Pelintau

Seni Bela Diri Khas Tamiang, Aceh
Pariwisata Indonesia
foto: mediaindonesia,com

Sobat Pariwisata, silat merupakan seni bela diri khas Indonesia yang telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Di Indonesia sendiri, silat memiliki beragam jenis. Salah satunya Pelintau, seni silat dari Tamiang, Nangroe Aceh Darussalam.

Pelintau berasal dari kata pelin yang berarti semua dan kata tau yang berarti tahu atau mengetahui. Secara harfiah, Pelintau berarti semua tahu. Hal ini dikarenakan, pelintau memiliki urutan gerakan di mana setiap pemain harus mengetahuinya.

Pariwisata Indonesia
foto: acehtamiangkab,go,id

Gerakan dalam pelintau lahir dari pengamatan terhadap alam dan lingkungan sekitar. Pelintau tidak hanya memfokuskan pada gerakan tangan kosong. Beberapa senjata seperti pedang, pisau, dan toya juga kerap digunakan oleh para pesilat.

Pelintau pertama kali diajarkan oleh Maha Guru OK Said bin Unus. Pada masa itu, pelintau diajarkan secara sembunyi-sembunyi. Beliau mengajarkan seni bela diri ini pada para pemuda agar dapat melindungi diri dari serangan musuh dan sebagai usaha untuk membantu mengusir penjajah Belanda dan Jepang.

Pariwisata Indonesia
foto: docplayer,info

Setelah masa kemerdekaan tiba, tepatnya pada tahun 1953, Pelintau pun mulai dikukuhkan. Sejak saat itu, pelintau mulai diajarkan secara terang-terangan dan mulai dipertunjukan pada masyarakat umum. Seiring perkembangan zaman, pelintau tidak hanya digunakan untuk melindungi diri. Seni bela diri ini juga dipertunjukan dalam berbagai upacara adat, seperti pernikahan, turun tanah, dan khitanan.

Dalam berbagai upacara adat tersebut, pelintau ditujukan memiliki makna masing-masing. Pelintau dalam upacara pernikahan ditujukan untuk mendidik dan menanamkan bahwa suami adalah pelindung keluarga. Pelintau dalam upacara turun tanah dimaksudkan bahwa telah hadir calon pemimpin dalam keluarga tersebut. Sedangkan pelintau dalam acara khitanan bermakna bahwa anak laki-laki tersebut telah baligh, sehingga harus memiliki sifat keberanian karena akan menjadi pelindung keluarga.

Pelintau dalam masyarakat Tamiang terdiri dari dua jenis, yaitu Silat Rebas Tebang dan Silat Songsong. Silat Rebas Tebang digunakan untuk menyambut mempelai laki-laki dalam upacara pernikahan, upacara turun tanah, serta dalam upacara khitanan. Sedangkan Silat Songsong digunakan untuk menyambut tamu kehormatan dan menyambut besan dalam upacara pernikahan.

Pelintau memiliki empat pola dasar gerakan. Pertama, gerak salam sembah, yaitu gerak untuk memberikan penghormatan kepada guru dan para hadirin sebagai simbol menjaga keharmonisan dan kesadaran sebagai mahluk biasa. Kedua, gerak titi batang, yaitu gerakan pembuka untuk mendapat keseimbangan dan konsentrasi sebelum memulai langkah selanjutnya.

Ketiga, gerak langkah tiga atau langkah empat, yaitu gerak dasar untuk memecah gerak-gerak selanjutnya, yang berupa jurus atau langkah yang bervariasi. Keempat, gerak salam terakhir, yang merupakan simbol permohonan maaf kepada guru, hadirin, dan lawan main.

Pertunjukan pelintau diiringi oleh alat-alat musik tradisional seperti gendang, biola, dan akordion. iringan alat musik ini bertempo sedang hingga cepat, menghadirkan suasana penuh semangat dan enerjik. Biasanya, pertunjukan pelintau akan diselingi dengan pertunjukan Tari Piring.

Para pemain pelintau bisa terdiri dari pesilat laki-laki maupun pesilat perempuan. Para pesilat ini menggunakan pakaian berupa baju lengan panjang dan celana panjang. Selain itu, pesilat laki-laki juga menggunakan tengkuluk (ikat kepala), sedangkan pesilat perempuan menggunakan jilbab. Penampilan para pesilat juga dilengkapi dengan selempang dan kain songket yang dililit di pinggang.

Pelintau tidak hanya dipertunjukan di Aceh. Seni bela diri ini juga kerap dipertunjukan dalam helatan budaya di berbagai provinsi. Pada tahun 2019, Pelintau ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.(Nita)