Pariwisata Indonesia, INDONESIA OFFICIAL TOURISM WEBSITE, MEDIA PARIWISATA DAN UMKM,media pvk group, umi kalsum founder dan ceo pvk group,MEDIA PVK GROUP DENGAN 10 SITUS PARIWISATA DAN E MAGAZINE,MEDIA RESMI PARIWISATA INDONESIA,PARIWISATA INDONESIA,SELAMAT DATANG DI ZONA MERAH KOTA BANDUNG ADA KULINER TRADISIONAL KHAS SUNDA,TAUFIK GENERASI KEDUA KULINER ZONA MERAH,WEBSITE PARIWISATA INDONESIA,ZONA MERAH RUMAH MAKAN NGEHITS DI BANDUNG,media pariwisata indonesia, pariwisata indonesia, situs terbaik pariwisata dan umkm
Foto Taufik Sekeluarga, Generasi Kedua Rumah Makan Zona Merah di Bandung / Dok. Web Pariwisata Indonesia

Mengenal Generasi Kedua Zona Merah, Rumah Makan Khas Sunda yang Namanya Sudah Populer di Bandung

“saya tak sampai hati melihat ibu mertua. Bahkan, istri tengah hamil besar. Masa bokin harus begadang setiap hari,” ungkapnya.

“Berkat restu mertua dan doa orangtua saya yang tiada henti-hentinya mendukung secara moral. Pasti dong, melecut semangat saya buat bangkit dan sukses. Alhamdulillah dapat bertahan seperti sekarang ini,” sambungnya.

Lulus Serjana Hukum Banting Setir Terjun Di Usaha Kuliner 

Lulus kuliah dari Kampus Mpu Tantular, Jakarta Timur, Taufik menerima ijazah Sarjana Hukum (S.H.), dan dengan penuh senyum bangga ditunjukkannya kepada keluarga dan sang pacar yang tinggal di Bandung.

Namun, takdir berkata lain, “padahal cita-cita selepas saya lulus ingin sekali menjadi pengacara dan punya kantor sendiri,” kenangnya.

Lantaran, kerap menyaksikan kekasih bersama orang tuanya berjualan hingga menjelang Shubuh, pikiran Taufik berkecamuk dan semakin hari, hatinya mulai terenyuh.

Singkatnya, “saya terjun ke bisnis kuliner ini tak berapa lama setelah menerima ijazah dari kampus,” terangnya, Taufik menjelaskan bahwa tekadnya telah sepenuh hati untuk mengubah nasibnya di usaha tersebut.

Semangatnya Taufik bak permen nano-nano saat mengais rezeki di tengah pandemi COVID-19 saat ini. Suami Yanti Rizka Yulianti Suryani, kini menjadi martil keluarga, dan telah banyak makan asam garam dalam membangun dan mengembangkan Zona Merah.

Berkat kegigihannya yang tak pernah patah arang itu, dia tumbuh menjadi sosok pria mandiri, percaya diri dan penuh optimistis.

Diakuinya, usahanya tersebut jatuh bangun, dan ikut terpukul dampak pandemi COVID-19. Meski begitu, katanya, perjalanan panjang saat membangun usahanya dulu telah membentuk mentalnya makin kuat meraih sukses.

“Prinsipnya, tidak ada satu manusia manapun tak butuh makan. Usaha rumah makan itu tidak akan pernah mati. Setiap orang pasti membeli makanan untuk mereka makan. Ini kebutuhan dasar manusia,” tandasnya.

Tempat makan miliknya terbilang cukup strategis. Karena, tidak jauh dari mall PVJ (Paris Van Java), persisnya di pinggir Jalan Raya Sukajadi No 57, Bandung.

Generasi kedua usaha rumah makan Zona Merah ini mengatakan, selama bulan Ramadhan, jam operasional dibuka mulai pukul 11.00 s.d 04.00 WIB. Tapi, untuk makan di tempat, katanya baru dibolehkan di atas jam 15.00 WIB.

Taufik juga menerangkan soal aturan yang ditetapkan oleh Walikota Bandung. Selain pengaturan jam operasional, katanya, juga mengatur soal penerapan protokol kesehatan secara ketat.

Sebelum jam itu, maka pemesanan wajib menggunakan jasa pengantaran ojol (jasa ojek online.Red), atau di takeaway. Ia memohon agar para pelanggannya mau memahami dan tidak memaksakan diri.

Mengingat, selain mendapatkan konsekuensi yang diterima untuk pengusaha seperti dia bila kedapatan melanggar makan di tempat. Maka, dikenakan sanksi berbentuk denda yang harus dibayar.

“Waduh, jangan sampai deh. Lagi kondisi begini, uang segitu rasanya berasa banget,” gumamnya.

Di sisi lain, dia berpesan, “mari kita sebagai warga Bandung untuk menaati imbauan Pemerintah demi kepentingan semua pihak. Kalau bukan kita, siapa lagi?,” imbaunya.

“Lagi juga, ‘kan dengan begitu artinya kita ikut berperan untuk menekan laju wabah Corona tidak semakin meluas,” tambahnya.

Zona Merah telah menerapkan 3M (Memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan). Imbauan yang disampaikannya tadi, sekaligus menegaskan bahwa kapasitas tamu untuk makan di tempat, katanya, juga dibatasi.

PariwisataIndonesia.ID mencatat, menu yang paling terfavorit dan terkemuka di Zona Merah, antara lain: Oseng Daging Mercon, Iga Bakar, Bebek, Cumi, Tahu Bejek dan Sambal yang jadi khasnya, yakni Sambal Mercon. Dijamin lezat dan maknyus.

Sementara untuk menu standar, dipatok harga seporsinya mulai dari Rp 30ribu, terdiri dari ayam; tahu bejek; dan perkedel, diberikan bonus oleh Taufik es teh manis dan lalapan, free.

Menu lainnya, ada pula ikan pepes peda; tahu benyek; jengkol; perkedel jagung; dan nasi uduk. Untuk air mineral dan lalapan free. Seporsinya, menu ini dibandrol seharga Rp 35ribu sudah include tax.

Terdapat juga menu comotan, tamu boleh sesuka hati. Santapan di-jembreng-kan oleh Zona Merah dan dijamin bikin ngeces. Masakan di sini tak cuma enak-enak tapi selalu bikin ketagihan.

Beragam aneka masakan terhidang di sini, dan semua serba panas. Jangan lewatkan untuk perutnya diisi full tank di Zona Merah, Sob! Oh ya, meski disebut Zona Merah, tapi kuliner satu ini tak segahar namanya, loh!

Kuliner yang viral di kota dengan julukan Paris Van Java dijelaskan Taufik, “pelanggan bilang, sambalnya bikin air mata bisa berlinang dan keringat ngucur segede gaban. Mirip orang yang nangisnya se-ember, hehehehe,” ucap Taufik mempromosikan Zona Merah.

Itulah alasan, setiap kali menyantap hidangan di Zona Merah, pelanggan dan penikmat kuliner Sunda akan merasakan seperti pecah dan terbakar di tenggorakannya.

Tak sedikit artis Indonesia, kata Taufik, pernah menyambangi dan menikmati hidangan di Zona Merah. Ia beranjak sambil menunjukkan sejumlah foto-foto artis yang dipajang di dekat kasir.

“Ini penting bos, sengaja dipajang biar menguatkan brand awareness Zona Merah,” pungkasnya.

Malah, baru-baru ini, artis Elly Sugigi pun tak mau ketinggalan, dia juga menikmati makanan ala Sunda yang dihidangkan di Zona Merah.

Menurut pelayan Zona Merah bernama Anton, “Mba Sugigi puas banget. Makanan kita dibilangnya nampol dan enak-enak,” sahut Anton saat melayani salah satu artis Indonesia itu.

Anton tidak sendiri, karena saat mewawancari sosok pemilik Zona Merah ini, jumlah karyawan sebanyak 16 orang, yang diungkapkan Taufik, mereka dibuat dalam 2 shift.

Lokasi Zona Merah berada di dua tempat. Lokasi yang pertamanya, terletak di pinggiran Jalan Sukajadi.

Untuk lokasi keduanya, berbentuk bangunan permanen dua lantai yang masih di satu lokasi dan saling berhimpitan, tepatnya berada di bagian sisi belakangnya, kata Taufik bangunan itu sudah milik sendiri.

Untuk membuat pelanggan Zona Merah nyaman dan betah, rumah makan ini melengkapinya dengan musholla, toilet, musik, dan pengunjung bisa pula menikmati wifi gratis sebagai fasilitas yang diberikan oleh Zona Merah.

Pariwisata Indonesia, INDONESIA OFFICIAL TOURISM WEBSITE, MEDIA PARIWISATA DAN UMKM,media pvk group, umi kalsum founder dan ceo pvk group,MEDIA PVK GROUP DENGAN 10 SITUS PARIWISATA DAN E MAGAZINE,MEDIA RESMI PARIWISATA INDONESIA,PARIWISATA INDONESIA,SELAMAT DATANG DI ZONA MERAH KOTA BANDUNG ADA KULINER TRADISIONAL KHAS SUNDA,TAUFIK GENERASI KEDUA KULINER ZONA MERAH,WEBSITE PARIWISATA INDONESIA,ZONA MERAH RUMAH MAKAN NGEHITS DI BANDUNG,media pariwisata indonesia, pariwisata indonesia, situs terbaik pariwisata dan umkm
Taufik (Foto: Kanan) saat menyambut tamu Zona Merah / Dok. Web Pariwisata Indonesia

Alasan menamakan usahanya Zona Merah, Taufik kembali meyakinkan, tak ada hubungannya dengan pandemi COVID-19.

“Astagfirullah! Tidak begitulah. Saya tidak ingin mengambil keuntungan di balik wabah ini. Sejak dulu memang sudah begitu namanya. Perintis usaha menamakannya Zona Merah, karena saat berjualan berada di atas trotoar,” bebernya.

Dia melanjutkan ceritanya, “Bulan Maret Tahun 2010, tanggal pastinya saya lupa. Kami sekeluarga sudah bulat memutuskan nama usaha ‘Zona Merah’. Waktu itu, kondisinya tidak seperti sekarang. Jalanan ini masih sepi dan danger,” kata Taufik

“Kami berempat berjualan. Saya dan istri. Lalu, ada ibunya istri dan bapak mertua yang kita semua mengadu nasib dengan mangkal dan berjualan dari sore sampai menjelang waktu datangnya Shubuh. Kalau boleh jujur di zanan-zaman itu, lokasi dagang saya ini terkenal rawan,” ujarnya.

Itulah sekelumit sejarah panjang perjuangan kuliner ini hingga namanya tetap bertahan sampai hari ini, dan rumah makan yang dikelola Taufik, 11:12 dengan warung ala kaki lima pada umumnya.

Nama “Zona Merah” tak bisa ditepis, memang identik untuk menggambarkan area penyebaran wabah Corona yang mesti dihindari dan diwaspadai, sehingga sepintas terkesan menakutkan (dimaknai sebagai zona yang terlarang, red).

Uniknya, meski dilarang, ehh malah masyarakat Bandung tetap tertantang untuk datang. Apakah karena penasarannya, atau saking rindu dengan menu-menu Zona Merah.

Mengomentari hal tersebut, “wahh, saya nggak tahu, memangnya, nama Zona Merah bikin serem, ya? Hehehee,” ujarnya, sambil tersenyum.

Dalam gurauan ayah tiga anak ini menangkap kesan, ia tengah menyimpan rasa sedih yang terselimuti senyum. Sebab, dari raut wajah Taufik, tak bisa menutupi jeritan batin di saat sepinya pembeli Zona Merah hari ini.

Bila permen nano-nano rasanya manis, maka omzet Zona Merah saat menjelang Shubuh rasanya? Mari kita bertanya kepada rumput yang bergoyang.