Pariwisata Indonesia, Berita Pariwisata Indonesia, Trippers, Indonesia Traveler, Media PVK Grup, PT Prima VIsi Kreasindo, Baju Adat Tolaki, Pakaian Adat Buton, Pakaian Adat Suku Muna, Mengenal Baju Adat Nusantara, Indonesia Maju
Selain Buton terkenal akan produksi aspalnya terbesar di Indonesia, destinasi wisata sejarahnya pun tak kalah heboh, yang terdapat di Benteng Keraton Buton adalah terluas di dunia dibangun dengan campuran air putih telur, jepretan foto memadukan Baju Adat Buton dan Destinasi Wisata Sejarah di Benteng Wolio. (Foto: Media PI/Sumber: Instagram)

3 Pakaian Adat Khas Sulawesi Tenggara

Pakaian adat di Provinsi Sultra masih tetap dipakai hingga hari ini, sekaligus mencerminkan identitas bangsa kita suku-sukunya beragam. Jauh sebelum tren fashion internasional atau industri mode dunia yang marak sekarang-sekarang ini, Indonesia sudah lebih dulu mengenal busana yang keren-keren dan tiada duanya. Inilah Kebhinnekaan dan manifestasi dari kebudayaan warisan leluhur kita dulu. Oleh karenanya, negeri ini harus kita bangun dan menjaganya bersama-sama.

Pakaian adat di Provinsi Sultra masih tetap dipakai hingga hari ini, sekaligus mencerminkan identitas bangsa kita suku-sukunya beragam. Jauh sebelum tren fashion internasional atau industri mode dunia yang marak sekarang-sekarang ini, Indonesia sudah lebih dulu mengenal busana yang keren-keren dan tiada duanya. Inilah Kebhinnekaan dan manifestasi dari kebudayaan warisan leluhur kita dulu. Oleh karenanya, negeri ini harus kita bangun dan menjaganya bersama-sama.

1. Baju Adat Tolaki

Baju adat ini biasa dipakai oleh masyarakat dari suku Tolaki. Pada awalnya dipakai oleh para bangsawan, saudagar dan mereka-mereka yang berdarah biru atau status sosialnya merupakan masyarakat terpandang.

Saat ini, baju adat Tolaki siapapun bisa memakainya, dengan kata lain, rakyat biasa tak sedikit pula yang menggunakannya.

Ada dua jenis baju adat Tolaki, yaitu pakaian adat Babu Nggawi dan pakaian adat Babu Nggawi Langgai.

Baju adat Babu Nggawi Langgai untuk busana pengantin pria. Sementara, baju adat Babu Nggawi untuk mempelai wanita.

Kedua pakaian ini, didaulat sebagai baju adat nasional untuk provinsi Sulawesi Tenggara, dan kerap ditampilkan di saat upacara pengantin maupun perhelatan bernuansa formal dan terhormat.

2. Pakaian Adat Buton

Pakaian adat ini terdiri dari sarung dan ikat kepala, motifnya sangat kental berwarna biru. Masyarakat dari suku Buton, umumnya, nggak mengenakan baju, cuma balutan menggunakan kain-kain biasa.

Identitas utamanya, terlihat pada rumbai-rumbai di ikat pinggang. Nah, ini disebut kabokena tanga!

Penggunaan ikat kepala bermotif warna kebiruan, di ulir bertumpuk dan menjadi ciri khas masyarakat dari suku Buton.

Khusus busana wanitanya, memakai baju adat Kombowa yaitu busana adat berkonsep lengan pendek tanpa berkancing. Baju adat ini juga disebut “bia-bia itanu” yang artinya bercorak kotak kecil-kecil.

Untuk menambah kecantikan dan keanggunan mempelai wanitanya, ditambahkan perhiasan seperti cincin, gelang dan anting-anting dengan warna keemasan.

Sudah tentu, memberi kesan glamour dan mewah, apalagi disorot cahaya, semakin berkelap kelip, sehingga aksesori yang melekat di badan mempelai wanita itu terlihat sangat mewah dan memukau.

Kehadiran aksesori tersebut memang buat menambah kemegahan busana mempelai wanita.

3. Pakaian Adat Suku Muna

Pakaian berikutnya adalah busana adat masyarakat dari suku Muna. Mengawali ulasan, memulainya dari baju adat yang dikenakan untuk kaum wanita suku Muna.

Baju adat ini terdiri dari “bhadu, bheta, dan kain” yang dibalutkan di pinggang, disebut simpulan kagogo.

Kemudian, busana yang melekat di badannya, biasanya, berlengan pendek. Sebagian memang ada yang dibuat berlengan panjang.

Menariknya, busananya itu dirancang lentur, jatuh menguntai. Terbuat dari kain satin. Bewarna merah dan ada juga warna biru. Busana wanita “berlengan pendek” disebut “kuta kutango”, dipakai untuk aktivitas keseharian.

Selanjutnya, baju ini diberi hiasan renda pada setiap ujung lengan, dan di lubang leher diberikan hiasan warna kuning emas.

Lalu, di bagian sarungnya, umumnya, berwarna merah, biru, hitam, cokelat, atau warna-warna gelap. Terdiri atas tiga lapisan, untuk lapisan pertama adalah bagian sarung warna putih, yang dililitkan di pinggang. Lapisan kedua, untuk membalut baju, dililitkan di dada.

Terkait busananya yang terlihat menjurai sampai di bawah lutut dan agar tampil lebih sempurna, maka busananya itu kerap dihiasi kalung-kalung bulat. Terbuat dari logam, tak jarang pula yang menyematkan warna keemasan, dihadirkan di pergelangan tangan dan bertahta di leher agar memberi kesan kemewahan.

Semakin lengkap aksesorisnya dan mencolok atau terlihat glamour. Biasanya, wanita tersebut tentu berasal dari keluarga bangsawan. 

Untuk busana prianya, terdiri dari baju (bhadu), sarung (bheta), celana (sala), dan kopiah (songko) atau balutan kain bertumpuk di kepala (kampurui).

Dipakainya untuk aktivitas keseharian, dan pada bagian kepala mirip seperti sorban, yang dibuat mengulir alias memutar dan bertumpuk. Tak jarang pula motifnya bercorak batik.

Untuk di lingkar pinggangnya, dihiasi logam berwama kuning yang direkatkan kuat-kuat, berfungsi sebagai ikat pinggang.

Selain sebagai penguat sarung, juga untuk menyelipkan senjata tajam, dan sarung ini, biasanya berwama merah bercorak geometris lurus-lurus.

Tiga pakaian adat dari Provinsi Sulawesi Tenggara masih tetap dipakai hingga hari ini, sekaligus mencerminkan identitas bangsa kita suku-sukunya beragam.

Jauh sebelum tren fashion internasional atau industri mode dunia yang marak sekarang-sekarang ini, Indonesia sudah lebih dulu mengenal busana yang keren-keren dan tiada duanya.

Inilah Kebhinnekaan dan manifestasi dari kebudayaan warisan leluhur kita dulu. Oleh karenanya, negeri ini harus kita bangun dan menjaganya bersama-sama.