Pariwisata Indonesia: Mengenal Tempat Wisata Sejarah di Palembang, Pulau Kemaro Wajib Dikunjungi Sob!

Pariwisata Indonesia
Jangan lewatkan mengunjungi Pagoda berlantai sembilan yang merupakan satu ikon yang paling mengemuka dari beragam aktvitas lainnya selama berwisata di Pulau Kemaro Palembang. (Ilustrasi gambar: Media PI/Sumber foto: Dokumen Twitter @parisya7/Parisya)

PariwisataIndonesia.ID – Pulau Kemaro, merupakan sebuah delta kecil di Sungai Musi, yang terletak sekitar 6 km dari Jembatan Ampera.

Sobat Pariwisata, lokasi pulau ini persisnya berada tak jauh dari kawasan industri, di antara Pabrik Pupuk Sriwijaya dan Pertamina Plaju serta Sungai Gerong atau agak ke timur dari pusat Kota Palembang.

Melansir dari Iwikipedia, pulau ini disebut-sebut memiliki luas sekitar 79 Ha dengan ketinggian 5 m dpl, selain memiliki pesona alamnya yang memikat, Pulau Kemaro juga identik dengan kota Tiongkok dan masyarakat Tionghoa serta adat istiadat dan kehidupan asli masyarakat Palembang yang terpaut menjadi suatu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Baca juga :  Pulau Kemaro Palembang Didorong Jadi Pariwisata Terpadu, Akan Bangkit Kembali Citra “Venesia dari Timur”

Sementara, mengulik lebih dalam daya tarik wisata sejarah yang ada di Pulau Kemaro antara lain terdapat peninggalan-peninggalan sejarah seperti Pagoda berlantai 9, Makam putri Sriwijaya, Klenteng Hok Tjing Rio, Kuil Buddha, pertunjukkan kesenian, dan ritual keagamaan khususnya umat Tridharma.

Menyibak rekam sejarah Pulau Kemaro, sudah ada sejak Kerajaan Sriwijaya yang erat kaitannya dengan kisah putri dari raja Kerajaan Sriwijaya dan putra raja Kerajaan Tiongkok, dari legenda itulah muncul sebuah Pulau yang dikenal dengan sebutan Pulau Kemaro.

Terkait makna Pulau Kemaro adalah pulau yang kemarau (atau pulau yang tidak pernah tenggelam meski sungai Musi sedang pasang.

Sejarah lainnya tentang Pulau Kemarau (Kembara), Pulau Kemarau adalah salah satu Delta Sungai Musi yang dimanfaatkan sejak era Sriwijaya sebagai salah satu pos penjagaan bahkan Panglima Cheng Ho pun pernah menetap di Pulau Kemarau dalam rangka menumpas perompak laut asal Tiongkok.

Baca juga :  Kisah Cinta di Pulau Kemaro

Pada masa itu, tepatnya di era Kerajaan Palembang, pulau ini merupakan salah satu Benteng pertahanan yang berfungsi sebagai gerbang sungai sebelum masuk ke Kraton (pusat) Kota Palembang. Nama benteng tersebut Benteng Tambak Bayo, apabila Kapal-kapal akan masuk ke pusat kota maka harus melewati dan mendapat ijin dari pos benteng tersebut.

Kisah Legenda di Balik Pulau Kemaro

Sobat Pariwisata, saat mengunjungi Pulau Kemaro juga terdapat makam putri Palembang, Siti Fatimah. Menurut legenda setempat yang tertulis di sebuah batu di samping Klenteng Hok Tjing Rio. Di zaman itu, datang seorang pangeran dari Negeri Tiongkok, bernama Tan Bun An, ia datang ke Palembang untuk berdagang.

Ketika ia meminta izin ke Raja Palembang, dirinya bertemu dengan putri raja yang bernama Siti Fatimah ini, dan dari pertemuannya itu langsung jatuh hati, begitu juga dengan Siti Fatimah.

Merekapun menjalin kasih dan berniat untuk ke pelaminan. Tan Bun An mengajak sang Siti Fatimah ke daratan Tiongkok untuk melihat orang tua Tan Bun Han. Setelah beberapa waktu, mereka kembali ke Palembang. Bersama mereka disertakan pula tujuh guci yang berisi emas.

Sesampai di muara Sungai Musi Tan Bun han ingin melihat hadiah emas di dalam Guci-guci tersebut. Tetapi alangkah kagetnya karena yang dilihat adalah sayuran sawi-sawi asin. Tanpa berpikir panjang ia membuang guci-guci tersebut ke laut, tetapi guci terakhir terjatuh di atas dek dan pecah, yang ternyata terdapat banyak emas di dalamnya.

Tanpa berpikir panjang lagi, ia terjun ke dalam sungai untuk mengambil emas-emas dalam guci yang sudah dibuangnya itu. Seorang pengawalnya juga ikut terjun untuk membantu, tetapi kedua orang itu tidak kunjung muncul.

Tak ayal, menyaksikan hal tersebut maka Siti Fatimah pun akhirnya menyusul dan terjun juga ke Sungai Musi. Konon, untuk mengenang mereka bertiga dibangunlah sebuah kuil dan makam untuk ketiga orang tersebut.

Sejarah yang menyertai Pulau Kemaro

Rekam sejarah lainnya, juga terungkap dari Perang Palembang I dan Perang Palembang II. Sepanjang awal abad ke-19, Kesultanan Palembang Darussalam turut pula mendirikan salah satu benteng maritim terkuat di atas tanah Pulau Kemaro bernama Benteng Tambak Bayo.

Pulau Kemaro sendiri dipilih sebagai lokasi pertahanan lapis pertama karena kawasannya tidak pernah terendam saat permukaan Sungai Musi sedang tinggi. Sedangkan kawasan lain selalu terendam air Sungai Musi, karena sebagian besar kawasan Palembang merupakan rawa air.

Sobat Pariwisata! Benteng pertahanan Pulau Kemaro menjadi kunci penting masuknya kolonial Belanda ke Palembang. Dalam berbagai invasinya, Belanda kehilangan banyak kapal dan anak buah karena pertahanan Benteng Tambak Bayo yang solid.

Namun Belanda akhirnya berhasil menduduki Palembang pada tahun 1821, semua benteng yang ada di sekitar Keraton Kuto Gawang—sekarang wilayah Pusri—diluluh-lantakkan oleh Belanda, termasuk Benteng Tambak Bayo. Bahkan tak ada sedikit pun sisa-sisa bangunan benteng yang masih berdiri hingga saat ini.

Fungsi Pulau Kemaro sejak tahun 1965 hingga tahun 2012 terbagi menjadi empat fase, diantaranya : fungsi Pulau Kemaro pada tahun 1965-1967 adalah sebagai kamp tahanan.

Kamp itu telah terjadi serangkaian peristiwa mengenaskan yang banyak menewaskan para tapol (tahanan politik). Perlahan fungsi sebagai kamp tersebut kemudian hilang diakhir tahun 1967 dan berganti fungsi baru.

Lambat laun, fungsi Pulau Kemaro pada tahun 1968-1997 mentransformasi jadi tempat pemukiman dan tempat ibadah. Sejak tahun 1968 pulau ini mulai dihuni oleh peduduk yang jumlahnya semakin meningkat.

Tak hanya itu, pada periode ini pula Pulau Kemaro mulai dijadikan sebagai tempat pemujaan. Banyak masyarakat yang telah mengunjungi Pulau Kemaro untuk berdoa, berziarah dan meminta peruntungan.

Di sisi lain, fungsi Pulau Kemaro tahun 1998-2007 berkembang jadi lahan pertanian. Pola pikir penduduk yang kian hari makin maju, didukung dengan lokasi yang berada di tengah-tengah sungai sangat mendukung untuk dibukanya lahan pertanian guna meningkatkan taraf hidup penduduk Pulau Kemaro. Sekalipun demikian, Pulau Kemaro tahun 2008-2012 tetap masih menekankan sebagai objek wisata ritual.

Pulau Kemaro Tempat Wisata yang Wajib Dikunjungi

Saat sudah menginjakkan kaki di pulau ini, Sobat Pariwisata akan terkesima dengan bagunan berupa Pagoda berlantai 9 yang menjulang di tengah-tengah pulau yang dibangun tahun 2006.

Pagoda ini tingginya 45 meter dengan masing-masing tingkatnya 5 meter. Menilik alasan Pagoda ini dibangun sembilan tingkat, dimaksudkan agar sejalan dengan makna Feng Shui.

Pagoda Tiongkok ini memiliki delapan sudut seperti simbol Pat Kwa atau KedelapanTrigram. Warna pagoda tersebut memiliki warna-warna yang cerah sesuai dengan makna simbol warna yang terdapat pada kepercayaan Tiongkok.

Daya tarik Pulau Kemaro lainnya yang juga tak kalah istimewa selain Pagoda, terdapat pula klenteng yang sudah ada sejak dulu kala. Klenteng Hok Tjing Rio atau lebih dikenal Klenteng Kwan Im dibangun sejak tahun 1962. Di depan klenteng ini terdapat makam Tan Bun An (Pangeran) dan Siti Fatimah (Putri) yang berdampingan. Kisah cinta mereka berdualah yang menjadi legenda terbentuknya pulau ini.

Selepas mendapati pagoda dan klenteng, Sobat Pariwisata juga bisa menemukan sebuah Pohon yang disebut “Pohon Cinta” yang dilambangkan sebagai ritus “Cinta Sejati” antara dua bangsa dan dua budaya yang berbeda pada zaman dahulu antara Siti Fatimah Putri Kerajaan Sriwijaya dan Tan Bun An Pangeran dari Negeri Tiongkok.

Sobat, konon, jika ada pasangan yang mengukir nama mereka di pohon tersebut maka hubungan mereka akan berlanjut sampai jenjang Pernikahan. Untuk itulah Pulau ini juga disebut sebagai Pulau Jodoh.

Jangan lewatkan pula beragam aktraksi berikutnya yang digelar dalam rangkaian menyemarakkan event tahunan Cap Gomeh yang bertepatan dengan hari ke-15 hari raya Imlek, di mana pada acara tersebut masyarakat Tiong Hoa ataupun pribumi beramai-ramai berkunjung ke Pulau Kemaro untuk melihat acara yang ada pada hari itu, umumnya dilangsungkan selama 1-3 hari saja.

Di sela-sela atraksi yang sangat populer yang digelar Pulau Kemaro ini, juga diisi pula dengan kegiatan doa bersama warga Tionghoa, penerbangan lampion. Oups! Satu lagi, ada atraksi barongsai di malam harinya, loh Sob! (Eny/eh)