Lebih Dekat dengan Suku Dayak di Desa Budaya Pampang

Pariwisata Indonesia, Artikel Pariwisata Indonesia, Berlibur di Indonesia Aja, Panduan Pariwisata di Indonesia, Pariwisata Indonesia 2022, Umi Kalsum Founder dan CEO Media PVK Group, PT Prima Visi Kreasindo, Situs Pariwisata Indonesia, Media Online Pariwisata Indonesia, Anita Basudewi Simamora, PARIWISATA BERBASIS BUDAYA,PARIWISATA DI INDONESIA Paling Ngehits,PARIWISATA KALIMANTAN TIMUR,DESA BUDAYA PAMPANG KALIMANTAN TIMUR, Lebih Dekat dengan Suku Dayak di Desa Budaya Pampang, Pengalaman Liburan di Desa Budaya Pampang
Ilustrasi gambar: Desa Budaya Pampang terletak di Samarinda Utara, Kalimantan Timur. (Foto: Media PI/Sumber Dok. Instagram Henny Binkzbonkz)

Halo, Gaes!

Sebagai negara yang terdiri dari beragam suku bangsa, Indonesia emang kaya akan adat budaya yang unik serta eksotis.

Nah, khusus lo si pecinta wisata budaya, gue punya rekomendasi destinasi wisata di Samarinda yang sayang banget kalo sampai lo lewatin. Namanya Desa Wisata Budaya Pampang.

Desa Pampang yang diresmikan sebagai desa budaya sejak tahun 1991 ini, terletak di Samarinda Utara, Kalimantan Timur. Lo cuma butuh perjalanan sekitar 23 kilometer dari pusat Kota Samarinda untuk sampai ke sini. Sesuai namanya, di desa ini lo bisa melihat berbagai macam budaya milik Suku Dayak.

Memasuki Desa Wisata Budaya Pampang, lo bisa melihat Lamin Adat Pamung Tawai yang merupakan rumah adat Suku Dayak.

Oh ya, Gaes, bahan dasar yang digunakan untuk membangun rumah ini adalah kayu ulin atau kayu besi. Berbeda dengan jenis kayu lain yang akan rapuh dimakan usia, cuaca, dan rayap, kayu ulin justru akan semakin kuat dan awet seiring perjalanan waktu. Keren, kan?

Di rumah adat ini lo akan mendapati ukiran-ukiran khas Dayak yang ada di dinding, atap, hingga kaki-kaki rumah. Ukiran-ukiran ini juga punya makna masing-masing, dari kepemimpinan hingga hubungan dengan sesama manusia yang harus dijaga.

Selain rumah adat, lo juga bisa berjumpa dengan tetua adat dan penduduk asli Suku Dayak. Jangan ragu untuk berfoto dan berbincang dengan mereka karena lo akan disambut dengan sangat ramah.

Sebagian dari penduduk ini masih mempertahankan tradisi nenek moyang Suku Dayak, seperti memanjangkan telinga.

FYI, tradisi memanjangkan telinga dapat menggambarkan usia seseorang, perlambang kecantikan, dan ujian untuk melatih kesabaran dalam hidup.

Tradisi lain yang dipertahankan sebagian penduduk Desa Wisata Budaya Pampang adalah mentato tubuh. Tato ini sendiri tidak sembarangan dibuat karena memiliki makna filosofis seperti penunjuk atas status sosial.

Budaya lain yang bisa lo nikmati saat berada di Desa Pampang adalah pagelaran seni tari. Oleh karena itu, hari Minggu adalah waktu yang tepat untuk berkunjung karena di hari libur tersebut, tepatnya pukul 14.00-15.00 WITA, kerap digelar pertunjukan tarian-tarian adat Suku Dayak Kenyah.

Beberapa tarian yang bisa lo nikmati misalnya Tari Kanjet Ayam Tali yang menggambarkan keberagaman sub suku Dayak yang hidup berdampingan secara damai, Tari Kancet Udo yang menggunakan topeng sebagai pelambang pengusiran terhadap roh jahat, Tari Selamat Datang Nyalama Sakai, hingga Tari Papaga yang melambangkan perangkap untuk menjepit kepala burung pipit yang suka memakan bulir padi di ladang.

Desa Wisata Budaya Pampang juga kerap melakukan Festival Seni Budaya Dayak Kenyah untuk memperingati hari ulang tahun desa dan setelah panen besar di antara bulan Mei dan Juni. Di waktu-waktu tersebut, desa ini akan sangat ramai oleh pengunjung baik lokal maupun asing yang ingin menyaksikan pagelaran budaya yang keren-keren.

Petualangan di Desa Wisata Budaya Pampang tentunya akan lebih komplit kalo ditutup dengan pembelian oleh-oleh atau cinderamata. Tenang aja, Gaes! Di desa wisata ini juga tersedia pusat souvenir yang merupakan kerajinan asli penduduk Desa Pampang. Lo bisa menemukan beragam cinderamata seperti tas, baju, patung-patung kecil, aneka gelang, kalung, ikat kepala, hingga berbagai atribut khas Dayak.

Gimana, Gaes? Seru, kan? So, saat berkunjung ke Samarinda, jangan lupa mengunjungi Desa Wisata Budaya Pampang, ya. (Anita)

Pewarta:  Anita Basudewi Simamora
COPYRIGHT © PI 2022