GM Toya Devasya, Mantan Pejabat Birokrat Buktikan Janjinya Setelah Sukses Balik Kampung

“Ibu saya bernama Ni Nyoman Renga. Hari ini, usianya lebih dari seratus tahun. Selagi muda, sempat menjadi pedagang sayuran. Setiap harinya, bolak balik Bangli-Denpasar jajakan barang dagangan di pagi buta hingga siang hari dan tak paham baca tulis. Sementara, ayah saya sudah almarhum, profesinya hanya seorang petani. Bahkan ketika itu, saya sekolah harus berjalan kaki sejauh 7 kilometer,” kata Dr. I Ketut Mardjana, saat diwawancarai tim dari Media Pariwisata Indonesia. Nyoman Sarjana Kontributor Bali mewartakan dari Kintamani, selamat membaca!
umi kalsum founder dan ceo media pvk group umi kalsum,CEO TOYA DEVASYA PUTU ASTITI SARASWATI SE. M.BUS,GM TOYA DEVASYA DR. I KETUT MARDJANA,INDONESIA TOURISM INVESTMENT,MEDIA PVK GROUP,MEDIA PVK GROUP DENGAN 10 SITUS PARIWISATA DAN E MAGAZINE,MEDIA RESMI PARIWISATA INDONESIA,PARIWISATA INDONESIA,TOYA DEVASYA,website resmi pariwisata indonesia,bali
GM Toya Devasya, Dr. I Ketut Mardjana / Foto: Dok.PariwisataIndonesia.id-Nyoman.S

Mantan pejabat birokrasi ini, khasnya, kerap menebar senyum dan ekspresif. Saat tim Media Pariwisata Indonesia mewawancarainya, tumpah ruah ekspresinya tersebut.

Setalah bercerita panjang lebar tentang kisah perjalanan hidupnya, secuil potongan yang patut untuk dicermati, “Saya ini hanya anak desa, untuk bisa seperti sekarang adalah sesuatu yang amazing,” katanya.

“Ini takdir baik yang diberikan oleh Sang Hyang Widhi Wasa kepada saya,” ucapnya dengan penuh rasa syukur (Sebutan bagi Tuhan YME dalam agama Hindu Dharma masyarakat Bali atau bisa juga dengan mengatakan Sang Hyang Tunggal, red).

Berkat tangan dinginnya, setelah sukses meniti karir di ibukota dan malang melintang ke berbagai belahan dunia, ia pulang ke kampung halaman dan berhasil membawa nama Kintamani mencuat!

Berlibur ke Pulau Dewata, jangan lupa ke Kintamani. Di balik nama Kintamani, berdiri tegak Toya Devasya, yang kini namanya semakin tersohor.

“Saya terlahir dari desa hingga beranjak dewasa pun tinggal di desa ini. Saya menikmati sekolah tinggi sampai ke luar negeri itu berkat doa orangtua dan masyarakat di sini. Jangan lupa, saat ayah masih hidup memperoleh rezekinya dari daerah ini pula. Atas dasar itu, pulang ke kampung halaman, karena saya merasa terpanggil untuk mengembangkan kawasan yang begitu indah alamnya ini dan sarat budaya demi memakmurkan semua orang. Saya terpanggil untuk itu,” kenangnya.

Menurutnya, ia terlahir dan tumbuh besar dari masyarakat marginal, “much better than or like father, like son,” imbuhnya.

Sewaktu menerangkan pendidikan anak-anaknya, katanya, harus lebih baik dari orangtua dan memiliki tekad baja dalam meraih keinginan, sambungnya, pendidikan itu harus nomor satu.

“Well-educated dan mengenyam pendidikan luar negeri yang semuanya paling terfavorit di negara itu,” ujarnya menyimpulkan sambil menerangkan asal negara dan tempat pendidikan anak-anaknya, kuliah mereka.

Dalam penjelasan pertamanya, Putu Ayu Astiti Saraswati, SE, M.Bus adalah anak pertama dan mendapatkan gelar master di Monash University, Melboume, Australia untuk bidang keuangan dan perbankan.

Putri sulungnya ini ditunjuk untuk melanjutkan tonggak estafet kepemimpinan Toya Devasya sebagai CEO, lahir saat, “Saya dan ibunya sedang menyelesaikan pendidikan di Institut Ilmu Keuangan, Jakarta,” ungkapnya.

Alasan inilah yang melatarbelakanginya, “Saya maknai sedang dalam pendidikan,” tambahnya.

GM Toya Devasya juga membanggakan putrinya, katanya, CEO Toya Devasya digadang-gadang mirip seperti dia dulu.

“Putu Ayu Astiti Saraswati ingin membangun Bali tak hanya ingin di Kintamani saja. Misinya sangat visioner, melihat Bali yang terdampak saat ini, segudang strategi dan upayanya dirancang matang dengan teman-temannya melalui Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Bali. Dia calon yang oleh banyak pihak diharapkan untuk menduduki Ketua Asita Bali,” curhatnya sambil mengusap air mata, lantaran bangga dan terharu.

Anak keduanya adalah DR. Made Putra Pratista, Ph.D, “anak yang ini memang luar biasa dan saya acungi jempol. Di usia 25 tahun sudah Doktor (S3) di kampus yang serupa dan mendapatkan beasiswa 5,5 tahun, tapi 3,5 tahun gelarnya sudah selesai,” sebutnya, bangga.

Sekarang ini, yang bersangkutan kerja di salah satu anak perusahaan Bank Mandiri sebagai Direktur.

Lalu, anak ketiganya bernama Komang Putri Pratiwi, S.H., M.Hum., yang memperoleh gelar Sarjana Hukum dari Fakultas Hukum, Universitas Indonesia dan master hukumnya merupakan lulusan dari salah satu universitas negeri di Shanghai, China. Kebetulan suaminya juga sama-sama memperoleh beasiswa untuk mengambil Master of Law di universitas yang sama.

Kemudian, anak keempat bernama Ketut Striratna Ayu Lestari, S.Par menyelesaikan studi di negara Taiwan, ayahnya menceritakan, “usia 19 tahun sudah S-1 mengambil jurusan bidang tourism.”

Berikutnya lagi, yakni anak kelima dari GM Toya Devasya adalah si bontot bernama Putu Evaita Jnani.

Untuk putri tercintanya ini berbeda dari kakak-kakaknya, ia menyenangi dunia IT. “Saat sekarang, masuk tahun kedua di jurusan itu di Universitas Zhejiang, Xihu, Hangzhou, Zhejiang, Tiongkok.”

Baca ke halaman berikutnya. Silakan, klik!