Penghasilan Pariwisata yang Menetes ke Bawah

Kongres Dokter Spesialis Penyakit Dalam di Semarang tgl 13 sampai 17 Juli  2022, diadakan secara hybrid. Peserta yang hadir secara tatap muka, mencapai hingga 2000 orang. Acara diadakan di Hotel PO Jl. Pemuda dan Hotel Patra. Sebagian peserta ternyata turut membawa serta keluarga, sehingga kongres ini meningkatkan tingkat hunian hotel dan restoran di Semarang. Baik restoran yang ternama dan tradisional pun diserbu peserta untuk makan siang dan makan malam.

Pada pagi hari saya jalan kaki ke luar hotel. Sempat ditawari naik becak oleh Abang Becak sekitar.

“Lima ribu saja pak, saya antar kemana pun bapak mau.”

Saya tersentuh dan akhirnya naik becak, lalu beli nasi bungkus agak banyak dan mencari beberapa pangkalan becak untuk membagikan nasi bungkus pada saudara kita para pengendara becak.

Rupanya kehadiran ribuan peserta kongres tidak menyentuh para abang becak. Peserta umumnya menggunakan mobil rental, grabcar, gocar, taxi blue bird, dll. Uang para peserta pun hanya beredar di kalangan tertentu, belum menetes ke saudara-saudara kita para tukang becak.

Bagaimana mengikutsertakan masyarakat, untuk dapat ikut menikmati kue wisatawan?

Pak Sandi sudah sering membahasnya. Pak Sandi selalu menyemangati para pengusaha UMKM, hingga Desa Wisata pun bermunculan. Namun rupanya masih ada kelompok yang belum terjangkau penghasilan dari kegiatan wisatawan.

Menurut cerita para pengemudi becak, penumpang mereka masih sepi. Masih sebatas ibu-ibu yang belanja ke pasar tradisional. Wisatawan pun jarang sekali naik becak.

Di Vietnam kalau tak salah ada pertunjukan wayang di atas air. Menarik sekali dan pertunjukan tersebut diadakan setiap malam untuk parawisatawan. Kendaraan untuk ke pertunjukan tersebut menggunakan becak.

Mungkinkah kita bisa mengupayakan agar golongan ekonomi yang paling bawah juga dapat menikmati tetesan penghasilan kegiatan wisata?

Apakah kue tradisonal, nasi uduk, nasi kucing, minuman jamu, serta usaha ibu rumah tangga lainnya dapat diorganisir di tiap resto atau toko yang selalu dikunjungi wisatawan?

Jeepney, Filipina

Di Filipina ada jeepney yang terkenal di kalangan wisatawan.

Mungkinkah kita mempunyai kendaraan untuk wisatawan yang sederhana, yang dapat menghidupi saudara kita yang ekonominya paling lemah?

Remork, Kamboja

Di Bandara Siem Reap Kamboja, banyak wisatawan asing naik Remork, delman bermotor dari bandara ke hotel. Wisatawan sangat menikmatinya, mesti tidak senyaman naik taksi.

Kegiatan Pariwisata Indonesia sudah mulai menggeliat dan semoga akan terus meningkat. Kita berharap penghasilan dari kegiatan wisata dapat dinikmati masyarakat, termasuk masyarakat pada tingkat ekonomi yang paling bawah. Semoga….

——————————————————

Oleh : Prof. Samsuridjal Djauzi

× Hubungi kami