Minyak kayu putih asal Pulau Buru sendiri merupakan minyak kayu putih asli dan kerap dijadikan sebagai oleh-oleh khas Maluku.
Selain itu, permintaan akan minyak kayu putih asli ini kerap berdatangan dari luar daerah dan luar pulau. Terutama di masa pandemi ini.

Masyarakat lokal Maluku memproduksi minyak kayu putih dengan cara tradisional. Prosesnya sendiri tidak terlalu rumit dan menjadi pengetahuan yang telah diwariskan secara turun temurun.
Awalnya, daun-daun kayu putih yang telah dipetik, dijemur selama kurang lebih seminggu. Daun-daun tersebut kemudian dimasukkan ke ketel dan dimasak.
Baca Juga : Baju Cele, Pakaian Adat Asal Maluku
Baca Juga : Rajut Persaudaraan
Agar uap dari daun tidak menguap, ketel harus ditutup rapat-rapat. Proses pemasakkan sendiri berlangsung sekitar 6 jam. Setelah proses pemasakkan selesai, ketel pun didinginkan.
Uap yang telah dingin akan menghasilkan minyak kayu putih yang akan keluar dari pipa penyulingan. Proses penyulingan ini bisa berlangsung hingga 20 menit.
Bagi masyarakat Indonesia, minyak kayu putih bukanlah barang asing. Cairan yang memberikan sensasi hangat ini menjadi salah satu andalan para ibu untuk keluarga dalam mengasuh dan merawat anak.
Dari penghangat sesudah mandi, meredakan gatal-gatal karena digigit serangga, meringankan sakit kepala dan sakit gigi, hingga pereda ketika flu dan batuk.
Di Indonesia, banyak beredar minyak kayu putih yang telah diolah modern dan diberi beberapa campuran tambahan. Namun, jika ingin menjajal minyak kayu putih asli tanpa campuran, Sobat Pariwisata bisa membeli minyak kayu putih asal Pulau Buru.
Sobat Pariwisata Indonesia, tahun 2017 minyak kayu putih ditetapkan menjadi salah satu warisan budaya tak benda dari provinsi Maluku, sudah tahu?
(Nita/Kusmanto)







































Leave a Reply