Di Balik Cerita Camilan #Pempek, Mau Tahu?

Aneka Jenis Pempek khas Kota Palembang (Ilustrasi foto, sumber instagram @ombuncittt)

Konon terinspirasi dari perantau Tionghoa. Menurut sejarawan, mereka datang ke Palembang sekitar abad ke-16 di masa pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin II.

Tetapi, sejarawan lainnya ada pula yang berpendapat bahwa para pelaut yang merupakan penduduk negeri tirai bambu telah mendarat dan tinggal di negeri kita, jauh sebelum zaman itu.

Singkatnya, di zaman tersebut pempek ini dikenal dengan sebutan ‘kelesan’, walau begitu makanan ini sudah ada secara turun temurun atau mentradisi untuk disuguhkan dalam Rumah Limas.

Menilik asal katanya, yakni dikeles artinya tahan disimpan lama dan dibuat pertama kali oleh orang asli di Kota Palembang.

Kemudian, orang-orang China diakui terkenal sebagai ahli dagang. Tak sekedar ulet, biar untung seperak dua perak tetap dijabanin dan konteks dengan pempek benang merahnya terletak di mananya, begitu bukan?

Setelah kelesan diproduksi dalam jumlah banyak oleh orang Palembang tadi atau usai dari situ, mulailah untuk dipasarkan agar dijual ke konsumen dengan konsep door to door.

Menariknya, penjaja itu adalah laki-laki paruh baya dan ia adalah orang Tionghoa. Mengulik dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sinonim ‘bapak’ atau panggilan kepada pria yang disapa sopan dan menghormati berasal dari kata ’empek’.

Demi memperkuatnya, Danu mengutip dari kamus bahasa Hokkian, panggilan bagi lelaki Tionghoa yang sudah tua, memiliki persamaan kata, yakni ‘apek’.

Bagaimana camilan khas Palembang berubah nama menjadi pempek?

Mengawalinya, Danu telah memberikan sedikit pengantar dalam artikelnya, bahwa profil dari pedagang kelesan yang berjalan kaki keliling dari satu kampung ke kampung lainnya.

Sambung Danu, sesekali mangkal di tempat favoritnya yang terletak di Masjid Agung dan Masjid Lama Palembang adalah laki-laki paruh baya adalah satu dari sekian banyak orang Tionghoa perantauan yang menetap di Kota Palembang dan kisah ini terjadi di tahun 1900-an.

Berikutnya, pelanggan dan para pembeli merasa nyaman untuk menyapa dan memanggil-manggil, “Pek, Empek” kepada penjual kelesan itu.

Walhasil, pempek lebih terkenal ketimbang kelesan dan nama empek-empek atau pempek terus bertahan sampai sekarang.

Mengenal berbagai jenis pempek atau empek-empek

Makanan khas Palembang memiliki beberapa jenis yang bisa dipilih dalam berbagai varian. Sudah tahu, belum?

Tersedia pilihan untuk Anda nikmati, dan semua yang disuguhkan benar-benar nampol. Direkomen banget dan sudah banyak yang terpikat.

Bukan tanpa tedeng aling-aling menegaskan camilan ini nomor satu. Pasalnya, tersohor tak hanya di Sumatera Selatan. Terbukti, selain terkenal seantero nusantara, pempek asal Kota Palembang ternyata ngehitznya sudah mendunia. Ayo dicoba!

Nama-nama berikut menjadi andalan dan paling favorit, antara lain pempek kapal selam, pempek lenjer, pempek pistel, pempek adaan, pempek keriting, pempek lenggang, pempek kulit, dan pempek panggang.

Camilan ini kerap dijadikan buah tangan bagi mereka yang berkunjung ke Kota Palembang. Dikemas dengan metode vakum kemudian dibekukan, oh ya pempek dapat bertahan tiga sampai empat hari, loh!

Hari ini, Menparekraf Sandiaga Uno menjejakkan kaki sembari lari maraton di Jembatan Ampera yang menjadi ikon Kota Palembang. Kehadirannya terkait ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia disingkat ADWI Tahun 2021, dan Sumatera Selatan mendapatkan satu penghargaan.

Desa Wisata Ekowisata Burai, Kabupaten Ogan Ilir dinobatkan dalam deretan 50 besar Pemenang Desa Wisata Terbaik berdasarkan penilaian Dewan Juri ADWI 2021.

Redaksi mencatat, nantinya, dari 50 desa akan kembali ditentukan 10 besar desa wisata terbaik dan mengerucut lagi menjadi 4 desa terbaik sampai menyisakan 1 desa paling terfavorit. Kabarnya, puncak acara ADWI 2021 digelar pada Selasa, 7 Desember 2021. (eh/DN)