Keluarga Cendana Turut Melestarikan Budaya (Seri-1)

Museum HM Soeharto, Pariwisata Indonesia

Redaksi www.pariwisataindonesia.id menurunkan tiga seri tulisan dan melakukan liputan secara khusus. Wartawan kami, berhasil melakukan wawancara Gatot Nugroho selaku nara sumber pertama, Kepala Pengelola Museum HM Soeharto. Redaksi mengulas tekad dan peran Keluarga Cendana yang memberi bukti bukan janji untuk Ibu Pertiwi dalam perspektif kebudayaan dan pariwisata di tanah air.

Siapa yang tidak mengenal Jenderal Besar TNI (Purn.) H. M. Soeharto, Presiden RI kedua ini merupakan tokoh besar yang berperan penting dalam pembangunan Indonesia. ‘Piye le, isih penak jamanku toh?’ (Terjemahan: Bagaimana nak, masih enak jamanku bukan?). Guyonan ini sering kita dapati di banyak poster sampai bak belakang truk. Slogan kerinduan rakyat pada sosok mendiang Pak Harto dulu, begitu ia biasa disapanya. Dan dikenal sebagai Bapak Pembangunan!

Merespon rasa rindu tersebut, Alm. Probosutedjo selaku adik dari Pak Harto menawarkan diri. Ia menginisiasi bersama banyak tokoh waktu itu dan mengajak kepada Siti Hardijanti Rukmana yang akrab dipanggil Mbak Tutut, putri pertama Soeharto untuk mendirikan Museum Memorial Jendral Besar HM Soeharto yang diresmikan pada 8 Juni 2013. Pada hari yang sama, bertepatan hari ulang tahun Presiden kedua Indonesia tersebut. Museum yang terletak di Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Sleman dibangun di atas tanah milik keluarga Soeharto seluas 3.620 m2.

Peresmian Museum, Pariwisata Indonesia
Peresmian Museum HM Soeharto, (Foto: Istimewa)

Dalam liputan dan kunjungan ke Museum HM Soeharto, wartawan pariwisata indonesia, Bahrul Ulum mewawancara Gatot Nugroho. Sumber berita diperoleh dari Gatot dan mengatakan, “Biasanya untuk para tamu diberikan semangat atau meningkatkan motivasi, rasa cinta mereka terhadap tanah air serta wawasan semangat kebangsaan,” ujar Gatot Nugroho, Kepala Pengelola Museum HM Soeharto kepada Pariwisata Indonesia, pada Senin(6/Juli).

Redaksi memberikan tempat pilihan berlibur berkonsep wisata edukasi. Bosan dengan suasana perkotaan, wisata di tempat ini bisa jadi pilihan alternatif saat New Normal dengan kunjungi Museum HM Soeharto. Terdapat tiga buah gedung dan dua buah pendopo. Pertama adalah Gedung Atmosudiro, dinamakan sesuai nama kakek Bapak Pembangunan. Gedung ini berisi diorama perjalanan karir Soeharto, mengenang jasa dan pengabdian Soeharto semasa hidupnya untuk bangsa Indonesia. Serta menginspirasi generasi muda untuk semangat Nasionalisme. Pengunjung bisa melihat mulai dari siasat Serangan Umum 1 Maret sampai Pemberontakan PKI.

Kemudian agak ke bagian utara terdapat gedung Notosudiro. Gedung Notosudiro adalah gedung khusus yang tidak diperuntukan untuk umum. Penamaan gedung tersebut dikarenakan memang dulu gedung itu merupakan kediaman dari kakek, dan kakek buyut dari Presiden Soeharto. Dua pendopo pada museum ini adalah pendopo utama di mana pengunjung akan diberikan tontonan perjalanan hidup dari Sang Bapak Pembangunan.

Berlibur ke Museum HM Soeharto akan diberikan pemandu dengan bekal khusus oleh pengelola. Para pemandu berbicara dengan menjelaskan sesuai urutan dari mulai kunjungan hingga selesai wisata edukasi. Pemandu disesuaikan dengan usia tamu yang berkunjung. Gatot menjelaskan, “Kalau tamunya anak TK, kami menggunakan pembicara yang biasanya menangani anak-anak. Setelah mengenalkan sosok ‘bapak’ secara umum, biasanya anak-anak kami ajak bermain di situ (sambil menunjuk pendopo kecil yang menjadi petilasan bekas rumah Soeharto kecil).” kata Gatot meyakinkan.

Sesuai arahan pemerintah pusat dan perintah Gubernur DIY, selama masa pandemi Covid-19, museum kondisinya tutup. Semua akses berkunjung total berhenti, tidak ada aktivitas. 

Gubernur DIY, Pariwisata Indonesia
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X (Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom)

Secara terpisah, dikatakan Gubernur DIY, Sri Sultan HB X saat berbicara kepada waratawan mengatakan, “Silahkan kabupaten dan kota di DIY untuk membuka kembali aktivitas pariwisata. Namun, penerapan protokol kesehatan harus dilakukan dengan ketat dan pencatatan identitas pengunjung yang masuk ke DIY harus dilakukan,” ucap Sultan di Yogyakarta(2/7).

Tepatnya pada tanggal 3 Juli 2020 Museum HM Soeharto menyatakan diri membuka kembali akses berkunjung, tetapi wajib melakukan protokol kesehatan. Tamu yang berkunjung diharuskan membuat perjanjian terlebih dulu. Selain membatasi jumlah kunjungan wisatawan. Museum HM Soeharto masih menerapkan social distancing.

Berlaku pada semua pengunjung dan karyawan untuk pemeriksaan suhu tubuh menggunakan thermal gun. Pengelola juga menyediakan wastafel dan hand sanitizer di beberapa titik. Diwajibkan menggunakan masker. Upaya ini dilakukan pengelola Museum dalam pencegahan penularan Covid-19. Memastikan Museum aman. Setiap selesai kunjungan disemprotkan cairan disinfektan lalu dibersihkan. Kesehatan pengunjung jadi prioritas utama dan semua bagian dari pelayanan yang diberikan untuk wisatawan.

Museum HM Soeharto, Pariwisata Indonesia
Mushola Museum HM Soeharto, (Foto: www.pariwisataindonesia.id/Bahrul Ulum)

Museum yang dikelola oleh Yayasan Wangsa Manggala memiliki istimewa yang tidak dimiliki oleh museum lain. Jika objek wisata biasanya berbayar, disini gratis. Pada umumnya museum punya cerita mistis atau cerita rakyat lalu dikemas dengan menarik. Tetapi Museum di HM Soeharto justru memiliki sumbu filosofis layaknya, sumbu filosofis Kota Yogyakarta. Ditambahkan Gatot, “Jadi di museum ini kita mengangkat unsur tanah, air dan api. Tanah tempat kita bersujud dan berpijak sebagai tempat museum ini didirikan, api tampak pada obor-obor yang dibuat berjejer, kemudian air pada sumur di belakang bangunan ini,” jelas Gatot.

Saat wisata ke sumur tua, dulunya merupakan tempat Soeharto kecil minum dan mandi-mandi. Sehingga pada sumbu filosofis ini menjadi lambang dimulainya kehidupan manusia, tugu obor sebanyak delapan buah dimaknai sebagai lambang dalam kehidupan manusia harus punya semangat juang yang berkobar-kobar. Dan pada bagian akhir wisata tampak Mushola, simbol dari perwujudan manusia harus menyerahkan segala urusan kepada pencipta.

Museum HM Soeharto, Pariwisata Indonesia
Mushola Museum HM Soeharto, (Foto: www.pariwisataindonesia.id/Bahrul Ulum)

Menutup kunjungan Gatot menyampaikan, “Museum HM Soeharto berfokus pada kebermanfaatan pada masyarakat sekitar. Termasuk wisatawan yang berkunjung. Pengunjung digratiskan, makin banyak wisatawan yang datang paguyuban pedagang di depan juga mendapatkan keuntungan dari menjual oleh-oleh. Tukang parkir pun terguyur, rezeki saling bertumpang. Museum semoga mendapatkan doa-doa mereka,” tutup Gatot Nugroho. Dan artikel berjudul ‘Keluarga Cendana Turut Melestarikan Budaya’ adalah tulisan Seri Pertama.