Ni’owuru

Proses Pengawetan Daging ala Masyarakat Nias
Ni’owuru / Foto : Instagram

PariwisataIndonesia.id – Sobat Pariwisata, meskipun belum mengenal teknologi seperti lemari pendingin, nenek moyang kita ternyata memiliki teknologi tersendiri untuk dapat menyimpan makanan dalam waktu lama, seperti proses pengawetan. Salah satu proses pengawetan yang terkenal adalah mengasinkan makanan.

Baca juga :  Itak Pohul Pohul

Proses mengasinkan makanan sering kali dijumpai dari hasil tangkapan laut seperti ikan, udang, cumi-cumi maupun lainnya. Nah, di Pulau Nias, pengasinan makanan tak cuma terbatas hasil tangkapan laut. Daging hewan ternak pun bisa diasinkan agar umur simpannya lebih lama.

Metode pengawetan Ni’owuru salah satu tradisi yang terkenal dari Nias. Sudah tahu belum?

Proses ini dilakukan dengan cara mengasinkan atau memberi garam dalam jumlah yang banyak pada bahan makanan yang diinginkan. Biasanya, jumlah garam yang diberikan sekitar 25% dari berat daging tersebut. Semakin banyak garam yang ditaburkan, semakin lama umur simpan yang dihasilkan.

Baca juga :  Gordang Sambilan

Dengan memberikan taburan garam, cairan yang terdapat di daging akan berpindah ke butiran garam, termasuk sisa darah yang akan mengering. Ketidakadaan cairan membuat bakteri pembusuk pada daging menyusut bahkan mati karena dehidrasi. Setelah melalui proses pengasinan, akan dihasilkan daging yang agak kering dan sedikit keras.

Sebelum mengenal Ni’owuru, masyarakat Nias mengawetkan daging dengan metode ni’unage atau pengasapan. Namun setelah mengenal garam, metode pengasapan pun beralih menjadi metode pengasinan. Meski tidak diketahui secara pasti kapan Ni’uworo pertama kali berkembang di masyarakat Nias, tapi metode ini diyakini telah dilakukan sejak berabad-abad silam.

Baca juga :  Omo Hada

Ni’owuru biasanya dilakukan saat masyarakat Nias memiliki daging berlebih. Agar daging tersebut tidak terbuang sia-sia, maka dilakukanlah metode ini. Daging yang telah diasinkan dapat bertahan hingga berbulan-bulan. Saat masyarakat Nias kedatangan tamu tak terduga, daging ini bisa segera dihidangkan sewaktu-waktu.

Baca juga :  Serampang Dua Belas

Usai diawetkan, lalu akan disuguhkan di meja makan, Ni’owuru sama seperti daging pada umumnya. Pengolahannya bisa di bakar, di tumis dan lain sebagainnya. Oh ya Sobat Pariwisata, sebelum menghidangkan Ni’owuru ini, harus direbus terlebih dahulu untuk menghilangkan kadar asin.

Baca juga :  Bolanafo

Selain untuk konsumsi pribadi, Ni’owuru kerap dijadikan sebagai oleh-oleh. Ada beberapa jenis daging yang bisa dibeli pada hidangan khas Suku Nias, provinsi Sumatera Utara.

Namun, sebelum membeli, ada baiknya menanyakan jenis daging Ni’owuru yang ditawarkan. Apakah daging yang berasal dari sapi, kerbau, babi, atau Ni’owuru yang berasal dari daging ayam. Kepada yang tidak memakan daging babi, harap diperhatikan ya.

Oh ya Sobat Pariwisata, proses pengasinan dengan metode ini sudah semakin langka dan susah didapatkan di Pulau Nias. Masyarakat disini mulai menyadari konsumsi garam berlebihan akan menyebabkan berbagai penyakit, sehingga memilih beralih metode pengawetan dengan menggunakan kulkas/freezer yang dianggap lebih praktis, bahkan tak mengurangi keaslian rasa daging dan tidak menimbulkan resiko penyakit.

Namun, tak usah khawatir buat yang mau cobain dan melepas rindu akan kampung halaman silakan untuk datang ke warung Pa’Sisca Zebua yang lokasinya berada di jalan Diponegoro km 3,5, Desa Sifalaete Tabaloho Kec. Gunungsitoli, Nias, Sumatera Utara.

Di tahun 2016, Ni’owuru ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dari Provinsi Sumatera Utara. Kamu sudah tahu? (Nita/Raja Pitu/Kusmanto).