Dalam penjelasannya, di tengah pariwisata Bali yang sedang terpuruk dampak pandemi Covid-19, dan anggota ASITA Bali yang tersebut di SK itu, sekaligus merupakan pelaku pariwisata di Pulau Dewata sedang berusaha kembali bangkit.
Disayangkan sekali, kata Eddy, pengurus DPD ASITA Bali bernasib sama dengan DPD ASITA DKI Jakarta; keduanya dibekukan.
“Ini akibat dari sebuah sebab. Kalau tidak ada sebab, pasti tak ada akibat seperti ini. Sehingga muncullah SK DPP ASITA tentang pembekuan pengurus ASITA Bali.
Bukan ASITA yang dibekukan, tapi pengurusnya. Ditunjuklah Plt. Sebabnya apa? Sederhana sebetulnya. Ada ketidaksinkronan antara DPD ASITA Bali dengan DPP ASITA.
Puncaknya, minggu lalu, DPD ASITA Bali bersurat ke DPP yang isi suratnya adalah mendukung kelompok yang berseberangan dengan DPP ASITA,” ungkapnya.
Dukungan pengurus DPD ASITA Bali yang bertentangan dengan DPP ASITA, Eddy menerangkan, itu terkait Munaslub dan bila mengacu pada AD/ART, Eddy menyebut, yang bisa mengajukan diselenggarakannya Munaslub setidaknya harus 2/3 anggota DPD ASITA.
“Yang paling fatal adalah mendukung kelompok yang berseberangan dengan DPP ASITA. Mereka adalah mantan-mantan anggota ASITA yang merasa tidak puas dengan kepengurusan DPP ASITA pimpinan Dr. N. Rusmiati. Kalau memang ada yang tidak puas, seharusnya dibicarakan di Rakernas atau di Munas. Mereka malah membuat kelompok dan melaporkan DPP ASITA ke pihak berwajib,” paparnya.
Padahal, selaku orang lama di ASITA, Eddy Sunyoto sempat menyarankan DPD ASITA Bali diminta bersabar menunggu hasil pemeriksaan kepolisian. Sayangnya, DPD ASITA Bali tergesa-gesa bersurat ke DPP ASITA. “Dalam aturan organisasi, kalau induk organisasi dilawan tentu ada sanksinya, yaitu pembekuan pengurus DPD ini,” sambungnya.
Menyikapi polemik tersebut, Eddy Sunyoto menekankan anggota DPD ASITA Bali yang tidak terlibat dalam kasus tersebut tetap harus diayomi.
Oleh sebab itu, ditunjuklah Plt. yang bertugas menjadi ‘penyambung lidah’ 400 lebih anggota ASITA Bali ke DPP ASITA.
“Dalam situasi Covid-19 ini dibutuhkan komunikasi yang baik antara DPD ASITA Bali dengan pemerintah. Sekarang seharusnya kita berjuang bersama saat pariwisata secara bertahap dibuka. Ini yang saya sedihkan kenapa ada kejadian seperti ini,” curahnya.
Pemilik “Terima Kasih Indonesia Travel”, juga ingin memberitahukan kepada anggota ASITA Bali tak perlu panik. Menghadapi kondisi yang tengah terjadi ini, katanya tak perlu panik, tetap tenang dan budayakan berpikir arif dan bijak.
Terkait hal tersebut, Eddy pun memohon dukungan semua pihak agar tugas yang diembannya selaku pelaksana tugas dapat berjalan dengan lancar dan sukses.
“Dalam Musda ASITA Bali di awal tahun 2021 kami akan jaring siapa saja yang ingin menjadi ketua DPD. Di situlah nanti akan terpilih ketua yang merupakan pilihan semua anggota dan akan memimpin DPD ASITA 2021-2026,” tutupnya.








































Leave a Reply