TWG-1 Selesai Digelar, Ini Sejumlah Capaian Strategis yang Disepakati

Pariwisata-Indonesia
Ilustrasi gambar - Chair of Tourism Working Group Indonesia 2022, Frans Teguh saat berbicara di hadapan delegasi yang tergabung dalam negara-negara G-20, termasuk tamu lainnya yang masih terpaut dengan pariwisata berkelanjutan, berlangsung di Sudamala Resort, Labuan Bajo, sejak 10-11 Mei 2022. (Foto: Media PI/Dok-HO-Kemenparekraf)

PariwisataIndonesia.ID, Jakarta – Pertemuan di hari kedua penyelenggaraan “The 1st Tourism Working Group (TWG-1)” Indonesia 2022, menghasilkan sejumlah capaian strategis.

Di sela-sela penutupan TWG-1, delegasi G20 dan negara tamu yang hadir pada forum tingkat global ini telah menyepakati, dan menyetujui upaya bersama terkait komitmen penciptaan iklim pariwisata berkelanjutan.

Baca juga :  Menteri Sandiaga Uno: TWG akan Bahas Solusi Pemulihan Pariwisata Global

Hal tersebut disampaikan ketua kelompok, penyelenggara TWG-1, Frans Teguh di Sudamala Resort, Labuan Bajo, Rabu (11/5/2022).

“Keberhasilan pariwisata seharusnya tidak hanya diukur dalam jumlah pengunjung,” kata Frans, mengawali keterangan tertulisnya di Jakarta, yang kembali dikutip PariwisataIndonesia.ID, pada Kamis (12/5/2022).

Beragam capaian strategis dalam gelaran TWG-1, selain pariwisata ke depan sejatinya bisa memberi dampak positif bagi peningkatan ekonomi, setidak-tidaknya, mengerek masyarakat di sekitarnya ikut sejahtera.

Frans Teguh yang juga merupakan Plt. Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf/Baparekraf menambahkan, dalam pengelolaan pariwisata berkelanjutan.

Sambungnya, harus menekankan alamnya tetap lestari, satu di antaranya, kata Frans melalui peningkatan konservasi keanekaragaman hayati, kebijakan ini dinilai akan menjaga kelestarian bumi.

Mencermati hal lain dari sejumlah capaian strategis pada pertemuan yang dibahas dalam TWG-1. Frans juga menilai, pandemi COVID-19 telah meningkatkan kesadaran masyarakat global akan pentingnya menumbuhkan aksi iklim atau lingkungan pariwisata yang sehat salah satunya mengembangkan ekonomi sirkular.

Sementara, menyoroti pariwisata di masa mendatang, kata Frans lagi, patut menekankan green tourism (wisata hijau) dan sustainable tourism (pariwisata berkelanjutan).

“Infrastruktur yang lebih hijau di bidang pariwisata adalah kunci ketahanan sektor pariwisata itu sendiri,” ujarnya.

Tatkala iklim di sektor ini tidak baik dalam penanganan aksi perubahannya. Frans juga menyebut, sekurang-kurangnya 25 persen pada tahun 2030, diprediksi akan menyebabkan meningkatnya emisi karbon.

Bahkan, pandangannya ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan UNWTO pada Desember tahun lalu di Konferensi Perubahan Iklim PBB.

“Penting bagi sektor pariwisata untuk tetap sejalan dengan tujuan global dalam mengurangi emisi karbon,” tandasnya, juga jadi bagian dari sejumlah capaian strategis yang disepakati dalam TWG-1.

Tak hanya itu, juga merasa perlu, mengelola pariwisata jangka menengah dan jangka panjang, tidak berhenti dengan hanya mendorong lebih banyak pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf) sekedar turut serta dalam Deklarasi Glasgow Pariwisata.

PariwisataIndonesia.ID mencatat, Deklarasi Glasgow sendiri adalah komitmen sukarela untuk mendukung pakta bersama di forum tingkat dunia guna mengurangi separuh emisi pada tahun 2030, dan mencapai nol bersih paling lambat pada tahun 2050.

Bukan pula semata-mata transparansi sirkularitas karbonnya, malah lebih dari itu, traktat ini juga mengobarkan semangat soal sirkularitas air, dan sirkularitas kemasan yang jadi kehendak bersama dalam menanggulungi polusi plastik, khususnya mengurangi sampah laut.

Dengan demikian, penyelenggaraan TWG-1, kata Frans sudah tentu ingin menjaga kebersamaan itu dan memberi sumbangsih kemajuan pariwisata berkelanjutan, diikuti pula dengan penciptaan lapangan kerja seluas-luasnya.

Walau demikian, forum tingkat global ini juga tak menampik, perlu mempertimbangkan kemungkinan pembentukan dana internasional, seiring mengatasi hal tersebut.

Usainya penyelenggaraan TWG-1 yang berlangsung sejak 10-11 Mei lalu, tentu dimaknai sebagai ruang bertukar gagasan dan menyusun kesepakatan bersama untuk pemulihan pariwisata global.

Pelaksanaan TWG-1 ini digelar masih dalam rangkaian menyemarakkan pertemuan G20, dan Indonesia akan menjadi tuan rumah ajang tersebut.

Pihaknya juga mengaku sukses mendatangkan delegasi dari negara-negara bagian yang tergabung dalam G20.

Maupun tamu lainnya, yang kehadirannya masih terpaut dengan green tourism dan sustainable tourism, yang dibuka secara online oleh Menparekraf Sandiaga Salahuddin Uno.

“Hadirnya forum ini diharapkan menghasilkan program yang tepat sasaran, tepat waktu, dan tepat manfaat, sekaligus menjadi pintu promosi Pariwisata Indonesia ke dunia,” kata suami Mpok Nur, kutip PariwisataIndonesia.ID dalam keterangan resmi yang disampaikan lewat Instagram @sandiuno. (Ronald Ss/Eh)