Makmeugang

Tradisi Masyarakat Aceh Menyambut Ramadhan
Pariwisata Indonesia
foto: bandaacehkota,go,id

Sobat Pariwisata, Bulan Ramadhan merupakan salah satu bulan yang dinanti oleh umat muslim baik di dunia maupun di Indonesia. Masyarakat bahkan memiliki tradisi-tradisi khusus sebagai ungkapan suka cita dalam menyambutnya. Salah satunya, tradisi makmeugang di Nangroe Aceh Darusalam.

Makmeugang berasal dari kata makmeu yang berarti makmur dan gang yang berarti jalanan pasar. Secara harfiah, makmegang memiliki makna jalanan pasar yang berisi kemakmuran karena banyak ditemui daging sapi maupun kambing.

Pariwisata Indonesia,Makmeugang
foto: batasnegeri,com

Makmeugang merupakan tradisi memasak daging dan menikmatinya bersama keluarga, kerabat, dan masyarakat yang membutuhkan. Di Aceh, makmeugang berlangsung selama tiga kali, yaitu menyambut saat bulan Ramadhan, menyambut hari raya Idul Fitri, dan menyambut hari raya Idul Adha.

Di antara ketiga waktu tersebut, makmeugang sebelum Ramadhan adalah yang paling sakral dan meriah. Tradisi Meugang sebelum Ramadhan biasanya dilakukan pada tanggal 29 atau 30 bulan Sya’ban.

Tradisi makmeugang atau meugang dimulai pada masa Sultan Iskandar Muda (Raja Kesultanan Aceh 1607-1636). Makmeugang pada masa tersebut diatur dalam qanun di mana beberapa hari sebelum hari pelaksanaan tiba, para keuchik (kepala desa) akan mendata jumlah fakir miskin, janda, anak yatim, dan orang sakit.

Laporan tersebut lalu dilanjutkan kepada imam mukim, kadi-kadi dan hulubalang, syakh al-Islam, hingga berakhir pada sultan. Setelah mendapatkan laporan, sultan lalu memerintahkan untuk mengambil dirham dan dinar dari gudang logistik kerajaan yang digunakan untuk keperluan memotong sapi dan kerbau. Kemudian daging tersebut dibagikan kepada seluruh rakyat.

Pelaksanaan makmeugang merupakan salah satu ungkapan syukur sultan atas kemakmuran rakyat dan kerajaan. Selain itu, makmeugang merupakan bentuk ucapan terima kasih sultan kepada rakyat.

Ketika Kesultanan Aceh ditaklukan oleh Belanda (1873), tradisi makmeugang tidak lagi dilaksanakan oleh pihak kerajaan. Namun, karena tradisi ini telah mengakar, masyarakat pun melaksanakannya secara mandiri.

Bagi masyarakat Aceh, pelaksanaan makmeugang seakan-akan telah menjadi satu kewajiban. Meskipun pada waktu-waktu tersebut harga daging melambung tinggi, masyarakat akan tetap membelinya. Tidak memiliki daging saat pelaksanaan makmeugang seolah-olah menjadi pantangan.

Masyarakat miskin yang tidak sanggup membeli daging akan diberikan santunan meugang dari para dermawan, Imum meunasah, hingga para tetangga. Maka, setiap rumah di Aceh bisa menikmati daging pada hari meugang.

Makmeugang pun menjadi sangat meriah dengan hadirnya para perantau yang sengaja pulang untuk mengikuti tradisi ini. Pelaksanaan meugang pun menjadi ajang silaturahim dan kumpul keluarga besar.

Selain nilai historis, tradisi makmeugang juga memiliki banyak nilai lain, seperti nilai religious, kebersamaan, dan tolong menolong. Sobat Pariwisata, pada tahun 2016, makmeugang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dari Provinsi Nangroe Aceh Darussalam.(Nita)