Biasanya kuah beulangong dimasak dalam jumlah besar untuk perayaan hari-hari besar agama. (Foto : cdn.visiteliti)

Gurih Pedas si Kuah Beulangong

Kuliner Unik dari Aceh Besar

Kuliner Unik dari Aceh Besar

Halo, Gaes!

Jalan-jalan ke destinasi Pariwisata Indonesia di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam, kurang lengkap rasanya kalo lo belum mencicipi kuliner khasnya. Eits, tunggu dulu! Makanan khas Aceh bukan hanya nasi goreng dan mie Aceh, loh. Provinsi yang memiliki julukan Serambi Mekah ini punya banyak kuliner lezat lain yang harus lo cobain. Salah satunya kuah beulangong.

Kalo dari namanya, lo pasti udah bisa nebak kalo makanan ini memiliki banyak kandungan air. Tebakan lo enggak salah. Kuliner dengan bahan utama daging kambing atau kerbau ini memang memiliki kuah kecokelatan. Mirip-mirip gulai atau tongseng, deh.

Kuliner dengan bahan utama daging kambing atau kerbau ini memiliki kuah kecokelatan. (Foto : sgp1.digitaloceanspaces)

Namun kuliner ini berbeda dengan gulai dan tongseng. Buat nemenin daging kambing atau kerbau, dalam kuah beulangong juga ada nangka muda, pisang kepok muda, hingga jantung pisang. Nah! Untuk bahan tambahan tadi bisa dicampurkan lengkap atau dipilih salah satu, sesuai dengan ketersediaan.

Sedangkan untuk nama beulangong yang berarti belanga atau kuali besar diambil karena kuliner ini memang dimasak di kuali berukuran super besar agar cukup untuk dimakan oleh banyak orang. Biasanya, kuali yang digunakan adalah kuali besi yang akan membuat panas lebih merata sehingga daging lebih cepat masak. Selain itu, warna yang dihasilkan pun lebih menarik dibanding menggunakan kuali jenis alumunium.

Biasanya kuah beulangong dimasak dalam jumlah besar untuk perayaan hari-hari besar agama seperti Idul Fitri, Idul Adha, Maulid Nabi, Tahun Baru Islam, dan lainnya. Kenduri atau perjamuan di hari-hari besar tersebut bakalan kurang lengkap kalo enggak ada kuliner yang satu ini.

Uniknya, masyarakat Aceh Besar meyakini bahwa yang harus mengolah dan memasak kuah beulangong adalah kaum pria. Saat memasak bersama, para pria ini akan bertatap muka sembari bertukar cerita hingga bisa mengeratkan hubungan antar mereka.

Selain itu, ada beberapa aturan lain yang harus dilakukan saat memasak kuah beulangong. Misalnya proses mengaduk kuah beulangong harus dilakukan berlawanan arah jarum jam sambil melantukan shalawat kepada Nabi Muhammad saw.

Kuah beulangong diduga merupakan dipengaruhi oleh budaya India saat para pedagang Gujarat datang ke Aceh untuk menyebarkan agama Islam. Hal itu bisa terlihat dari penggunaan rempah-rempah yang mirip bumbu kari, salah satu kuliner dari Negeri Taj Mahal.

Beberapa bumbu yang digunakan untuk memasak kuah beulangong adalah cabe rawit, cabe keriting, cabe besar, jahe, bawang putih, kemiri, kunyit, kapulaga, kayu manis, ketumbar, lada, dan garam. Selain rempah-rempah tadi, bahan yang wajib ditambahkan dalam kuah beulangong adalah kelapa gongseng. Bahan ini merupakan kelapa parut yang disangrai (digoreng tanpa minyak) hingga kecokelatan kemudian digiling. Penambahan kelapa gongseng membuat kuah beulangong memiliki cita rasa gurih.

Kebayang, dong, cita rasa gurih, asin, dan pedas bercampur jadi satu? Lezat banget! Enggak heran kalo kuliner yang satu ini banyak diburu bukan hanya oleh masyarakat setempat, tapi juga pecinta kuliner yang dari luar daerah. Yup! Lo enggak perlu menunggu perayaan hari besar agama karena saat ini sudah banyak restoran yang menjadikan kuah beulangong sebagai salah satu menu mereka.

Oh ya, Gaes! Selain lezat, kuah beulangong juga sudah tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia sejak tahun 20088, loh. So, saat mengunjungi destinasi Pariwisata Indonesia di Aceh, jangan lupa untuk mencicipi kuah beulangong, ya.

Pewarta:  Anita Basudewi Simamora
COPYRIGHT © PI 2022