Mengarungi Waduk, Menikmati Pesona Borneo

Pariwisata Indonesia, Artikel Pariwisata Indonesia, Berlibur di Indonesia Aja, Panduan Pariwisata di Indonesia, Pariwisata Indonesia 2022, Umi Kalsum Founder dan CEO Media PVK Group, PT Prima Visi Kreasindo, Situs Pariwisata Indonesia, Media Online Pariwisata Indonesia, Anita Basudewi Simamora, Indahnya Pesona Waduk Riam Kanan di Kalimantan Selatan, PARIWISATA DI INDONESIA Paling Ngehits,PARIWISATA TERFAVORIT Di KALIMANTAN SELATAN, DESTINASI WISATA ALAM DI KALSEL, Pengalaman Liburan di WADUK RIAM KANAN
Foto udara: Indahnya pesona Waduk Riam Kanan dilihat dari Bukit Matang Keladan, Kalimantan Selatan. (Sumber: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi)

Halo, Gaes!

Lo mungkin udah enggak asing lagi sama kata waduk. Kolam raksasa buatan ini emang udah ada dari dulu. Bahkan di Indonesia sendiri, waduk-waduk udah mulai dibangun sejak zaman kolonial Belanda.

Waduk atau bendungan punya banyak fungsi, Gaes. Selain untuk menata air, mencegah erosi dan banjir, waduk juga bisa difungsikan untuk pembangkit listrik tenaga air atau PLTA. Ini penting banget untuk sumber pasokan listrik di suatu daerah.

Eits, ternyata selain fungsi-fungsi utama tadi, waduk juga bisa dimanfaatkan sebagai destinasi wisata, loh. Salah satu contohnya adalah Waduk Riam Kanan ini.

Waduk Riam Kanan terletak di Kecamatan Aranio, Kabupaten Martapura, Kalimantan Selatan. Waduk ini mulai dibangun sejak tahun 1963 atas gagasan Pangeran M. Noor yang saat itu menjadi Gubernur Kalimantan Selatan yang pertama. Setelah pembangunan selama 10 tahun atau tepatnya di tahun 1973, waduk ini pun diresmikan oleh Presiden Soeharto.

Untuk membangun Waduk Riam Kanan, pemerintah harus membendung delapan sungai yang airnya berasal dari kawasan Pergunungan Meratus. Selain itu, sembilan desa pun harus rela ditenggelamkan untuk menampung air bendungan. Meski begitu, pembangunan waduk sekaligus PLTA pertama di Kalimantan ini menjadi sumber listrik yang memenuhi kebutuhan listrik masyarakat Banjarmasin dan sekitarnya.

Memiliki luas 9.730 hektar, Waduk Riam Kanan menjadi salah satu bendungan terbesar yang ada di Indonesia. Dengan luas sebesar itu, menikmati waduk dengan kelotok (perahu kayu tradisional Kalimantan) atau ketinting (sejenis sampan) bisa menjadi pilihan yang tepat buat lo. Vibes-nya seakan-akan sedang mengarungi danau dan lautan, loh.

Selain menikmati pemandangan waduk dari atas perahu, lo juga bisa mampir ke spot-spot wisata di sekitar waduk. Misalnya, Pulau Rusa yang berada di tengah waduk. Di sini lo bisa melihat berbagai jenis rusa dan hewan lain.

Selain Pulau Rusa, di tengah waduk ini juga terdapat Pulau Pinus 1 dan Pulau Pinus 2. Sesuai namanya, di tempat ini lo bisa menikmati atmosfer hutan pinus yang benar-benar adem. Selain suasana teduh yang bisa buang penat jauh-jauh, tempat ini cocok buat lo yang suka fotografi karena pemandangannya yang eksotis.

Buat lo yang punya hobi mancing, Waduk Riam Kanan adalah tempat yang wajib didatangi. Lo bisa menyalurkan hobi dengan memancing dari atas perahu atau pinggiran waduk. Sst, ikan-ikan di sini digadang-gadang punya kadar kolesterol paling rendah, loh. Selain itu, lo bisa mendapatkan banyak ikan nila dengan ukuran besar di waduk ini. Tinggal nyiapin kayu bakar untuk memanggang ikan, kan?

Memiliki area hijau dan sumber air yang dekat membuat kawasan Waduk Riam Kanan cocok untuk kegiatan camping. Sambil berkemah, lo bisa menyaksikan sunset atau sunrise yang indah di sini. Salah satu spot yang sering digunakan sebagai area camping, yaitu Wisata Atawang.

Spot lain yang enggak boleh lo lewatkan saat berada di waduk ini adalah Bukit Batas. Di ketinggian ini, lo bisa melihat sisi lain dari Waduk Riam Kanan yaitu perairan dengan gugusan pulau di tengahnya. Mirip-mirip Raja Ampat.

Gimana, Gaes? Udah penasaran belum dengan tempat ini. Kalo ingin berkunjung ke Waduk Riam Kanan, lo cuma butuh perjalanan sekitar 1 jam dari pusat Kota Banjarbaru menuju Pelabuhan Tiliwang. Di pelabuhan ini, lo bisa mulai menyewa perahu untuk mengantar petualangan di Raja Ampat-nya Borneo. (Anita)

Pewarta:  Anita Basudewi Simamora
COPYRIGHT © PI 2022