Gendang Siantan

Seni Musik Melayu yang Terancam
pariwisata indonesia
gendang siantan Foto warisanbudaya. kemdikbud.go.id

PariwisataIndonesia.id – Sobat Pariwisata, Kepulauan Riau merupakan salah satu provinsi yang kental dengan budaya Melayu. Hal tersebut dapat terlihat dari tradisi, kerajinan tangan, hingga kesenian masyarakat yang merupakan warisan turun temurun dari nenek moyang. Salah satu kesenian yang terdapat di porvinsi yang beribukota di Tanjung Pinang ini adalah Gendang Siantan.

Gendang Siantan adalah seni musik tradisional yang berasal dari Kecamatan Siantan, Kabupaten Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau. Namun, ada pula yang mengatakan bahwa kesenian ini berasal dari Kecamatan Palmatak, Kepulauan Anambas. Kesenian berupa kumpulan alat musik tradisional ini diperkirakan telah ada sejak abad ke-13 Masehi.

Pada awalnya, Gendang Siantan hanya terdiri dari sebuah gendang panjang yang dimainkan dengan pukulan tidak beraturan. Seiring perkembangan, kesenian ini memiliki banyak pengaruh dari berbagai budaya seperti Melayu Deli, Dayak, Bugis, India, hingga Eropa. Contohnya, pola pukul gendang yang mirip seperti gendang India, penambahan alat musik biola dari Eropa, serta penambahan gong.

Seperangkat Gendang Siantan terdiri dari dua buah gendang panjang bermuka dua, biola, dan gong. Biasanya, Gendang Siantan dibawakan untuk mengiringi nyanyian yang berisi pantun, cerita, nasihat, dan himbauan yang sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam.

Pada zaman dahulu, Gendang Siantan dimainkan untuk menyambut tamu kehormatan. Seiring perkembangan, kesenian ini juga dimainkan pada acara-acara lain, seperti pada upacara Cecah Inai.

Upacara Cecah Inai adalah rangkaian upacara pernikahan yang dilaksanakan sebelum akad nikah. Dalam acara ini, Gendang Siantan dibawakan untuk mengiringi Tari Cecah Inai. Tari ini menggunakan gerakan-gerakan silat dengan membawa piring yang berisi inai (daun yang dihaluskan untuk mewarnai tangan dan kuku calon mempelai).

Gendang Siantan dan Tari Cecah Inai memiliki peranan sakral dalam upacara Cecah Inai, yaitu untuk mengusir roh-roh atau pengaruh jahat yang bermaksud menggagalkan acara pernikahan esok hari. Setelah upacara Cecah Inai selesai, Gendang Siantan terus dimaninkan hingga menjelang fajar, untuk menghibur orang-orang dapur yang mempersiapkan acara untuk esok hari.

Pada masa sekarang, Gendang Siantan cukup sulit ditemukan. Selain karena tergerus oleh kesenian musik modern, kurang adanya regenerasi pemain menjadi salah satu penyebab keberlangsungan kesenian ini semakin terancam.

Sobat Pariwisata, pada tahun 2014, Gendang Siantan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dari Kepulauan Riau. Ayo, terus dukung eksistensi kesenian ini!(Nita)