Komang Takuaki Banuartha Suarakan Derita Pengusaha Bali, Tertekan Corona Minta Pajak Diringankan

Ketua DEPETA Asita Bali, Komang Takuaki Banuartha angkat bicara dan maju ke depan menyuarakan perasaan yang dialami rekan-rekannya yang tergabung melalui Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Asosiasi Perusahaan Agen Tur dan Travel Indonesia (ASITA) atau Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies.
PariwisataIndonesia, Ketua DEPETA Asita Bali
Ketua DEPETA Asita Bali, Komang Takuaki Banuartha / Foto: Dok.Media PI

Bali, PariwisataIndonesia.ID – Pariwisata di Bali bak ‘mati suri’ dampak pandemi COVID-19. Sudah tentu, perputaran ekonomi di Pulau Dewata ikut terpuruk. Demi kelangsungan hidup perusahaan, tak sedikit pelaku pariwisata yang terpaksa merumahkan karyawan, menjual aset perusahaan. Terparahnya, ditutup bisnisnya.

Melihat kenyataan tersebut, Ketua DEPETA Asita Bali, Komang Takuaki Banuartha angkat bicara dan maju ke depan menyuarakan perasaan yang dialami rekan-rekannya yang tergabung melalui Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Asosiasi Perusahaan Agen Tur dan Travel Indonesia (ASITA) atau Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies.

Dalam keterangannya kepada Nyoman Sarjana selaku koresponden Pariwisata Indonesia di Bali, Ketua DEPETA Asita Banuartha mengutarakan harapannya.

Lebih lanjut, pihaknya memohon Gubernur Bali turun tangan memperjuangkan nasib seluruh pengusaha pariwisata di Pulau Dewata dengan mengamini usulan, “tidak dulu dibebankan pajak hingga pariwisata di Bali kembali pulih,” pintanya, disampaikan Ketua DEPETA Asita Bali secara langsung kepada Tim Media Pariwisata Indonesia di Denpasar, Bali, Kamis (1/4).

“Bapak Gunernur Bali mohon kami ini diberi keringanan pelaporan pajak kalau perlu seluruh pengusaha di Bali dibebaskan dari pajak selama wabah Covid-19 masih ada,” sambungnya, Ketua DEPETA Asita Bali siap negosiasi.

Mengulik upayanya tersebut, Media Pariwisata Indonesia menanyakan langkah konkrit dari solusi yang diusulkannya itu.

Dijawab Komang Takuaki Banuartha, “Gubernur Bali mesti seimbang. Saya mendukung kebijakan penanganan wabah COVID-19 di Bali diprioritaskan. Tapi, tak lantas di sisi yang lain, menafikan kehadiran dan peran kami yang secara signifikan terbukti ikut menopang pariwisata di Bali,” ujarnya.

Selain itu, terkait kelompok masyarakat Bali yang tergolong marginal juga patut diperhitungkan nasibnya, katanya, tidak sedikit dari mereka saat sekarang, sisa tabungannya mulai terkuras, asetnya mulai ada yang disita dan ditarik pihak leasing akibat menunggak cicilan.

“Pemerintah Daerah tak boleh menutup mata dan membiarkan mereka menjalani kesulitannya sendiri,” imbuhnya.

Pernyataannya tak lantas berhenti di situ, lanjut dia, tak usah dulu menunggu bantuan dari tingkat Pusat. Selain usulan pajak, hal lain yang direkomendasikannya dengan menggalang semua stakeholder untuk bahu membahu dan saling menguatkan di bawah komando pimpinan tertinggi pemerintah setempat.

“Siapa? Tentu Gubernur Bali, itu yang benar!”

Meski begitu, Banuartha tetap meminta masyarakat Bali disiplin patuhi imbauan Presiden Joko Widodo dengan menjaga kesehatan dan menjauhi apa yang dilarang oleh Juru bicara pemerintah untuk penanganan virus corona, Achmad Yurianto.

Ia juga menambahkan, termasuk anjuran yang datang dari Ketua harian Gugus Tugas Percepatan penanggulangan Covid-19 yang juga merupakan Sekretaris Daerah Provinsi Bali, Dewa Made Indra.

Tim Pariwisata Indonesia melaporkan, bahwa pengharapan Ketua DEPETA Asita Bali sebagai sikap waspada dari asosiasi yang dipimpinnya.

Dengan membiarkan pelaku pariwisata di Bali bertahan tanpa sokongan imbas wabah COVID-19 yang tak tahu akan sampai kapan berakhir, ia memaparkan, memiliki konsekwensi dan dikhawatirkan berdampak buruk.

“Jangan dibiarkan berkepanjangan. Sebab, efek kelaparan yang beringas, mohon maaf disinyalir timbulkan kriminal maupun penjarahan di mana-mana,” papar Direktur PT Sari Gumi Bali Tours.

“Tapi saya tetap berkeyakinan dan selalu percaya, yaitu masyarakat Bali terkenal akan keramahtamahan dan budaya ‘ngayah’ (bekerja dengan tulus iklas tanpa mendapatkan imbalan secara material, red),” tambahnya.

Untuk itu, Banuartha berharap melalui Gubernur Bali agar lebih memperhatikan masyarakat yang berpenghasilan rendah yang terdampak COVID-19 dan sejatinya dianggarkan melalui APBD atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.

Saat mewawancarainya, lulusan Diploma Teknik Otomotif dari University of Tsukuba, Jepang, Jurusan Enginering and Electrical Car juga menyoroti bantuan Gubernur Bali bagi pelaku pariwisata di Pulau Seribu Pura.

Salah satu di antaranya, menyebut seperti pemberian sembako agar memantik semangat bagi kelompok masyarakat marginal untuk bertahan dan meringankan bebannya menghadapi wabah COVID-19 ini.

Menutup wawancaranya, Bendahara Umum Bali Golf Club kembali menekankan terkait usulan keringanan pajak terhadap perusahaan yang bergerak di bidang pariwisata sedang diperjuangkan untuk ditindaklanjuti Gubernur Bali dan didorong juga dari jalur diplomasi di forum pertemuan parlemen, seperti di DPRD Bali.

Koresponden Pariwisata Indonesia, Nyoman Sarjana dari Denpasar mewartakan pernyataan pria yang lahir di Denpasar, tanggal 9 April 1975 bukan tanpa tedeng aling-aling.

Hal tersebut, lantaran sudah tidak ada pemasukan, dan sifat dari pajak sendiri wajib dilaporkan sedangkan pihaknya sebagai pengusaha jika terjadi penurunan pajak maka otomatis akan diperiksa. (Ns,Id,Nt)