Wisata ke Tn Way Kambas, Iqbal Himawan: Stop Tunggangi Gajah; Gajah Mati Meninggalkan Gading…

umi kalsum founder dan ceo media pvk group,GAJAH MATI MENINGGALKAN GADING HARIMAU MATI MENINGGALKAN BELANG MANUSIA MATI MENINGGALKAN NAMA,INDONESIA OFFICIAL TOURISM WEBSITE,INDONESIA'S OFFICIAL TOURISM WEBSITE,INDONESIAN TOURISM WEBSITE,IQBAL HIMAWAN,MEDIA PVK GROUP,MEDIA PVK GROUP DENGAN 10 SITUS PARIWISATA DAN E MAGAZINE,MEDIA RESMI PARIWISATA INDONESIA,PARIWISATA DI PROVINSI LAMPUNG,PARIWISATA INDONESIA,SUNARTO,TAMAN NASIONAL WAY KAMBAS,WEBSITE RESMI PARIWISATA INDONESIA,WISATA KE TN WAY KAMBAS,WISNU WARDANA
Taman Nasional Way Kambas (Dok.Tn Way Kambas)

PariwisataIndonesia.id – Dilansir dari laman BBC Indonesia memberitakan beberapa waktu lalu, sosok Iqbal Himawan, News Anchor di Metro TV, katanya, mengaku tobat dan menyerukan stop tunggangi gajah saat wisata di Taman Nasional Way Kambas (TNWK).

Pria yang tercatat sebagai jurnalis dan pelancong, kelahiran Semarang, 23 Januari 1986 adalah alumni dari Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia.

“Saya bertobat. Saya nggak akan pernah naik gajah lagi, meskipun di India. Saya nggak akan bersenang-senang di atas penderitaan makhluk pintar yang punya empati ini,” kata Iqbal dikutip redaksi Pariwisata Indonesia dalam laman resminya, Minggu (18/7).

Manfaat Ajak Keluarga Wisata di TN Way Kambas Tak Sekedar Tunggangi Gajah <<< Sebelumnya

Dalam unggahan foto di instagram iqbalhimawan_, menilai, struktur punggung gajah terdiri dari tonjolan tulang yang dilapisi jaringan tipis. Jika diberi dudukan untuk naik, gajah bisa terluka dan menyebabkan cedera tulang belakang jangka panjang pada gajah.

Iqbal juga membagikan kisahnya, saat dirinya sempat berwisata di tempat sejenis seperti di Tangkahan, Sumatera Utara, sambungnya, bertemu tur safari gajah.

Begitu juga, saat di Rajastan, India, (Dia melihat dengan mata kepalanya.Red), gajah dihias dengan mewah agar turis bisa merasa seperti bangsawan kerajaan.

Menurutnya, perjalanan ke TNWK telah mengetuk hatinya, dan mengajak masyarakat untuk bersama-sama bergerak menyadarkan hal itu.

Redaksi menemukan rekam jejak Iqbal. Ia sengaja merekatkan pesan dalam foto yang diunggah di media sosialnya untuk menguatkan imbauannya tersebut.

Dikatakannya, kala itu, ia menyaksikan gajah berada di habitat aslinya, dan berbicara langsung dengan para pawang gajah.

“Saya jadi belajar banyak di konservasinya langsung dan ingin menyebarkan agar semua orang tahu untuk tidak naik gajah,” tulisnya.

Sayangnya, seruan Iqbal ditangkis oleh Wisnu Wardana. Dia adalah dokter hewan yang juga menjadi pengurus Komisi Kesejahteraan Hewan di Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia.

“Gajah tunggang itu latihan yang baik untuk dia. Asal jam kerjanya juga tidak dilakukan terus menerus. Yang dipermasalahkan adalah kalau gajahnya kurus dan terlantar,” kata Wisnu Wardana.

Wisnu menjelaskan bahwa hubungan manusia dengan hewan punya beberapa paham. Paham yang dianutnya adalah “animal welfare”.

“Animal welfare setuju hewan dimanfaatkan oleh manusia, asal untuk kebaikan, baik kebaikan manusia maupun hewannya sendiri,” ujar Wisnu seperti dikutip dari laman CNN.

Sedangkan paham animal right dan animal freedom punya haluan yang sangat berbeda.

“Melihat sapi dan kerbau yang dicucuk hidungnya saja tidak setuju,” pungkasnya.

Meski demikian, Wisnu tidak menampik dan mengakui bahwa pemanfaatan gajah tetap harus memenuhi lima hak asasi hewan.

Hak yang dimaksudkan oleh Wisnu antara lain bebas dari rasa haus dan lapar, bebas dari rasa tidak nyaman, bebas dari penyakit dan cedera, bebas dari rasa takut dan stress dan bebas berperilaku alami.

Misalnya, perilaku alam gajah sebagai hewan berkelompok yang suka bermain, tetap harus diberi kesempatan untuk bersosialisasi, saling menyentuh dan mencium gajah lainnya.

“Kalau ada kasus, kita lihat dulu lima hak ini terpenuhi atau tidak. Itu cara menilainya,” papar Wisnu.

Wisnu yang juga pengurus Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia mengakui, belum semua kebun binatang di negeri ini memperlakukan hewan secara baik.

“Ada yang bagus dan ada yang kurang bagus, semua pihak ikut bertanggung jawab, termasuk pemerintah,” tambahnya.

Kembali ke Iqbal, ia mengajak para wisatawan TNWK dan menegaskan “terang benderang”, ingatkan pengunjung untuk jangan mengorbankan gajah demi memuaskan hasrat aktualisasi diri di media sosial.

Untuk hal tersebut, ia sangat mewanti-wantinya demi menyadarkan semua pihak, “stop tunggangi gajah di tempat-tempat wisata!”

“Kadang para traveller demi feed Instagram akan melakukan apapun. Jangan hanya karena selfie lalu mengorbankan gajah-gajah ini,” imbau Iqbal.

Iqbal juga berpendapat bahwa para pelancong akan mudah tergoda untuk naik gajah di tempat-tempat yang indah. Kemudian, ada sebagian pihak yang mendapatkan keuntungan dari mengeksploitasi gajah tersebut.

“Kuncinya ada di kita. Selama masih ada orang yang naik gajah, mereka (penyedia naik gajah di tempat wisata) tidak akan berhenti karena mereka akan terus mendapatkan uang,” kata Iqbal yang kerap menjadi moderator dalam kegiatan bagi anak-anak kurang mampu dan juga terlibat aktif di panti asuhan.

Imbauan Iqbal setali tiga uang dengan WWF Indonesia, Sunarto selaku Wildlife Specialist WWF juga mengatakan, ada indikasi penunggangan gajah untuk wisata sudah mengarah ke eksploitasi.

“Kenapa kita harus menunggangi satwa? Gajah terancam punah. Selain itu, bukankah satwa tidak layak ditunggangi untuk keperluan umum,” katanya menjelaskan kepada wartawan BBC Indonesia.

Sunarto menambahkan, kondisi gajah saat ini sudah berbeda dengan era di tahun 80-an. Zaman itu, masih ada banyak gajah dan lanjutnya lagi, populasinya masih dikatakan aman.

Kini, katanya, jumlah gajah sudah turun drastis. Sunarto pun membeberkan data tahun 2007. Dari dokumen resminya, populasi gajah Sumatera sebanyak 2800-2400 ekor. Pada tahun 2013, jumlahnya diperkirakan turun tinggal 1724 gajah.

“Saat ini sedang proses pemutakhiran, angkanya belum resmi tapi ada indikasi kuat tidak lebih dari 1000,” bebernya.

Atas alasan tersebut, Sunarto memberikan solusi alternatifnya yaitu diganti dengan membuat pameran yang lebih bagus untuk gajah.

Sunarto mencontohkan, perlunya sosialisasi dalam menyampaikan informasi mengenai kehidupan gajah di alam sekaligus menjelaskan hewan langka tersebut terancam punah.

Pandangan Sunarto dan Iqbal untuk meyakinkan masyarakat dunia bahwa informasi ini menjadi sangat penting karena keduanya setuju, kondisi sekarang, masyarakat umum belum menyadari rasa kegentingan terhadap populasi gajah yang kian menurun.

Namun, Sunarto saat diwawancarai oleh BBC mengatakan prihatin, tidak dapat memastikan konsekuensi untuk gajah yang dijadikan sebagai tunggangan. Pasalnya, ada sejumlah pendapat yang berbeda atau mendukung gajah boleh untuk ditunggangi.

“Ada yang bilang tidak apa-apa ditunggangi, ada yang bilang boleh ditunggangi asalkan di leher,” curhat Sunarto prihatin.

Sunarto pun pernah naik gajah di tempat wisata. “Tapi setelah membaca tentang kemungkinan tulang belakangnya tidak kuat, saya bilang saya menyesal pernah melakukan itu,” jawabnya.

Walaupun demikian, karena keterpaksaan masih mungkin melakukannya lagi, jika pekerjaan mengharuskan Sunarto naik gajah bersama tim konservasi. Tujuannya untuk menjaga gajah yang ada di alam.

Apa yang disampaikan Sunarto, konteks pernyataannya tidak berhenti sampai di situ, katanya, kalau hanya dikutip sepotong-potong bisa berdampak buruk terhadap ucapannya tersebut.

Sergahnya, penunggangan gajah yang belum dapat dihindarkan adalah ketika dipakai oleh tim patroli di wilayah konservasi.

Menurutnya, hanya berlaku pada situasi seperti gajah sedang diarahkan untuk mendapatkan tempat yang layak; mengurangi konflik dengan gajah liar; atau berkonflik dengan manusia.

“Gajah menghabiskan sebagian besar waktunya untuk makan, sehingga ketika dinaiki pun gajah harus tetap mendapatkan akses ke makanan dan air,” ujar Sunarto.

Dalam penelusuran Redaksi Pariwisata Indonesia, berwisata di Tn Way Kambas memang menyuguhkan bagi Sobat Pariwisata yang terobsesi menunggangi gajah-gajah tersebut.

Redaksi juga mencatat, tak perlu merogoh kocek terlalu dalam, cukup Rp 20.000 saja. Bahkan, biaya tersebut malah sudah termasuk jasa pendampingan satu pawang.

Pengunjung diajak menikmati naik gajah satu putaran berjarak antara 50 sampai 100 meter. Pilihan lain saat berwisata ke TNWK juga bisa berfoto bersama gajah; memberi makan gajah-gajah tersebut dengan pisang yang dibeli dengan harga mulai dari 10.000 rupiah.

Wisata yang juga tak kalah istimewa yaitu sempatkan melihat gajah-gajah selagi mereka dimandikan di pagi hari, bagi Sobat Pariwisata yang ingin merasakan pengalaman tersebut, pastikan sudah di lokasi pukul 6 pagi.

Kawasan taman nasional ini terletak di Raja Basa Lama Labuhan Ratu, Sukadana Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung.

Meskipun berada 112 km dari Kota Bandar Lampung, tapi jalan menuju tempat ini sudah cukup baik sehingga mudah dilalui dengan menggunakan kendaraan pribadi.

Di akhir tulisan, izinkan untuk redaksi Pariwisata Indonesia menyematkan peribahasa yang ada hubungannya dengan gajah dan gading.

“Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama”. (Artinya setiap orang yang sudah meninggal akan dikenang sesuai perbuatannya di dunia.Red).

Nama baik itu jauh lebih agung dan mulia ketimbang harta, karena di saat sudah mangkat yang melekat pada manusia, umumnya, kemuliaan atau kebermanfaatannya.

Selagi hidup, mungkin, mampu membungkus “belang” secara sempurna tapi tidak di akhir hidupnya, karena Tuhan Yang Maha Kuasa pasti menyingkap itu.

Selama hawa nafsu masih terus diperturutkan, yakinlah jelang kematiannya, tabir kebusukan tersebut, siap-siap terkuak.

Sobat Pariwisata, bahagia itu tidak diukur dari berapa banyak harta yang kita miliki, tapi sudahkah kita mensyukuri nikmat tersebut?

Semoga kita semua termasuk yang mendapatkan husnul khatimah (Akhir yang baik.Red) dan harta yang dipenuhi keberkahan. “Amin YRA”.

Yuk belajar dari peribahasa “Gajah Mati Meninggalkan Gading……”, jangan lupa ke Taman Nasional Way Kambas, Sob! (Soet/Eh)