Rabab Pariaman

Seni Pertunjukan yang Sarat Pesan
foto: blograpuccino

PariwisataIndonesia.id – Sobat Pariwisata, kesenian tidak hanya menjadi ajang hiburan semata. Bagi masyarakat Pariaman, Sumatera Barat, Rabab menjadi kesenian yang tidak hanya digunakan untuk menghibur, tapi juga untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat. Penasaran dengan kesenian ini? Simak ulasannya berikut.

Pariwisata Indonesia
foto: youtube, com

Rabab Pariaman adalah kesenian yang memadukan unsur musik dan penuturan lisan. Alat musik yang digunakan dalam pertunjukan ini adalah rabab. Alat musik ini diyakini berhubungan dengan sejarah masuknya Islam di Nusantara. Rabab diyakini dibawa oleh para pedagang Persia yang singgah di Pariaman, daerah pesisir barat Provinsi Sumatera Barat.

Alat musik ini terbuat dari tempurung kelapa tua yang dibelah dua. Bagian belakang tempurung tersebut kemudian diberi lubang sebagai resonansi udara. Sementara sisi yang lain ditutup dengan kulit kambing atau kulit sapi yang telah dikeringkan, sedangkan gagang Rabab dibuat dari sebilah bambu. Dari ujung gagang sampai bagian tempurung, direntangkan dua buah tali senar.

Pariwisata Indonesia
foto: wadaya,rey1024,com

Rabab dimainkan dengan cara digesek. Alat penggesek tersebut dibuat dari rotan yang dibengkokan dan diberi nilon atau rambut ekor kuda. Tukang Rabab (pemain Rabab) akan duduk bersila dan meletakan alat musik tersebut berdiri di depannya.

Selama pertunjukan Rabab, Tukang Rabab juga melantunkan syair-syair yang terdiri dari dua jenis teks, yaitu dendang dan kaba. Dendang merupakan syair berbentuk pantun yang terdiri atas sampiran dan isi. Dendang umumnya berisi kisah tentang perjuangan hidup.

Sedangkan kaba merupakan cerita yang mengandung nilai-nilai kehidupan. Biasanya, cerita yang disampaikan berlatar kerajaan dan berisi tokoh-tokoh berkekuatan gaib. Untuk menyampaikan seluruh Kaba dibutuhkan waktu bermalam-malam. Oleh karena itu, biasanya dipilih satu episode yang dapat disampaikan dalam satu malam.

Rabab menjadi salah satu kesenian yang bernilai sastra tinggi. Kalimat-kalimat yang digunakan dalam syair Rabab adalah kalimat konotasi, resmi, penuh ungkapan perlambang, serta sindiran. Umumnya, Rabab hanya dimainkan di daerah Pariaman karena teks yang digunakan adalah sangat kental dengan dialek Pariaman.

Pertunjukan Rabab umumnya dilakukan pada malam hari, yaitu setelah isya (pukul 9 malam) hingga menjelang subuh. Pertunjukan ini menjadi hiburan dalam pesta rakyat, seperti pernikahan. Selama pertunjukan, Tukang Rabab dan penonton akan saling berinteraksi.

Sobat Pariwisata, pada era tahun 1950 sampai 1980-an, kesenian Rabab sangat populer. Namun, sejak tahun 1990-an pertunjukan ini kian langka. Hanya sedikit generasi muda yang tertarik untuk belajar dan melestarikan kesenian ini.

Pada tahun 2015, Rabab ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dari Provinsi Suamtera Barat.(Nita)