Kicau Ketua PHRI! Hotel-hotel di Jogja Diduga, Diambang Kebangkrutan

“Banyak okupansi di Jogja yang di bawah 20%, jadi sulit. Mereka kondisinya kalau beroperasi berat, jadi banyak yang menghentikan operasinya,” katanya. Berikut beritanya.
BERITA PARIWISATA INDONESIA,EXPLORE INDONESIA,HALO INDONESIA,HOTEL-HOTEL DI JOGJA DIAMBANG KEBANGKRUTAN,INDONESIA OFFICIAL TOURISM WEBSITE,INDONESIA TOURISM INVESTMENT,INDONESIA'S OFFICIAL TOURISM WEBSITE,INDONESIAN TOURISM WEBSITE,KETUA PERSATUAN HOTEL DAN RESTORAN INDONESIA (PHRI) HARIYADI SUKAMDANI,MEDIA ONLINE PARIWISATA INDONESIA TERFAVORIT 2020,MEDIA PARIWISATA INDONESIA,MEDIA PVK GRUP,PARIWISATA INDONESIA,SITUS MEDIA ONLINE PARIWISATA INDONESIA,SITUS PARIWISATA INDONESIA,SITUS RESMI PARIWISATA INDONESIA,UMI KALSUM CEO MEDIA PVK GRUP,UMI KALSUM FOUNDER PVK GRUP,WEBSITE PARIWISATA INDONESIA
Ketua PHRI Hariyadi Sukamdani

PariwisataIndonesia.id – Dampak pandemi Covid-19 yang masih dirasa hingga saat ini; Kejadian bencana alam yang melanda negri beberapa waktu yang lalu; Serta kembali diperpanjangnya masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sebagian daerah menambah himpitan yang dirasakan pengusaha hotel dan restoran di tanah air, tak terkecuali hotel-hotel di Jogjakarta.

Baca juga :  PHRI : 30 Hotel di Jakarta Interes Rawat Pasien Status OTG, Masih Bisa Tambah?

Disinyalir, semakin meluasnya wabah Corona Virus yang juga ini terjadi di seluruh dunia telah mengguncangkan bukan hanya soal kesehatan publik, namun termasuk sektor ekonomi, bisnis, keuangan, sosial dan psiko-sosial.

Baca juga :  PHRI DIY Harapkan Insentif Khusus

Berbagai negara, mulai melakukan pembatasan sosial dan fisik, karantina rumah, penutupan perbatasan antarnegara, penghentian seluruh transportasi dan mobilitas manusia, sampai pada karantina masif (lockdown) satu wilayah.

Baca juga :  Ketua APINDO : Industri Pariwisata Merugi Dampak COVID-19
Baca juga :  Sinergitas Airasia Indonesia-PHRI, Dorong Pariwisata Indonesia Kembali Bangkit

Bahkan ada negara yang memberlakukan peraturan jam malam, dijaga aparatur bersenjata. Untuk maksud itu, kebijkan negara tadi mengambil langkah tegas yang diperlukan upaya melindungi warganya dan menekan penyebaran pandemi Covid-19.

Lalu, bagaimana Indonesia? Sebanyak lebih dari 500 ribu tenaga kesehatan telah memperoleh suntikan dosis vaksinasi Covid-19. Para tenaga kesehatan tersebut memang merupakan prioritas utama pemerintah di tahap awal program vaksinasi Covid-19 yang diberikan secara gratis kepada masyarakat.

Hal itu disampaikan oleh Juru Bicara dari Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi, selepas menyaksikan kedatangan 10 juta dosis bahan baku vaksin Covid-19 di Bandara Internasional Seokarno-Hatta, Tangerang, Selasa (2/2).

“Hingga kemarin, kita telah berhasil melakukan vaksinasi bagi lebih dari 500 ribu tenaga kesehatan di Indonesia. Angka tersebut menunjukkan antusiasme yang luar biasa dari tenaga kesehatan untuk mendukung program vaksinasi yang sekaligus juga menunjukkan optimisme mereka terhadap keamanan dan manfaat vaksin dalam memberikan perlindungan terhadap diri mereka dari Covid-19,” ujarnya dikutip siaran pers Presiden RI, Selasa (2/2).

Saat sebagian destinasi luar negeri tak lagi bisa dikunjungi karena banyak negara di luar Indonesia pun tengah membatasi kedatangan turis. Pasalnya, itu konsekuensi berlakunya pembatasan sosial dan karantina dalam skala masif.

Lalu, terbatasnya kegiatan ekonomi ikut mempengaruhi kehidupan dan penghidupan warga, bukan saja di kota-kota yang dikarantina, tetapi seluruh jaringan ekonomi dan finansial di seluruh Indonesia.

Pandemi Covid-19, menjadi momok yang mengkhawatirkan dan melanda seluruh negara industri di dunia, bahkan telah membatalkan seluruh penerbangan komersial berpenumpang.

Dampak ganda (multiplier effek) yang ditimbulkan akibat keberadaannya itu mendorong terjadinya depresi ekonomi skala global di masa depan dalam hitungan hari.

Dilansir CNBC Indonesia, Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani menyebutkan, hotel-hotel di Jogja sedang di ambang kebangkrutan, bahkan sudah banyak yang gulung tikar dan mengobral hotelnya karena tekanan pandemi. Para pemilik sudah tidak kuat menanggung beban dari sepinya pengunjung.

“Jogja suplai kamar banyak yang sudah oversupply. Di lain pihak, kondisi tamunya seperti ini (sepi karena pandemi), Jadi orang yang akan pergi ke luar kota untuk hal-hal nggak utama mereka akan kurangi,” katanya dikutip CNBC Indonesia, Selasa (2/2).

Belakangan ini, Hariyadi paling gencar menyuarakan penderitaan pengusaha hotel dan restoran se Nusantara. Ia kembali menjelaskan, saat masyarakat sudah enggan bepergian akan sulit bagi industri pariwisata bertahan. Hotel-hotel di Jogja menurutnya, lebih banyak kosong dibanding terisi.

“Banyak okupansi di Jogja yang di bawah 20%, jadi sulit. Mereka kondisinya kalau beroperasi berat, jadi banyak yang menghentikan operasinya,” katanya.

Penelusuran CNBC Indonesia berdasarkan situs jual beli online seperti OLX dengan kata kunci “hotel jogja” bermunculan daftar hotel yang dijual. Diduga akan menjual seperti yang digembar-gemborkan Hariyadi. Datanya itu, seperti: Hotel bintang 3 di Jl Taman Siswa Yogyakarta dijual harga Rp 60miliar, Hotel yang berlokasi di Sleman ditawarkan Rp 9,4 miliar.

Sumber Foto Headline: Wisnu Agung/Lokadata.id