Ghatib Beghanyut

Wisata Religi di Siak
Pariwisata Indonesia
Foto: riaunet,com

PariwisataIndonesia.id – Sobat Pariwisata, sebelum proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, di Kabupaten Siak, Riau pernah berdiri sebuah kerajaan bahari yang kuat. Kerajaan bernama Kesultanan Siak Sri Indrapura itu menjadi salah satu kekuatan yang diperhitungkan di tengah tekanan imperealisme Eropa. Selain kekuatan maritime, Kesultanan Siak juga mewariskan banyak budaya dan sejarah. Salah satunya Ghatib Beghanyut.

Pariwisata Indonesia
Foto: cakaplah,com

Ghatib berasal dari kata ratib, sedangkan Beghanyut berasal dari kata berhanyut. Kedua kata tersebut mengalami perubahan huruf karena ketidakmampuan penutur dalam melafalkan huruf R. Ratib merupakan Bahasa Arab yang berarti zikir. Sedangkan berhanyut berasal dari Bahasa Melayu yang berarti hanyut dengan menggunakan perahu. Ghatib Beghanyut adalah zikir yang dilakukan di atas perahu yang terapung di sepanjang aliran sungai.

Pariwisata Indonesia
Foto: gatra.com

Ghatib Beghanyut pertama kali diadakan pada masa Kesultanan Siak. Saat itu berbagai bencana terjadi berkepanjangan, mulai dari maraknya orang hitam (orang dengan kemampuan ilmu hitam), harimau mengamuk, wabah sampar, malaria, dan penyakit lainnya. Para tetua pun melakukan musyawarah hingga diputuskan untuk melakukan zikir secara beramai-ramai, yang dilakukan oleh para kaum laki-laki. Kegiatan ini seluruhnya berasal dari inisiatif masyarakat, tanpa peran langsung dari Kesultanan

Sebelum pelaksanaan Ghatib Beghanyut, para utusan akan memastikan kondisi air sungai. Tradisi ini harus dilakukan saat air sungai sedang surut agar masyarakat bisa pulang dengan selamat. Ghatib Beghanyut diadakan pada malam hari, setelah Sholat Isya. Rangkaian acara dimulai dengan bergeraknya para peserta mengelilingi kampung. Para peserta ini berjalan kaki dengan membawa obor sebagai penerangan. Mereka kemudian menuju Sungai Jantan (Siak) yang airnya sedang surut.

Setelah tiba di sungai, sebagian masyarakat naik ke perahu dan sebagian lainnya tetap berada di tepian sungai. Baik yang ada di atas perahu maupun di tepian sungai, semuanya terus menerus melantunkan zikir dan doa.

Perahu yang dinaiki dalam tradisi Ghatib Beghanyut akan melakukan perjalanan keliling kampung. Selain melakukan zikir, masyarakat di perahu juga melarungkan sesajian dari atas perahu. Sesajian yang berupa hasil bumi tersebut diharapkan dapat menjauhkan masyarakat yang tinggal di sekitar sungai dari mara bahaya.

Seiring dengan semakin dalamnya pemahaman terhadap ajaran agama Islam, pelarungan sesajian tidak lagi dilakukan karena dianggap mengandung unsur kesyirikan. Tradisi Ghatib Beghanyut hanya meliputi ziarah makam, zikir di atas perahu dan di tepian sungai, kemudian ditutup dengan makan bersama.

Di masa sekarang, Ghatib Beghanyut kembali dilaksanakan sebagai salah satu program wisata religi. Banyak masyarakat muslim dari berbagai perkumpulan datang untuk mengikuti tradisi ini. mereka akan berzikir bersama di atas kapal fery dan beberapa perahu mesin lainnya. Bersama rangkaian atraksi lain, Ghatib Beghanyut mengisi Festival Sungai Siak.

Sobat Pariwisata, pada tahun 2018, Ghatib Beghanyut ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dari Provinsi Riau. Jika ingin menikmati tradisi ini, Sobat Pariwisata bisa datang ke Siak saat Festival Sungai Siak dilaksanakan.(Nita)