Wisata Religi ke Masjid Raya Baiturrahman

Masjid Raya Baiturrahman, Wisata Religi saat ke aceh, wisata religi aceh, pariwisata aceh, pariwisata indonesia

Berbicara tentang Aceh, Sobat Pariwisata melekat ingatan peristiwa bencana tsunami. Kisah pilu dan semua mata sedunia, tersentak. Aceh selain identik sebagai kota sebutan Serambi Mekah, juga terkenal dengan ikon wisata religi, Masjid Raya Baiturrahman. Bangunan tetap tampak utuh sekalipun dihantam tsunami. Padahal, bangunan sekitarnya luluh lantak.

Ilustrasi foto Masjid Raya Baiturrahman dari postingan instagram@mia_nahili.

https://www.instagram.com/p/CDdGbHpF8Zm/

Redaksi mengajak Sobat Pariwisata lakukan wisata religi saat berada di Aceh, yuk kunjungi masjid yang terletak di Jalan Moh. Jam No.1, Kp. Baru, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh ini, ternyata punya sejarah panjang, loh. 

Ilustrasi foto Masjid Raya Baiturrahman dari postingan instagram@nikadewy13.

Berdasarkan catatan sejarah, Masjid Baiturrahman dulunya dibangun sekitar tahun 1612-1636 saat pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Mulanya, Masjid Raya Baiturrahman dibangun cuma atap jerami berlapis-lapis, dengan pondasi kokoh mirip benteng, dan jadi ciri khasnya arsitektur Aceh.

Menurut sejarah pula, Masjid Raya Baiturrahman berdiri selain sebagai sarana untuk tempat beribadah, juga pusat pengajaran ilmu agama se Nusantara. Berdatangan dari Melayu, Persia, Arab, dan Turki belajar ke masjid untuk memperdalam ilmu agama.

Tanggal 26 Maret 1873, Belanda masuk ke Aceh, dan nyatakan perang pada Kerajaan Aceh. Lalu, masjid pun berubah fungsi sebagai benteng pertahanan. Teuku Umar dan Cut Nyak Dien atur strategi, semua taktik perang dirumuskan di masjid. Dalam sejarah disebutkan, tanggal 10 April 1873, masjid dikuasai pasukan Belanda. Mereka menghujam dengan banyak dentuman ke atap jerami, masjid pun terbakar. Korban banyak berjatuhan. 

Ilustrasi foto Masjid Raya Baiturrahman dari postingan instagram@nurul_siregar18.

https://www.instagram.com/p/CCV778DHWBy/

Empat tahun pasca kejadian, Jenderal Van Swieten janjikan merenovasi masjid, wujud rasa bersalah dan permintaan maaf. Batu pertama di tahun 1879, simbolis sebagai tanda pembangunan masjid dimulai, dilakukan pada masa Pemerintahan Sultan terakhir Aceh, Muhammad Daud Syah. Siapa nama arsitektur masjid? ‘Bernama Gerrit Bruins!’ Pembangunan masjid rampung tanggal 27 Desember 1881.

Usai berdiri, masyarakat Aceh tolak beribadah di Masjid Raya Baiturrahman. Pasalnya, masjid dibangun oleh musuh mereka, Belanda. Sekarang, masjid yang masuk dalam 100 masjid terindah di dunia jadi salah satu kebanggaan masyarakat Aceh.

Jika melihat Masjid Raya Baiturrahman, Sobat Pariwisata merasakan desain khas Mughal. Bangunan masjid dominan warna putih, dan kubah hitam berukuran besar. Dinding dan pilar berkonsep relief. Tangga terbuat dari material marmer. Dan lantai langsung di datangkan dari Tiongkok. Jendela kaca patri materialnya berasal dari Belgia, termasuk pintu kayu berdekorasi, dan lampu hias gantung material terbuat dari bahan perunggu.

Sobat Pariwisata, replika masjid bisa dijumpai di Austria, loh! Sebuah taman miniatur terbesar di dunia, Taman Minimundus di Klagenfurt, Karintia, Austria, membangun replika Masjid Raya Baiturrahman berskala 1:25. 

Masjid Raya Baiturrahman dapat menampung hingga 30.000 jamaah, dengan luas keseluruhan capai 4 hektar. ‘Wah, luas sekali, bukan?’ Selain itu, jika berkunjung di siang hari, Sobat Pariwisata tidak akan merasa panas, karena terdapat 12 payung raksasa.

Ilustrasi foto Masjid Raya Baiturrahman dari postingan instagram@sriwulansari19.

Seperti masjid pada umumnya, masjid berukuran 1.500 meter persegi, tidak pungut biaya masuk. Masjid dibuka 24 jam tiap harinya, loh. Mari berkunjung ke masjid bersejarah, Sobat Pariwisata lakukan wisata religi ke Masjid Raya Baiturrahman. Yuk! (Nita/Kusmanto)