauh dari legenda dan mitos. Hingga kini, sebagian masyarakat setempat masih percaya bahwa Bukit Kelam adalah hasil perbuatan ‘seorang sakti’.

Mengawali mitos ini, ada dua orang pemimpin yang sakti mandraguna keturunan dewa bernama Bujang Beji dan Temenggung Marubai. Meski sama-sama pemimpin, keduanya punya sifat yang bertolak belakang.

Temenggung Marubai adalah pria rendah hati dan penolong, sedangkan Bujang Beji digambarkan sebagai sosok sebaliknya, yaitu pendengki dan tamak. Selain berladang dan berkebun, Temenggung Marubai dan Bujang Beji juga menjadikan tangkapan ikan sebagai mata pencaharian yang sama.

Masih dari cerita rakyat yang sudah melegenda ini, untuk wilayah penangkapan ikan Temenggung Marubai berada di Sungai Melawai, sedangkan Bujang Beji di Sungai Kapuas.

Karena perbedaan karakter masing-masing, mereka memiliki cara menangkap ikan yang saling berlawanan. Temenggung Marubai menangkap ikan menggunakan bubu (perangkap ikan) atau memfokuskan pada tangkapan ikan-ikan berukuran besar saja dan membebaskan ikan-ikan kecil agar bisa tumbuh dan berkembang biak. Sehingga ikan di Sungai Melawai tidak habis.

Sementara Bujang Beji, pilih menangkap ikan sebanyak-banyaknya. Saking serakahnya, dia menghalalkan segala macam cara, di antaranya dengan menabu atau menggunakan racun dari akar tabu. Hasil tangkapannya tentu jauh lebih banyak ketimbang Temenggung Marubai, tapi ikan di Sungai Kapuas akhirnya semakin langka.

Di saat-saat hasil tangkapan ikan Bujang Beji kian sedikit, Temenggung Marubai justru masih bisa menangkap ikan dalam jumlah banyak.

Nah, perseteruan inilah yang menjadikan asal mula di balik legenda Bukit Kelam itu, Gaes.

Bujang Beji timbul iri pada Temenggung Marubai dan berniat menutup aliran hulu yang mengalir ke arah Sungai Melawai agar tak bisa lagi menangkap ikan.

Untuk menutup aliran sungai, Bujang Beji mengambil sebongkah batu dari puncak Nanga Silat, lalu mengikatnya dengan tujuh lembar daun ilalang.

Ketika hampir sampai di hulu sungai, dirinya mendengar suara tawa para perempuan, dan di tengah aksi jahatnya itu, Bujang Beji mendongak ke langit.

Ternyata, para dewi yang berada di khayangan menyaksikan siasat bulus Bujang Beji, dan menertawakannya.

Singkatnya, kaki Bujang Beji menginjak duri beracun. Alhasil, batu yang sedang digendong pun terjatuh dan dia berusaha keras mencongkel batu itu. Namun karena menghujam terlalu dalam, batu pun sulit diangkat. Batu itulah yang sekarang dinamakan Bukit Kelam.

Pariwisata Indonesia, Artikel Pariwisata Indonesia, Berlibur di Indonesia Aja, Panduan Pariwisata di Indonesia, Pariwisata Indonesia 2022, Foto Pendakian ke Gunung Kelam, Foto Bukit Kelam, Batu Daya di Kalimantan Barat, Umi Kalsum Founder dan CEO Media PVK Group, PT Prima Visi Kreasindo, Situs Pariwisata Indonesia, Media Online Pariwisata Indonesia, Mitos Bukit Kelam, Cerita di Balik Legenda Bukit Kelam, Anita Basudewi Simamora, Bukit Kelam termasuk dalam sepuluh monolit terbesar di dunia
Rasakan sensasi olahraga panjat tebing di Bukit Kelam yang siap memacu adrenalin saat menaklukkan gunung batu raksasa yang merupakan salah satu taman wisata alam paling ikonik di Kalimantan Barat. (Foto kompilasi dari berbagai sumber).

Selain kisah tentang Bujang Beji ini, ada pula yang mengatakan bahwa Bukit Kelam merupakan batu meteor yang jatuh di daerah Singkang. Hal tersebut didukung dengan penelitian yang menyatakan bahwa pecahan batu Bukit Kelam memiliki unsur batu meteor. Terlepas dari beragam kisah yang melatarbelakangi, Bukit Kelam emang layak untuk dikunjungi dan didaki.

Untuk sampai ke puncaknya, lo bisa menaiki tangga batu. Kemudian dilanjutkan dengan mendaki tangga besi yang ada di tebingnya. Terjalnya medan pendakian, sampai-sampai kemiringan tangga besi ada yang mencapai 15-40 derajat, loh.

Lima hingga enam jam adalah total waktu yang lo butuhin untuk sampai di puncak Bukit Kelam. Meski begitu, pemandangan di puncaknya sangat worth it. Lo pun enggak hanya menikmati kota dengan bentangan hijau mempesona yang ada di bawahnya.

Menginap dan berkemah adalah hal lainnya yang harus juga lo lakuin saat menanti semburat cahaya matahari di pagi hari berpadu dengan kumpulan awan putih mewarnai cakrawala Bukit Kelam ini.

Hamparan awan putih sejauh mata memandang, juga bikin lo berasa ada di negeri awan. Keren banget, Gaes!

Di kawasan ini, lo pun bisa menemukan anggrek hitam dan sekitar 14 spesies kantung semar, yang salah satunya (Nepenthes clipeata) terancam punah. Kalo beruntung, lo juga bisa bertemu dengan kelelawar, wallet, trenggiling, hingga beruang madu. Seru, kan?

So, kalau berlibur ke Kalimantan Barat, jangan lupa mampir di Bukit Kelam, ya Gaes. (Anita)

Pewarta:  Anita Basudewi Simamora
COPYRIGHT © PI 2022