Soroti Dua Tokoh Politik Beri Pernyataan Kontraversi, Gubernur Ganjar Pranowo Angkat Bicara

"Mari kita bicara yang baik-baik, kritik boleh, tapi kalau kemudian statemen- statemen itu berpotensi bisa menyakiti hati masyarakat, mbok ya jangan dikeluarkan," tandas Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Berikut ulasannya.
Pariwisataindonesia.fotoGubernurJawaTengah-GanjarPranowo
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo bertemu sejumlah tokoh adat Lampung. Salah satu yang ditemui ialah Sultan Sekala Brak Kepaksian Pernong, Paduka Yang Mulia (PYM) Sai Batin Puniakan Dalom Beliau (SPDB) Pangeran Edward Syah Pernong, Gelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan ke-23. Pertemuan berlangsung di Villa Batu Putu Bandarlampung, pada Sabtu, (22/1/2022) / Ilustrasi foto: Tangkapan Layar YouTube Ganjar Pranowo

PariwisataIndonesia.ID – Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengingatkan para elite politik agar tak melontarkan pernyataan yang memicu polemik dan berpotensi menyinggung bahkan menyakiti hati masyarakat, yang disampaikannya di Semarang, pada Senin (24/1).

Hal tersebut, terkait anggota DPR Arteria Dahlan telah menyakiti masyarakat Sunda, sambung Ganjar, termasuk eks kader PKS, Edy Mulyadi yang juga dianggapnya bernada serupa, yakni pernyataannya itu telah menyinggung dan menyakiti masyarakat Kalimantan.

Merespons hal itu, mantan aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) mengajak tokoh politik yang berpijak dari pernyataan dua tokoh sebelumnya itu bak “nasi yang sudah jadi bubur”.

Ditambahkannya, kritik otokritik itu sesuatu yang menyehatkan jika disampaikan dengan tepat. Sayangnya, kata dia, jika pilihan diksi dan intonasi yang tidak tepat berakibat pada penerimaan di masyarakat menjadi berbeda.

Walhasil, muncul reaksi dari masyarakat, seperti di Jawa Barat kemudian juga di Kalimantan, “mari kita bicara yang baik-baik, kritik boleh, tapi kalau kemudian statemen- statemen itu berpotensi bisa menyakiti hati masyarakat, mbok ya jangan dikeluarkan,” tandasnya.

Dalam kesempatan itu, kader banteng moncong putih angkat bicara menyoroti hal tersebut, “pilih kata-kata yang baik, ada cara menyalurkan yang baik, ruang diskusi sangat terbuka. Itulah demokrasi, maka kita tahan dirilah,” imbuhnya.

Di sisi lain, Ganjar meminta masyarakat tidak perlu mudah terprovokasi, “jadi masyarakat jangan terprovokasi hingga muncul berbagai reaksi,” imbaunya.

Menurutnya, penyampaian pernyataan kontroversial tersebut akan lebih baik diundang untuk memberi klarifikasi, dan siapapun yang membuat gaduh atau merusak kebhinnekaan di tanah air ini harus bersikap gentle.

Sebelumnya, hubungan Ganjar dengan Puan Maharani dan Ketua Bapilu PDIP Bambang Wuryanto sempat tegang. Hingga ia tidak diundang dalam acara penting PDIP di Jawa Tengah, diduga ada hubungannya jelang Pilpres 2024.

Foto headline yang disematkan dalam artikel menjadi salah satu pesan pluralisme dengan ia menemui kelompok atau tokoh masyarakat Lampung, Ganjar mengaku harus belajar dari motto Ibu Kota Provinsi tersebut, yaitu ‘Ragom Gawi”.

Secara harfiah, Ragom (khagom) berarti kompak, bersatu, bersama-sama sedangkan Gawi berarti kerja, melaksanakan tugas pengabdian.

Dengan demikian, menilik makna keseluruhannya adalah bergotong royong, kerja sama, bersatu padu guna menggerakkan roda pembangunan dengan hati yang tulus ikhlas dan pantang menyerah dalam bekerja dan pengabdian terhadap masyarakat, bangsa dan Negara. (eh)