Ambung Gilo

Permainan Tradisional yang Kian langka
Pariwisata Indonesia
Foto: kebudayaan.kemdikbud.go.id

PariwisataIndonesia.id – Sobat pariwisata, permainan adalah salah satu cara untuk melepas penat dan lelah. Sejak zaman dahulu, masyarakat Indonesia telah memiliki beraneka jenis permainan. Bahkan beberapa di antaranya terus dimainkan hingga sekarang. Salah satunya Ambung Gilo, permainan tradisional dari Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau.

Pariwisata Indonesia
Foto: kompasiana.com

Ambung Gilo berasal dari kata Ambung dan Gilo. Ambung adalah keranjang atau wadah berbentuk bulat yang terbuat dari anyaman (biasanya rotan). Sedangkan Gilo atau gila adalah ungkapan yang digunakan untuk menggambarkan Ambung yang bergerak tak beraturan.

Permainan Ambung Gilo sarat dengan kemistisan dan hal gaib. Perlengkapan yang diperlukan untuk permainan ini antara lain, ambung atau lukah (alat tangkap ikan tradisional), kemenyan, dan talam tembaga atau alumunium.

Permainan Ambung Gilo dipimpin oleh seorang Bowo (dukun) yang memiliki kemampuan, keyakinan, kekuatan mental, keberanian, serta mampu mengatasi kemungkinan resiko gaib yang terjadi sepanjang permainan. Oleh karena itu, tidak sembarang orang yang dapat menjadi Bowo dalam permainan tersebut.

Selain Bowo, untuk memainkan Ambung Gilo juga diperlukan sekitar dua hingga tiga pemain, yang biasanya adalah laki-laki dewasa. Para pemain harus memegang Ambung dengan kuat, sementara sang Bowo mengelilingi mereka sebanyak tiga kali sambil terus merapal mantra pemanggil roh dalam hati. Ilustrasi permainan ini dapat sobat saksikan di chanel youtube dibawah ini:

Saat roh diyakini telah datang, Ambung akan terasa berat dan bergerak dengan sendiri. Semakin lama, Ambung akan terasa semakin berat dan gerakannya semakin menggila (bergerak cepat tak tentu arah). Terkadang hal itu membuat para pemain terseret, terguling, hingga terpelanting karena tidak kuat menahan pergerakan Ambung. Jika pemain tidak kuat lagi menahan Ambung, maka dapat digantikan oleh pemain selanjutnya.

Namun, tidak setiap permainan berhasil mendatangkan roh halus untuk mengisi Ambung. Ada kalanya, Ambung tetap diam tak bergerak karena pemanggilan tersebut gagal. Konon, hal tersebut dikarenakan salah satu pemain diam-diam membacakan ayat-ayat Al-Qur’an hingga roh yang dipanggil enggan datang.

Ambung Gilo merupakan permainan langka yang cukup sulit ditemukan. Permainan ini biasanya hanya dimainkan saat ada acara-acara tertentu. Permainan ini dilakukan pada siang atau sore hari di lapangan terbuka yang memungkinkan pergerakan bebas bagi para pemain.

Sobat Pariwisata, pada tahun 2019, Ambung Gilo ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesai dari Provinsi Kepulauan Riau. Tertarik memainkan permainan ini?(Nita)