Pantau Gambut Siapkan Fitur Baru Peatland Business Hub untuk Tingkatkan Potensi Komoditas di Lahan

PariwisataIndonesia.hutangambutkalimantantengah
Foto udara diambil akhir bulan April 2020 menunjukkan ekosistem hutan gambut di wilayah Kalimantan Tengah / Foto: Ist

PARIWISATAINDONESIA.ID – Koalisi masyarakat membentuk Pantau Gambut untuk mengawal komitmen pemerintah dalam semua misi dan inisiatif terkait gambut. Mereka membuat situs 222.pantaugambut.id sebagai platform utama Pantau Gambut, digunakan untuk memuat informasi-informasi mengenai perkembangan komitmen Pemerintah Indonesia dalam merealisasikan pemulihan ekosistem gambut.

Platform virtual ini juga digunakan untuk mengedukasi dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya pemeliharaan ekosistem gambut dalam rangka perlindungan lingkungan, pengurangan emisi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Pasalnya, Indonesia memiliki luas lahan gambut mencapai 13.43 juta hektar (data BBSDLP tahun 2019), yakni keempat terluas di dunia dan merupakan lahan gambut tropis terluas di dunia. Lahan gambut adalah rumah dari keanekaragaman hayati Indonesia yang menyimpan 57 gigaton karbon, atau sekitar 10,36% karbon dunia.

Saat kebakaran hutan dan lahan terjadi di tahun 2015, 53% dari total lahan yang terbakar adalah gambut. Kebakaran yang terjadi di 32 provinsi di Indonesia pada tahun itu melepaskan emisi gas rumah kaca sebesar 1.636 juta ton CO2 atau lebih dari total emisi harian gas rumah kaca Amerika Serikat dan menimbulkan kerugian negara hingga Rp220 triliun rupiah.

Akibat dari kebakaran ini, Pemerintah Indonesia mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 71 Tahun 2014 mengenai Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut juncto Peraturan Pemerintah No. 57 Tahun 2016. Isinya mengatur upaya terpadu yang sistematik untuk memelihara dan mencegah kerusakan ekosistem gambut mencakup perencanaan, pemanfaatan, kontrol, pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum di lahan gambut.

“Pantau Gambut melihat besarnya potensi komoditas di lahan gambut yang dilakukan masyarakat atau desa,” kata Koordinator Nasional Pantau Gambut, Lola Abas dalam diskusi daring, Selasa (16/11/2021).

Memasuki tahun kelima kehadirannya, Pantau Gambut mengembangkan sebuah fitur baru dalam situs tersebut untuk menampilkan potensi komoditas lahan berkelanjutan dan membangun peluang bisnisnya.

Fitur yang dinamakan Peatland Business Hub, adalah media perantara yang akan menghubungkan potensi komoditas di lahan gambut dengan investor publik dan swasta.

Di sini potensi komoditas dibangun dengan pertimbangan pemeliharaan lahan gambut berkelanjutan oleh masyarakat gambut sebagai pemangku kepentingan utama.

Peatland Business Hub akan memuat informasi-informasi potensi komoditas gambut yang kemudian dapat digunakan oleh calon investor untuk menjajaki kerjasama investasi. Selain menjadi pusat informasi potensi komoditas, Peatland Business Hub juga mengembangkan value chain framework untuk membangun ekosistem bisnis komoditas gambut yang sehat.

Potensi kegiatan ekonomi berbasis komoditas di lahan gambut akan berkembang lebih pesat menjadi potensi ekonomi yang menjanjikan nilai tambah apabila berada dalam ekosistem bisnis yang mendukung. Peatland Business Hub membantu mengisi gap dalam hal ketersediaan data yang akurat dan terkini, dan mendorong pemanfaatan teknologi untuk menjembatani komunikasi dan pemasaran, serta investasi.

“Kami juga akan membangun perantara ini sebagai sebuah ekosistem bisnis. Dengan demikian komoditas dari lahan gambut dapat berkembang menjadi potensi ekonomi bernilai tambah. Hal ini akan menjaga keberlangsungan ruang hidup dan pendapatan masyarakat di lahan gambut sekalian memperkuat mindset masyarakat untuk selalu menjaga lahan gambut di sekitarnya,” ucapnya.

Pantau Gambut bekerjasama dengan ASYX Indonesia dalam membangun dan mengembangkan Peatland Business Hub. Lishia Erza, Direktur Proyek Peatland Business Hub dari ASYX, menyampaikan optimismenya bahwa fitur baru ini akan memberikan ekosistem bisnis yang lebih baik bagi komoditas di lahan gambut

Fitur ini dikembangkan untuk mengoptimalkan informasi komoditas menjadi informasi yang berguna untuk investor. Fitur ini akan menghadirkan skema rantai pasok yang tepat untuk komoditas gambut, sehingga produk-produk dapat didistribusi dengan baik dan dibeli dengan harga yang pantas.

“Dengan teknologi digital, fitur ini akan hadir dengan informasi yang akurat dan terkini. Semoga ini membantu masyarakat/desa membangun ekonominya dan lebih bersemangat menjaga lahan gambut di sekitarnya,” terangnya.

ASYX adalah perusahaan yang memberikan layanan nasihat pendanaan dan kolaborasi rantai pasok yang menghubungkan pembeli, penjual, pemasok, distributor dan institusi keuangan, melalui teknologi berbasis web yang aman.

Fitur Peatland Business Hub ini akan terus dikembangkan melalui diskusi aktif dengan berbagai pemangku kepentingan untuk mendapatkan pemahaman dan metode yang lebih baik terhadap kebutuhan pasar. (Beben)