Wakil Menteri BUMN Kartika Sebut PT Aviasi Pariwisata Indonesia sebagai Induk Holding Pariwisata

Dalam rapat kerja Menteri BUMN dengan Komisi VI DPR RI terkait pembahasan mengenai usulan BUMN penerimaan penyertaan modal negara (PMN) tahun 2022, Kamis (8/7) kemarin. Terungkap melalui paparan Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo, selain pemerintah putuskan ubah nama induk holding pariwisata. Hal lainnya, usulkan Aviata untuk mendapat PMN sebesar Rp 9,318 triliun di tahun depan. Tertarik dengan artikelnya, Sob?
Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara Kartika Wirjoatmodjo
Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara Kartika Wirjoatmodjo

PariwisataIndonesia.id – Dalam rapat kerja Menteri BUMN (Badan Usaha Milik Negara) dengan Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia terkait pembahasan mengenai usulan BUMN penerimaan penyertaan modal negara (PMN) tahun 2022, Kamis (8/7) kemarin, juga menegaskan bahwa nama PT Survei Udara Penas (Persero) berganti nama menjadi PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau Aviata.

Terkait hal tersebut, pemerintah melalui Wakil Menteri BUMN, Kartika Wirjoatmodjo, menyatakan perubahan nama itu, karena pihaknya menilai fungsi perusahaan sebagai induk dari holding pariwisata.

“Penas sudah melakukan perubahan nama. Kita harapkan launching di akhir Juli ini mengenai fungsi baru dari Penas ini, termasuk nanti inbreng perusahaan-perusahaan di bawahnya,” kata Kartika Wirjoatmodjo, kutip Redaksi Pariwisata Indonesia, Jumat (9/1).

Kemudian, sambung Kartika, hubungan kerja samanya berbentuk sinergi kemitraan saling menguatkan dan mendukung satu sama lain.

Menelisik sosok Kartika juru bicara dari Kementerian BUMN, redaksi menelusuri dan terungkap ia pernah menjabat Ketua Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) berdasarkan rapat umum anggota pada 27 Juni 2016 untuk masa jabatan 2016-2020

Wakil Menteri BUMN ini mengungkapkan, sudah diterbitkan peraturan pemerintah (PP) terkait perubahan nama dan fungsi Penas. Saat ini dalam proses untuk melakukan inbreng lima perusahaan ke dalam Penas.

Dalam paparan di hadapan Komisi VI DPR RI, lulusan Sarjana Ekonomi Universitas Indonesia tahun 1996 dan meraih gelar Master of Business Administration dari Erasmus University, Rotterdam, Belanda tahun 2001, kelahiran Surabaya, 18 Juli 1973, menyebutkan pembentukan holding ini akan dilakukan melalui tiga tahap penataan dan pengembangan portofolio sub kluster.

Untuk hal tersebut, berikut strategi dari mantan Direktur Utama PT Bank Mandiri periode 2016-2019 dalam mewujudkannya.

Tahap pertama, prioritasnya kepada: PT Angkasa Pura I (Persero), PT Angkasa Pura II (Persero), PT Hotel Indonesia Natour (Persero), PT Sarinah (Persero), dan PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (Persero). Langkah tersebut ditargetkan selesai pada kuartal II 2021.

Tahap kedua, PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) atau Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) ditargetkan rampung pada kuartal IV 2021. Proses inbreng akan dilakukan setelah selesai skema Penyertaan Modal Negara (PMN) 2021 kepada ITDC.

Berikutnya, tahap ketiga, yaitu mencakup PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Untuk langkah ini, menurutnya lebih dulu proses restrukturisasi diselesaikan Maskapai pelat merah tersebut.

Dalam laporannya, Aviata diusulkan untuk mendapat PMN sebesar Rp 9,318 triliun di tahun depan.

“Cukup besar kebutuhan permodalannya, ini yang kita perlukan,” kata pria borzodiak Cancer. (Ronald Ss/Eh)

Sumber foto: CNN Indonesia