Saluang Khas Budaya Minang Dongkrak Pariwisata Indonesia

Alat Musik Tiup Tradisional Sumatera Barat, Obati Kerinduan Perantau. Bernostalgia Bikin Kangen Masa Kecil. Pikiran Bawah Sadar Mendorong Pulang Kampung. Yuk, Terus Menjaga Kekayaan Bangsa Indonesia.
alat musik tiup padang, alat musik tradisional minangkabau, tradisional sumatera barat, padang, minangkabau, saluang, sulliang, seruling padang, seruling minang, pariwisata indonesia, pariwisata nasional, pariwisata padang, pariwisata alat musik, media pvk, umi kalasum

PariwisataIndonesia.id – Keberadaan alat musik tidak lepas dari perkembangan kesenian di tiap wilayah. Lagu, tarian, bahkan sekedar syair memerlukan alat musik sebagai pengiring. Dengan kesenian yang beragam, menjadikan Indonesia kaya akan alat musik tradisional. Salah satunya di Sumatera Barat. Provinsi yang terkenal dengan Rentak Minangnya ini memiliki beraneka alat musik tradisonal. Kali ini, redaksi mengulas salah satu alat musik tiup tradisional Minangkabau paling top, adalah suliang atau saluang.

Suliang atu saluang adalah alat musik tiup tradisional dari Sumatera Barat. Bentuknya hampir sama dengan alat musik suling yang ada di daerah lain di Indonesia. Namun, tiap-tiap suling memiliki kekhasan tersendiri, termasuk Suliang Minang.

Suliang sudah mulai digunakan sejak lama, tepatnya saat penyebaran Islam di Ranah Minang yaitu tahun 635-1600 Masehi. Kala itu merupakan era musik Melayu Qasidah dan Gurindam yang digunakan sebagai salah satu media penyebaran agama Islam. Suliang dipergunakan bersamaan dengan aguang, serunai, rebana, dan talempong.

Bahan yang digunakan untuk membuat Suliang adalah talang atau bambu tipis (Schizostachyum brachycladum Kurz). Masyarakat Minangkabau percaya bahwa talang untuk jemuran kain atau talang yang ditemukan hanyut di sungai adalah talang yang paling baik untuk menghasilkan suliang yang berkualitas. Selain untuk membuat suliang, talang juga dipergunakan oleh masyarakat Minang untuk membuat lemang, salah satu kuliner khas Sumatera Barat.

Suliang memiliki panjang sekitar 40-60 cm dengan diameter sekitar 3-4 cm. Seperti suling lainnya, suliang juga memiliki lubang kecil. Namun, lubang yang terdapat pada suliang hanya empat buah. Lubang yang berfungsi sebagai pengatur nada ini akan menghasilkan nada-nada diaktonis.

Meskipun terlihat sederhana, memainkan suliang termasuk sesuatu yang sulit dan membutuhkan latihan khusus dan terus-menerus. Para pemain suliang harus mampu memainkan alat musik ini dengan meniup dan menarik napas bersamaan, sehingga suara yang dihasilkan tidak akan terputus dari awal lagu hingga akhir. Teknik ini dinamakan manyisiahkan angok atau menyisihkan napas.

Tiap wilayah di Sumatera Barat memiliki gaya meniup suliang yang beragam, sehingga nada dan lagu yang dihasilkan pun beragam. Seperti gaya Singgalang, Pariaman, Solok, Saloyo, Koto Tuo, Suayan, dan Pauah. Bagi para pemula, gaya Singgalang bisa dijadikan pilihan karena dianggap cukup mudah. Jika ingin mendengar irama yang paling sedih, Sobat Pariwisata bisa mendengarkan gaya Ratok Solok dari daerah Solok.

Suliang biasa dimainkan dalam upacara adat seperti pesta perkawinan, batagak rumah, batagak pangulu, dan sebagainya. Suliang juga dimainkan dalam acara-acara kesenian sebagai musik pengiring, misalnya dalam Tari Piring.

Selain itu, suliang juga kerap digunakan dalam ritual-ritual adat. Salah satunya adalah ritual basirompak dari Payakumbuh yang mengandung nuansa magis dan cukup mengerikan, karena digunakan sebagai pengantar sihir atau mengirimkan jampi-jampi kepada seseorang. Ritual ini dilakukan oleh sirompak (pawang) yang akan mendendangkan mantra dan memainkan gasing.

Terkait dengan sirompak, ritual ini konon berhubungan dengan kisah cinta tak terbalas dari seorang pria bernama Simambau. Simambau jatuh hati pada gadis cantik bernama Puti Losuang Botu. Ketika Simambau menyatakan niat untuk meminang Puti Losuang Botu, gadis itu menolak bahkan menghinanya. Sakit hati dengan hal itu, Simambau pun melakukan sirompak untuk mengirim guna-guna pada Puti Losuang Botu. Kisah yang tragis, ya.

Sobat Pariwisata juga bisa bernostalgia. Lantunan suliang dapat menghanyutkan, bangkitkan kenangan kecil. Lewat suliang khas Minang dongkrak pariwisata Indonesia ngehits. Mengapa? Pikiran bawah sadar mendorong perantauan ingin balik kampung. Yuk, terus jaga kekayaan bangsa Indonesia. (Nita/Kusmanto)