Holat

Cita Rasa Kelat dari Padang Bolak
Pariwisata Indonesia
foto: kebudayaan, kemdikbud,go,id

Pariwisata Indonesia.id –  Sobat Pariwisata, Sumatra Utara adalah salah satu provinsi yang terdiri dari beragam suku. Keanekaragaman ini membuat Sumatra Utara kaya akan kuliner. Salah satunya adalah Holat. Penasaran dengan kuliner ini? Yuk, simak penjelasannya.

Pariwisata Indonesia
foto: steemit, com

Holat merupakan kuliner asli dari Padang Bolak, Padang Lawas Utara, Sumatra Utara. Meskipun terasa asing di telinga masyarakat umum, nyatanya kuliner ini cukup populer dan tersebar di berbagai daerah seperti Kota Padang Sidempuan, Rantau Prapat, Pinang, Aek Kanopan, dan Medan.

Holat berasal dari Bahasa Batak yang berarti kelat. Rasa yang dihasilkan hidangan ini memang kelat (sepat) dan sedikit pahit. Namun, sensasi ini yang justru menambah cita rasa holat. Pada zaman dahulu, holat merupakan kuliner yang hanya disajikan untuk para raja di Tapanuli Selatan. Pada masa itu, holat juga hanya boleh dimasak oleh juru masak tertentu yang disebut pangholati.

Pariwisata Indonesia
foto: youtube,com

Holat merupakan kuliner berupa ikan bakar yang disajikan bersama kuah. Ikan yang digunakan biasanya ikan mas atau ikan jurug. Keistimewaan holat berasal dari kuah yang memiliki cita rasa unik, kuat, dan khas. Hal ini dikarenakan penggunaan salah satu bumbu khusus yang berasal dari tanaman bernama balakka.

Balakka (Phyllantus embica L) merupakan tanaman endemik yang hidup di daerah Tapanuli Selatan, Padang Lawas Utara, dan Padang Lawas. Balakka merupakan tumbuhan perintis yang hidup subur di daerah gersang. Buah balakka mengandung banyak air sehingga kerap dijadikan penghilang dahaga oleh mereka yang sedang lewat. Menurut keyakinan masyarakat, buah dan kayu balakka memiliki berbagai khasiat, seperti mengobati diabetes dan mengandung antioksidan yang cocok dikonsumsi saat tubuh kurang fit.

Pariwisata Indonesia
foto: biodiversitywarriors,or,id

Bagian kayu balakka yang digunakan untuk holat, harus tepat usianya. Batang kayu yang terlalu muda belum menghasilkan rasa kelat yang diinginkan. Sementara batang kayu yang terlalu tua akan memberikan rasa yang terlalu pahit.

Pembuatan holat dimulai dengan menyerut bagian dalam kulit kayu balakka. Hasil serutan ini kemudian diseduh dengan air panas dan diperas beberapa kali hingga menghasilkan kuah yang berwarna putih seperti santan. Kuah ini lalu dicampur dengan sedikit jahe, irisan bawang merah, taburan sisa serutan balakka, serta garam.

Holat umumnya disajikan bersama taburan tepung beras sangrai, jeruk nipis, cabai mentah yang digiling halus, serta pakkat atau tunas rotan (Calamus caesius) yang juga memiliki rasa kelat. Terkadang, holat juga dilengkapi dengan jengkol dan pete mentah.

Ketersediaan kayu balakka yang terbatas dan penyajiannya yang membutuhkan cara khusus, membuat holat tidak terlalu dikenal luas. Meskipun cukup langka, tapi keberadaan holat terus dipertahankan hingga saat ini. Kuliner ini bahkan bisa ditemukan di beberapa warung makan khusus.

Pada tahun 2017, holat ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dari Provinsi Sumatra Utara. Jika Sobat Pariwisata sedang berlibur ke daerah Sumatra Utara, jangan lupa mencoba kuliner ini, ya!(Nita)