Lagu Daerah di Indonesia Aset Bangsa

Pariwisata Indonesia, Lagu Daerah di Indonesia Aset Bangsa, Presiden Joko Widodo, Indonesia Maju, Menhan Prabowo Subianto, Trippers, Indonesia Traveler, PT Prima Visi Kreasindo, Media PVK Grup
Potret Curahan Kebahagiaan Presiden Joko Widodo bersama Pendiri Partai Gerindra yang digadang-gadang bakal maju menjadi Capres pada Pilpres 2024, "Kita boleh berbeda pendapat di antara kita, tapi satu, kalau menyangkut kepentingan nasional kita harus bersatu," tulis Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di IG @Prabowo

Memang sulit dibuktikan tapi bisa dirasakan, benarkah buah dari bumbu-bumbu para elit politik yang sukses memainkan momentum runtuhkan rezim?

Faktanya, perpecahan kelompok di tengah masyarakat pun tak bisa dihindari.

Mbok, ya jangan karena ‘kebelet’ dan ‘hausberkuasa’ halalkan segala cara.

Bila terbukti demikian, tapi belum tentu itu benar, kalau begitu faktanya, kok ya tega begitu loh!

Politik devide et impera dapat diartikan sebagai “pecah dan berkuasa”. Strategi ini gemilang dan dipopulerkan oleh Julius Cesar, dengan menimbulkan perpecahan di suatu wilayah sehingga mudah untuk dikuasai saat membangun kekaisaran Romawi.

Semoga hal demikian, tak terulang jelang Pilpres 2024. Masa lalu, harus dipetik untuk jadi pelajaran. Ini poin kedua yang juga tak kalah pentingnya.

Selanjutnya, di tengah berbagai tantangan dalam membawa kemajuan bangsa di masa depan kelak, Indonesia dibentengi oleh dasar negara yang fondasinya mengakar dan sangat kuat, apa itu? Pancasila!

Hal tersebut pernah disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam pidato kenegaraan Sidang Tahunan MPR, Jumat (16/08/2019).

“Di rumah Pancasila, kita hidup rukun, tanpa dibeda-bedakan latar belakang agama, asal-usul suku, perbedaan ras maupun golongan,” tegas Presiden.

Kepala Negara melanjutkan, “rumah besar Indonesia adalah tempat yang nyaman untuk semuanya, ruang hidup untuk seluruh anak bangsa dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai pulau Rote,” tandas Jokowi.

Saat sekarang, semua pihak diimbau untuk bergandengan tangan hadapi intoleransi, radikalisme dengan melahirkan lebih banyak lagi SDM-SDM unggul dan tangguh.

Sobat Pariwisata Indonesia, sebab iklim tropis yang disampaikan di atas tadi, tak ayal bangsa ini masyarakatnya menjadi beragam yang memiliki budaya, tradisi, serta adat istiadat yang terkenal luas hingga mancanegara.

Bendera Sang Saka Merah Putih harus terus berkibar sampai kapanpun, meski negara ini memiliki latar belakang yang berbeda-beda, maka untuk bangsa ini bisa maju, patut dibudayakan sikap saling hormat menghormati dengan menjadikan Bhinneka Tunggal Ika dan UUD-1945 menjadi dua dasar sebagai payung hukum perekat persatuan dan kesatuan di samping Pancasila.

Sebab itu, kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia merupakan aset bangsa, satu di antaranya yaitu lagu daerah.

Seperti kita ketahui bersama, setiap daerah sudah tentu memiliki keunikan budayanya masing-masing, yang musik dan liriknya disesuaikan dengan bahasa daerah tertentu.

Selain itu, dari lirik lagu-lagu daerah Indonesia banyak mengandung petuah ataupun pesan-pesan untuk menanamkan semangat patriotisme serta bercerita mengenai keindahan alam nusantara.

Mengulik nama pencipta lagu-lagu daerah, tak sedikit kedapatan “noname” (tidak diketahui, red), menandai, karyanya dibuat tanpa pamrih sebagai cerminan sosoknya penuh ketulusan yang “memberi tanpa berharap balasan”.

Atas dasar tersebut, menjadi sebuah keharusan bila lagu daerah yang tidak diketahui penciptanya dilindungi dan dikuasai oleh negara sebagai aset bangsa.

Pasalnya, sangat rentan diubah, dibawakan ulang dengan cara-cara tak semestinya, atau tidak sesuai dengan nilai-nilai yang hidup di masyarakat asalnya, malah mungkin diklaim oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Peran negara tentu menjadi sangat penting, kehadirannya benar-benar dibutuhkan dalam memberi perlindungan hukum lagu daerah.

Menilik dasar hukum yang melindunginya, diatur melalui Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, dan merupakan penyempurnaan dari Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002.

Sekalipun demikian, pemanfaatan lagu daerah oleh Warga Negara Indonesia (WNI) menurut undang-undang tersebut diperbolehkan, tak mesti izin dari Negara. Selama hal tersebut sesuai dengan aturan yang tertera dalam pasal-pasal di UU itu.

Kecuali, yang memanfaatkannya adalah bukan WNI.

Artikel kali ini mengajak pembaca www.pariwisataindonesia.id untuk bersama-sama menggalakkan kembali “Budaya Indonesia”, khususnya lagu daerah dari Sumatera Barat (Sumbar).

“Tak Tong Tong” dan “Badindin” adalah dua judul lagu yang berasal dari suku Minang, Sumbar. (soet)

Untuk lebih lengkapnya, silakan klik tautan berikut: “Lagu Daerah Sumatera Barat, Berikut Lirik Lagu Tak Tong Tong”.

× Hubungi kami