PariwisataIndonesia.id – Redaksi Pariwisata Indonesia (PI) mewawancarai secara eksklusif Teuku Badruddin Syah selaku President Director PT Korina Refinery Aceh; CEO PT Kimco Citra Mandiri (KIMCO Group); Sekaligus President Director PT Wangsa Energi Prakarsa yang akrab dipanggil Abu Turki yang disambut hangat di ruang kerjanya, berlokasi di Mega Kuningan, Jakarta, Jumat (26/3) lalu.

Pengusaha Migas pecinta motor besar yang aktif sebagai senior riders di komunitas Harley-Davidson Club Indonesia (HDCI) didapuk sebagai Wakil Ketua Pengurus Daerah HDCI Bogor .
Pria berzodiak Aries ini juga aktif di KADIN sebagai Wakil Ketua Bidang Migas periode tahun 2020-2025, mengatakan, “kilang minyak saya nanti, akan jadi satu-satunya yang terbesar di Indonesia Barat,” katanya kepada Redaksi Pariwisata Indonesia saat mengawali wawancara pada Jumat (26/3) lalu, di Mega Kuningan, Jakarta.
Menurutnya, saat sekarang, pemenuhan pasokan BBM untuk mengcover keseluruhan wilayah Sumatera dipenuhi oleh perusahaan Pertamina yang berada di Plaju, Provinsi Sumatera Selatan. Berikutnya, dipasok dari Dumai, Riau yangk apasitasnya masih kecil-kecil.
Baca juga : Teuku Badruddin Syah, Tokoh Aceh yang Cinta NKRI (Seri-1)
“Itu saja tidak tercukupi. Sumatera itu, kebutuhan BBM-nya besar sekali,” terangnya.
Lanjutnya, sebagian minyak Indonesia diperoleh dengan cara impor, “sekali impor sekitar 80-an juta barel. Tahun 2021 ini saja, Indonesia impor terhadap BBM yang melonjak drastis,” bebernya.
Atas dasar itu, Presiden Jokowi marah-marah ke Pertamina. “Soal kemarahan Presiden, saya tidak mau berkomentar. Ada hal yang secara kebijakan harus dirubah agar itu tak perlu terjadi. Berbeda dengan di Aceh. Kita, menggunakan undang-undang sendiri. Kewenangan tersebut memangkas birokrasi dan mempermudah keputusan.”
Orang nomor satu PT Korina Refinery Aceh juga meyakinkan, “perusahaan saya telah mengantongi izin lengkap,” ujarnya.
Dia menjelaskan, bahwa semua kontrak-kontrak termasuk izin-izin sudah clear and clean.
“Untuk structured financing sudah selesai,” kata pria berwajah garang berhati emas yang lahir tanggal 16 April 1965.

Dalam keterangan lainnya kepada PariwisataIndonesia.id juga memastikan dukungan perbankan terhadap bisnisnya kelak.
“Dengan Bank China, Bank Qatar dan Bank dari lokal di Indonesia juga sudah selesai hingga struktur organisasinya seperti apa?, Pemegang saham siapa saja, Berapa lama cicilan pembayaran perusahaan. Apalagi terkait prediksi debt. Kami sudah estimasi berjangka sampai 20 tahun.”
Sambungnya, termasuk jumlah bunga, “Alhamdulillah semua itu sudah selesai, dan harus saya akui, peran ini tak lepas berkat kebaikan dan pertolongan Emir Qatar yang melihat saya sebagai saudara,” bebernya.
Dalam wawancara selanjutnya menyinggung soal kapasitas produksi kilang minyaknya.
“Produksi kilang minyak saya nanti, siap memasok kebutuhan Pertamina wilayah Sumatera Barat, Aceh, dan Sumatera Utara. Itu pun, masih terasa kurang. Wajar saja, bila stok pemenuhan BBM masih akan terus impor dari Malaysia dan Singapura.”
Dia menambahkan, “tahun ini sudah diputuskan akan mulai kontruksi. Ditargetkan beroperasi di tahun 2024,” harapnya.
“Ketika tol Trans Sumatera tersambung dari Lampung hingga Aceh diperkirakan kebutuhan pasokan BBM semakin melonjak (Menteri PUPR menargetkan selesai tahun 2024, red). Saya meyakini, mana mungkin dijual ke Pulau Jawa karena untuk kebutuhan Sumatera saja kurang.”
Melihat peluang tersebut, ia memberanikan diri untuk mengikuti kembali tender Blok Migas OffShore di Aceh dan berpatner bisnis dengan Conrad Petroleum Pte. Ltd.
“Ini masih sejalan dengan kilang minyak yang tengah dibangun di bekas lahan ExxonMobil Oil Indonesia, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun Lhokseumawe,” kata Pria berwajah garang berhati emas yang lahir tanggal 16 April 1965.
Olah karena itu, demi meningkatkan kapasitas produksi secara optimal, selain eksplorasi di darat, dia juga berkeinginan untuk di lautnya.
“Saya ikut tender untuk mendapatkan tambahan hak pengelolaan Blok Migas Meulaboh dan Blok Migas Singkil,” targetnya.
Berkat hubungan baik dan kedekatannya dengan para pemilik modal, perusahaan miliknya mendapat kuasa dari Emir Qatar untuk membangun kilang minyak dengan menerapkan teknologi paling mutakhir yang serba modern.
“Saya perlu banyak melibatkan konsultan asing, termasuk dari shell yang akan ikut dilibatkan dalam membuat processing unit.”
“Keluarga saya (Emir Qatar, red) paling mengerti bisnis ini, tentu ingin yang terbaik dan sekaligus menjadi partner usaha. Enaknya lagi, saya jadi tahu beres, toh!”
“Untuk sukses di bisnis ini, mereka yang paling paham. Saya juga diminta Emir untuk tenang-tenang saja. Alhamdulillah, berkah. Ini anugerah yang Allah SWT berikan kepada saya sekeluarga.”
“Pendanaan keseluruhan sudah tuntas. Untuk dalam negeri sepenuhnya dari modal pribadi saya, itu juga semua dari Emir. Saya tidak ada pinjaman bank. Bawa uang sendiri, gabung dengan uang partner di China, Qatar dan negara-negara sahabat.”
Diungkapkannya, perusahaan tengah menyiapkan pula teknologi yang berasal dari negara Jepang. Seusai kajian teknis rampung akan berlanjut ke penerapan teknologi dari negeri matahari terbit.
“Untuk kajian teknis ini, semua ditangani oleh konsultan ahli yang berpengalaman. Saya juga mengajak teman-teman dari ITB,” sambungnya.
Dia membeberkan pula banyak pengusaha minyak di Tanah Air yang mendekat.
“Sejak tiga bulan ini, dari mana-mana sudah berdatangan. Mereka siap menyertakan modal tapi minta diberi jatah minyak. Padahal seperti dijelaskan di awal tadi untuk pasarnya, saya tidak pernah ambil pusing. Karena itu, saya santai-santai saja bukan karena sombong,” akunya.
“Bahkan seminggu yang lalu, juga ada yang merapat ke saya. Siapa mereka? Pengusaha kakap dan sudah populer di Tanah Air yang bisnisnya adalah pemasok BBM HSD. Tidak apa-apa, silakan saja,” sebut Abu Turki.
“Saya perlu menyampaikan secara baik-baik kepada pengusaha kakap yang core bisnisnya pemasok BBM HSD. Pasar dari kilang ini sudah habis untuk di konsumsi wilayah tadi itu.”
“Harus dijelaskan, untuk pemasaran harus dijual ke Pertamina selaku stakeholder. Sebagian kecil lagi untuk pasar ekspor sebagai komitmen ke penanam modal asing sebagai cicilan pembayaran hutang selama 20 tahun.”
Dia mengapresiasi langkah pemerintah dalam memudahkan dana asing masuk ke Indonesia. Diakuinya, terkait hal tersebut mengaku, telah memperoleh banyak kemudahan dan fasilitas. Berbeda jauh dari presiden terdahulu.
Bersambung ke halaman berikutnya
Dia pun memuji kepala BKPM…







































Leave a Reply