Harmoni Merdu Musik Bambu

Baasi, Alat Musik Tradisional Sulawesi Tenggara
Media Pariwisata, Situs Pariwisata, Website Pariwisata, Pariwisata, Indonesia, Tourism, Halo Indonesia, Apa Kabar Indonesia
Foto: kampungsultra,com

Bambu (Bambuseae) merupakan jenis tanaman yang memiliki tempat khusus di hati masyarakat Indonesia. Tanaman yang yang termasuk ke dalam jenis rumput-rumputan ini pernah menjadi simbol perlawanan rakyat terhadap penjajah asing melalui senjata tradisional bambu runcing.

Selain sebagai senjata, tanaman yang pertumbuhannya paling cepat ini juga kerap menjadi material utama untuk alat musik tradisonal Nusantara, salah satunya Musik Bambu dari Provinsi Sulawesi Tenggara.

Pariwisata Indonesia

Musik Bambu atau dalam Bahasa Toloaki disebut Baasi, merupakan salah satu jenis alat musik tiup tradisional. Tidak ada catatan pasti kapan alat musik ini pertama kali dibuat. Namun, Baasi diyakini pertama kali diperkenalkan oleh masyarakat asli Kendari yaitu Suku Toloaki Mekongga.

Baasi biasanya terbuat dari bambu betung (Dendrocalamus  asper) atau lebih dikenal oleh masyarakat lokal dengan sebutan bambu koenua bonda. Pemilihan bambu diperlukan untuk menghasilkan kualitas suara terbaik. Batang bambu yang digunakan untuk membuat Baasi harus memiliki diameter sekitar 10-17 cm, yang kemudian dipotong-potong dengan panjang sekitar 40 cm.

Bambu yang telah dipotong kemudian diberi lubang dan dikeringkan. Selanjutnya potongan bambu tersebut diberi lilitan rotan. Biasanya, seperangkat Baasi terdiri dari sepuluh buah bambu yang memiliki ukuran berbeda-beda di setiap lubang pada bagian pangkalnya, sehingga menghasilkan nada suara yang berbeda.

Pariwisata Indonesia

Sebuah Baasi bisa memiliki satu atau dua badan. Secara umum, nada yang dihasilkan Baasi adalah jenis suara tenor dan bass. Untuk suara tenor sendiri, terbagi menjadi Baasi tenor berbadan satu dan Baasi tenor berbadan dua.

Pada tahun 1970an, Baasi pernah menjadi salah satu alat musik populer, terutama di daerah Sulawesi Tenggara. Namun, perkembangan zaman dan kehadiran berbagai alat musik modern membuat alat musik bambu ini mulai memudar terutama pada era tahun 2000an.

Berbagai pihak seperti pemerintah daerah, seniman, hingga masyarakat lokal terus berusaha melakukan upaya pelestarian Baasi. Salah satunya dengan mengajarkan seni musik Baasi pada generasi muda, yaitu siswa sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.

Baasi biasanya digunakan sebagai instrumen untuk mengiringi nyanyian atau tarian tradisional. Untuk mendapatkan nada yang harmonis dan menarik, Baasi dimainkan bersama dengan alat musik lain, seperti seruling dan gendang. Namun, alat musik ini juga bisa dimainkan pertunjukan seni musik tunggal, tanpa iringan alat musik lain.

Pemerintah daerah juga kerap mengadakan festival budaya untuk memperkenalkan Baasi pada masyarakat umum. Harmoni nan merdu dari alat musik bambu ini pernah memukau 25 orang duta besar asing dalam momen Hari Pangan Sedunia ke-39 di Sulawesi Tenggara pada tahun 2019. Semoga Musik Bambu khas Sulawesi Tenggara ini kian bergema dan terus terjaga.(Nita)