Dia pun memuji Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia, “supportnya luar biasa. Bolak balik terus menanyakan sudah sampai di mana progres yang dikerjakan. Salut saya kepada beliau,” pujinya.
Begitu juga dengan kementerian lainnya. “Kita terus melakukan koordinasi. Izin-izin pembangunan kilang ini selesai dengan cepat tanpa menemukan kesulitan. Semua beres dan lancar.”
“Manakala saya ada hambatan dalam birokrasi, Presiden Jokowi, langsung mengutus Kantor Staf Presiden untuk turun tangan.”
“Perizinan bagi modal asing yang masuk ke Indonesia, kini sudah berbeda jauh dari periode-periode sebelumnya,” tambahnya.
Menurutnya, pemerintah pusat berkomitmen dalam mendorong semua ini, sambungnya, kalau di Aceh izin jelas tidak menemukan kesulitan. Karena undang-undangnya tidak bisa di intervensi.
“Kesuksesan saya ini tentu tak lepas pula berkat andil besar dari kebijakan Presiden Jokowi yang gencar menggaungkan masuknya dana asing sebanyak-banyaknya,” pujinya.
Dia memuji-muji kebijakan Presiden Jokowi, “Perusahaan asing yang mau menanamkan modalnya di negara kita, jangan dihalangi. Menyoroti hal itu, saya perlu menyampaikan hal ini dan benar-benar dari hati nurani. Demi Allah, benar adanya dan membuktikan sendiri. Fine-fine saja, semua lancar. Perizinan sekarang, memudahkan pihak asing menanamkan modal di sini. Gampang banget,” yakinnya.
Kini, mimpi besar President Director PT Korina Refinery Aceh dalam memakmurkan tanah leluhurnya mulai membuahkan hasil.
Dorongan dari almarhum ayahnya terjawablah sudah. Rakyat Aceh boleh berbangga, kilang minyak terintegrasi di Serambi Mekkah akan segera terwujud.
“Saya rasa, ya, proyek raksasa seperti Arun dulu akan mengembalikan harga diri dan marwah orang Aceh dalam panggung sejarah yang pernah berjaya di masa lalu.”
Dia juga menceritakan, sejumlah mantan Direksi Pertamina yang sosoknya adalah senior tenaga ahli migas di Indonesia dan namanya dikenal luas di kalangan perminyakan, “Alhamdulillah ikut bergabung,” ungkapnya.
“Kemudahan yang saya peroleh, selain karena undang-undang Aceh juga koneksi dengan pihak luar negeri. Uangnya benar-benar riil bukan berbentuk saham. Uang yang saya bawa ke Indonesia sangat jelas, fresh money. Sekaligus, asset dormant yang dulunya idle kita bisa sewa murah dengan catatan masih layak pakai. Buat Pemerintah pusat pasti happy. Ketimbang jadi besi tua.”
Disebutkannya, berkat ketersediaan lahan KEK itu, ia tidak usah repot-repot lagi. Lahannya sudah diperuntukkan untuk hal tersebut.
Terkait keinginan pemerintah pusat yang gencar dalam menggenjot penyerapan dana asing, “Saya merasakan sendiri dan pelaku langsung yang menikmati fasilitas ini,” ucapnya.
Begitu juga soal perpajakan, dia merasa banyak mendapat kemudahan, katanya, pengusaha bisa memperoleh fasilitas tax holiday, termasuk izin impor dan sebagainya yang dulu rumit dan bikin malas. Saat sekarang, “mudah sekali!”
Area kilang minyak miliknya diperluas, “lahan PT Pupuk Iskandar Muda (Persero), saya sewa seluas 100 ha, nantinya masih akan dipertimbangkan kembali di kemudian hari perlukah untuk diperluas, semuanya disesuaikan dengan kebutuhan.”
Melalui kilang minyak yang segera akan berdiri, “diharapkan dapat mempekerjakan karyawan lokal sebanyak 3000 orang di tiga tahun pertama, direct. Sudah tentu, hal itu memantik multiplier effect yang positif karena akan memakmurkan warga di sekitarnya.”
Prediksinya, restoran, warung kopi, penginapan, homestay, pelaku UMKM, jasa-jasa dan jasa maintenance termasuk supplier-supplier kecil, “dengan sendirinya akan tumbuh berkembang.”
Kemudian, infrastruktur pasti berkembang lebih baik. “katakanlah perbandingan 1 : 3 atau 1 : 4. Direct 3000 pekerja bisa diciptakan, indirect bisa 10-18ribu. Itu pasti!”
Dia mengumpamakan skemanya dengan membandingkan Aceh kelak dengan Cilacap terkini.
“Pergi ke Cilacap. Apa yang dijumpai, nelayan? Saya sering ke sana terutama ke Pangandaran. Berteman baik dengan Ibu Susi Pudjiastuti, mengunjungi untuk beli udang dari beliau. Perhatikan Cilacap sekarang, pembangunannya luar biasa. Kemajuannya menimbulkan multiplier effect, indirect partnya berdiri sekolah-sekolah tingkat SMK bidang Migas.”
Permisalan tadi, langsung terpikir olehnya dan menjadi mimpi besar Abur Turki berikutnya.
“Saya akan melakukan kerja sama dengan Universitas Malikussaleh. Mereka sudah ada studi Migas, sudah ada D3 cuma mau kerjanya kemana? Itu bagian dari indirect part juga, bukan? Dalam sekian puluh tahun ke depan ratusan ribu lagi diharapkan memperoleh manfaat.”
Multiplier effect selanjutnya, pendapatan masyarakat bertumbuh, “kita tidak cari yang jauh-jauh. SDM untuk tenaga supervisor dan operator di sini berlimpah. Training saja.”
“Di Indonesia mau kerja di mana?”, menurut Abu Turki lagi, saat ini, ahli-ahli migas asal Aceh bekerja di Jawa tapi yang merantau ke Timur Tengah malah lebih banyak lagi. “Adek saya sendiri, 10tahunan tinggal di Qatar.”
Dalam mimpinya itu, dia ingin memberi kesejahteraan yang layak buat rakyat Aceh dengan didorong untuk merekrut SDM lokal sebanyak-banyaknya. Pekerja lokal harus dioptimalkan. ia bertekad, perusahaan harus bisa membuat betah pekerja dengan jaminan kelangsungan hidupnya yang layak.
Direncanakannya, pekerja akan memperoleh fasilitas insurance, kendaraan juga didukung tunjangan perumahan.
“Semua keluarga saya di luar negeri dipanggil pulang. Pulanglah, bangun kampung kamu. Daripada membangun negara orang. Tapi jangan minta gaji Timur Tengah. Sesuaikan dengan ketentuan perusahan migas di Indonesia.”
“Kepada masyarakat Aceh yang tinggal di luar negeri terutama putra kelahiran Aceh yang kini berusia 48 tahunan, pulanglah. Sudah cukup cari duit di negara orang. Saya tidak memaksakan, lebih ke imbauan semata. Kalau mau kerja di sini silakan, toh sama dengan yang dikerjakan juga sama-sama di migas,” ajaknya.
Dia menambahkan, usahanya mengajak pulang tersebut tak semudah membalikkan telapak tangan.
“Saya pergi ke Timur Tengah 6 bulan lalu, membujuk 500an orang Aceh disana. Tersebar mulai dari Abu Dhabi, Bahrain dan Qatar. Alasan mereka betah karena tidak perlu bayar pajak, bahkan anak-anaknya disekolahkan sampai sarjana oleh pemerintah disana.”
Redaksi media PI menyela percakapan, bertanya penyebab keluarganya banyak tinggal di luar negeri.
“Kejadiannya, ketika konflik Aceh tahun 1980an. Mana mungkin mendapatkan jabatan yang tinggi saat itu, sekaligus zaman tersebut dijuluki dengan DOM (Daerah Operasi Militer),” ungkapnya.
Dikemukakan juga, warga Aceh pergi merantau karena serba sulit di zaman-zaman tersebut. Sekarang sudah aman. Tak ada alasan lagi, untuk masyarakat Aceh di luar negeri tidak pulang.
Imbauan Abu Turki untuk keluarga besar yang masih menetap di luar negeri, “ayo bangun kampung halaman.”
“Ini keponakan saya, Maulana. kalau tidak dipaksa pulang mana mau dia pulang. Maulana anak adek saya ini, disekolahkan sampai ke Prancis. Bagaimana Indonesia?,” seraya angkat keduatangannya dan mengedipkan mata sambil geleng-geleng kepala.
Jika mereka berkeras pilih tinggal di luar negeri, ia tetap tak bisa memaksakan. Sebagian besar dari perantauan tersebut sebutnya, masih keluarga besar Teuku Badruddin Syah.
“Hubungan keluarga masih terjalin silaturahminya, dan terus berkomunikasi sampai sekarang.”
Abu Turki terus memuji-muji Presiden Jokowi dengan menjelaskan, pembangunan infrastruktur jalan tol yang sekarang lagi dibangun, katanya, tol Trans Sumatera akan tersambung dari Lampung hingga Aceh diharapkan selesai tahun 2024.
“Saya mengapresiasi Presiden Jokowi dan mengacungi jempol. Mendukung sepenuhnya, bahkan menaruh hormat atas langkah yang diputuskan beliau terhadap infrastuktur pembangunan di Aceh.”
“Kepala Negara Republik Indonesia mengunjungi Aceh lebih dari 13 kali, kini warga Aceh bisa menikmati tol yang sudah dibangun. Rakyat Aceh menyambut hangat atas tol Trans-Sumatera (JTTS) Ruas Sigli-Banda Aceh Seksi 3 (Jantho-Indrapuri) yang secara resmi telah beroperasi sejak Sabtu (27/3) lalu.”
Dia menambahkan, “untuk kontruksi ruas tol Binjai-Langsa; ruas Binjai – Pangkalan Brandan yang dikerjakan sekarang, itu akan tersambung ke tol yang sudah jadi, yakni tol Banda Aceh-Sigli (sudah beroperasi sejak 25 Agustus 2020 dan diresmikan langsung oleh Presiden Jokowi, red).”
Terungkap Abu Turki turut berperan dalam pembangunan infrastruktur tol di Aceh.
“Saya terlibat membantu PT Adhi Karya (Persero) Tbk dan PT Hutama Karya (Persero) untuk menyelesaikan semua persoalan di Aceh.”
Alhasil, katanya, tidak ada tentangan dari masyarakat. Sampai hari ini, 80 perusahaan menengah kecil di Aceh mendapatkan pekerjaan dari jalan tol itu.
“Kehadiran tol banyak memberikan manfaat. Meskipun, mungkin saja, saya memperkirakan secara ekonomis tidak ekonomis. Aceh itu lebih besar dari Jawa Barat tapi penduduknya diperkirakan 5 jutaan, tidak sebanyak penduduk di Jawa Barat. Dari 5 juta orang, berapa yang punya mobil pribadi? Berapa juga yang punya armada truk?”
Menurutnya, pembangunan tol bisa dibilang memberikan manfaat untuk angkutan bahan baku, seperti: beras, sawit, kopi sebagai pelintasan Medan-Aceh-Jawa. Sudah barang tentu, ekonomi pasti berkembang.
“Logistik di Aceh itu, paling mahal. Dulu, waktu angkat kopi dari perkebunan saya di Takengon. Truk banyak terguling dan cukup kesulitan karena medan yang terjal bahkan curam. Belum ada tol.”
“Bahkan dulu itu, Saya sering bawa teman-teman HDCI touring melihat sudut-sudut keindahan di Aceh berangkat dari Medan. Betapa indahnya negeri ini, Jika saya dari Medan ke Takengon ampun-ampun sampai 8 jam, medannya berkelok-kelok tajam, mengerikan. Bokong tipis dibuatnya. Badan berasa remuk. Waduh itu lelah sekali.”
“Pernah juga dari Flores ke Labuan Bajo tapi tidak mau lagi lah, hangus badan saya. Tapi, itu keren banget. Pesona alam Indonesia ini sungguh indah sekali. Saya hobby naik motor besar, suka menikmati keindahan yang keren dan cantik. Rasa nano-nano itu terbayarkan karena saya benar-benar menikmati sekali, tapi itu dulu.”
Dia menambahkan, dibukanya akses bandara di Takengon. Banyak turis yang berdatangan untuk wisata kopi sambil menikmati alam Aceh.
Infrastruktur jalan saat ini, saat Abu Turki touring bersama teman-teman komunitas HDCI dari Medan ke Aceh, tidak sampai 1 jam sudah sampai.
“Ini semua karena apa? Tentu, soal akselerasi infrastruktur dalam menjangkau destinasi pariwisata. Sekarang kita bisa merasakan perubahan. Infrastruktur memegang peran penting sebagai salah satu roda penggerak pertumbuhan ekonomi.”
Teuku Badruddin Syah memuji Presiden Jokowi, “sudah betul kebijakan untuk pembangunan infrastruktur Indonesia. Aceh terbukti memang terasa tertunda 20 tahun. Tidak ada presiden yang memperhatikan secara masif. Periode Jokowi pembangunan sangat digenjot. Sekarang, rakyat Aceh bisa menikmati pembangunan ini.”
Ekspresi wajahnya tampak bersemangat dan berseri-seri ketika menyampaikan perhatian Presiden Jokowi untuk Aceh.
Profil Teuku Badruddin Syah (Seri-2) <<< Sebelumnya
(Catatan: Artikel di awal bulan April 2021, menurunkan tulisan bernuansa nasionalis untuk mendorong sebanyak mungkin anak bangsa tampil menjadi agent of change guna menumbuhkan akselerator perubahan dan pemulihan ekonomi serta membawa perubahan besar pada kondisi masyarakat setempat. Redaksi media PI berharap artikel ini dapat memberikan pengaruh positif buat bangsa Indonesia. Sosok visioner nara sumber yang diulas kali ini, ia berani tampil tidak populis, berkat kepiawaiannya dalam memimpin perusahaan orang nomor satu di PT Korina Refinery Aceh berhasil mendatangkan investasi senilai 6-Milyaran USD Dollar dengan bunga murah. Kiprah putra daerah asal Bumi Serambi Mekkah ini patut dicontoh dan mengaku cinta NKRI).
Halaman








































Leave a Reply