Hotel dan Restoran Sepi karena Wabah Corona, Kerugian Capai Rp21 Triliun

Ilustrasi hotel. Sumber Foto. Ist

Pariwisata Indonesia—Hai Gaaees!

Gara-gara wabah Corona ini Gaaees, pengusaha hotel dan restoran diperkirakan mengalami kerugian mencapai 1,5 miliar dolar AS atau Rp21 triliun.

Angka ini berdasarkan perkiraan wisatawan China yang menghabiskan sekitar 1.100 dolar AS dalam sekali perjalanan ke Indonesia. Belum lagi pembatalan dari negara-negara lain dan wisatawan domestik.

Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani mengatakan, dari Januari hingga saat ini kerugian yang dialami sektor pariwisata untuk hotel dan restoran mencapai 1,5 miliar dolar AS.

“Covid-19 sangat berpengaruh di berbagai sektor industri, salah satunya sektor pariwisata. Karena pariwisata kinerjanya sangat bergantung pada stabilitas sosial-politik, keamanan, dan lingkungan,” kata Hariyadi di Jakarta, belum lama ini.

Menurutnya, apabila salah satu faktor stabilitas terganggu, maka kinerja pariwisata akan turut mengalami gangguan sehingga sulit untuk menggenjot industri pariwisata.

Maka dari itu diperlukan gerakan dari seluruh pihak agar roda sektor pariwisata dapat terus bergerak dan tumbuh.

Sementara itu, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memprediksi ada potensi kehilangan devisa dari sektor pariwisata senilai 530 juta dolar AS akibat dari virus korona ini.

“Kita harus tetap aktif melakukan kegiatan demi menjaga ekonomi nasional. Karena mata rantai ekonomi Indonesia juga menyentuh hingga level grass root, contohnya UKM yang sangat erat berhubungan dengan pariwisata. Namun kita tetap waspada terhadap kebersihan diri dan lingkungan agar dapat menekan laju penyebaran virus korona,” kata Hariyadi.

Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif telah mencanangkan pemberian insentif/diskon untuk mendorong peningkatan wisatawan Nusantara melalui diskon tiket pesawat.

Hal ini diharapkan dapat meningkatkan belanja domestik di sektor pariwisata. Dampak Covid-19 dirasakan oleh berbagai wilayah dengan destinasi wisata yang paling banyak diminati wisatawan baik mancanegara maupun domestik.

Di Bali sendiri, rata-rata okupansi hotel hanya 20%, khususnya di daerah-daerah yang banyak dikunjungi oleh individual traveler seperti Kuta, Sanur, Legian, Ubud, Jimbaran.

Pelaku usaha maupun masyarakat diimbau agar tetap beraktivitas normal, termasuk wisatawan dalam negeri dan luar negeri yang ada di Indonesia.

Bagi masyarakat berusia 60 tahun ke atas disarankan untuk tidak bepergian sementara. Protokol pencegahan penyebaran virus korona telah dilaksanakan oleh Pemerintah Pusat dan Daerah, sehingga hal ini tidak perlu dikuatirkan secara berlebihan.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng M. Faqih mengatakan, langkah-langkah yang perlu dilakukan masyarakat agar tidak terkena virus korona adalah dengan tidak melakukan kontak dengan penderita, menghindari orang-orang yang diduga terpapar.

“Khususnya warga negara yang baru datang dari negara-negara yang positif kasus virus korona, menggunakan masker (bagi yang sakit), serta rutin menjaga kebersihan terutama cuci tangan dengan sabun atau memakai hand sanitizer yang mengandung antiseptik,” katanya.

Selain itu, istirahat yang cukup, jaga makanan bergizi, olahraga rutin untuk menjaga daya tahan tubuh.

“Kami berharap masyarakat percaya kepada Pemerintah dalam penanganan Covid-19 dan tidak panik, agar ekonomi Indonesia dapat tumbuh positif dari semua sektor khususnya Pariwisata yang menjadi ujung tombak penyerapan ekonomi di level mikro” ujar Hariyadi.

#LawanCorona #JanganPanik #JagaKesehatan

#PariwisataIndonesia #CintaIndonesia