PariwisataIndonesia.id – Sobat Pariwisata Indonesia, tahukah fakta ini? Dulu, gak cuma Aceh saja, Masyarakat dari Provinsi Sumatera Barat juga memberi hibah untuk Tanah Air. Satu pesawat dibeli oleh masyarakat Minangkabau untuk Indonesia. Pesawat Avro Anson RI-003 adalah pesawat ketiga milik pemerintah Republik Indonesia hasil sumbangan masyarakat Minang.

Pada 27 September 1947, di Bukittinggi, Wakil Presiden Mohammad Hatta bergerak mengajak Masyarakat Minang untuk membantu perjuangan. Gerakan bantu Indonesia dengan donasi emas. Indonesia membutuhkan pesawat terbang untuk perjuangan. Pesawat Avro Anson adalah pesawat multi peran dan bermesin ganda dari pabrikan Inggris Avro. Avro adalah pesawat ketiga dimiliki Pemerintah Republik Indonesia diberi nama RI-003.
Dibeli dari sumbangan induak-induak, amai-amai, bundo kanduang (kaum ibu) dan para amak Minangkabau di Sumatera Barat. Mereka, kaum perempuan sukarela menyumbangkan perhiasan. Mulai dari liontin, perak, hingga anting, kalung, gelang bahkan cincin kawin untuk memperjuangkan kedaulatan Indonesia.
Sebelumnya dalam catatan sejarah, rakyat Aceh telah duluan menginisiasi. Tepatnya pada 16 Juni 1948, Aceh begerak. Bumi Tanah Rencong membeli pesawat untuk diserahkan ke Indonesia. Pesawat yang dibeli Negeri Serambi Mekkah diberi nama RI-001 dan RI-002. Pesawat Dacota pun terwujud, Indonesia memiliki dua pesawat terbang saat itu.
Tetapi gerakan partisipasi yang dilakukan oleh Provinsi Aceh dan Provinsi Sumatera Barat tidak bisa dilepaskan dari peran Pemimpin Bangsa ini. Usai Presiden Soekarno mengunjungi ke Negeri Serambi Mekah dan gerakan civil society yang dilakukan Wakil Presiden Mohammad Hatta, Indonesia berhasil memiliki Pesawat Terbang.
Mohammad Hatta melakukan lobby-lobby kepada semua tokoh masyarakat. Ninik mamak(pemangku adat). Mereka diajak berembuk. Minangkabau, Sumatera Barat harus bergerak. Gerakan ini bukan gak ada sebab. Rencana pembelian pesawat bermula dari Agresi Militer I Belanda di Bukittinggi. Embargo Belanda bikin pemerintah sulit dan sengsarakan kehidupan rakyat. Begitu juga terkait jalur untuk pasokan senjata dalam mendukung perjuangan, ikut terhambat.
Kepiawaian Bung Hatta mencari peluang. Siasati embargo dari blokade ekonomi Belanda. Indonesia ekonominya harus bertumbuh. Dan gak bisa lagi terus bergantung. Bung Hatta berpikiran harus ada upaya secara masif. Buka jalur embargo dengan cara elegan. Terobosan dibuat, negara harus memiliki pesawat terbang sendiri. Perjuangan dan dukungan logistik harus jalan. Pesawat terbang dibutuhkan untuk membantu aktivitas perjuangan. Gak cuma mempertahankan kemerdekaan Indonesia tapi kedaulatan bangsa harus kokoh.
Panitia pengumpulan emas dibentuk segera. Terpilih sebagai Ketua dalah Mr A Karim, Direktur Bank Negara. Dan Mr Sutan Mohammad Rasjid, selaku residen Sumatera Barat. Pengusaha dan ninik mamak Minangkabau. Ditambah barisan ekonomi di dalam Kabinet Pemerintahan Presiden Soekarno, turut duduk dalam kepanitiaan.

Pergerakan lebih dulu dilakukan dengan melakukan apel besar. Aktivitas ini memberi pesan simbolis. Pagelaran ‘Apel Akbar’ dilakukan di Lapangan Kantin (Saat ini, Lapangan di Depan Makodim 0304/Agam). Usai itu, panitia terus bergerak. Panitia turun, masuk keluar kampung. Mereka turun hingga ke pelosok pedalaman. Kehadiran dan sikap panitia lakukan silaturahmi diharapkan menggugah masyarakat Padang. Satu pertemuan ke lokasi berikutnya. Terus begitu. Gak melelahkan semangat panitia. Bergelora jiwa kebangsaan dan panggilan patriotik untuk Ibu Pertiwi. Periode dua bulan, kelompok masyarakat bawah, amai-amai (ibu-ibu) berbondong-bondong daftarkan diri. Mereka hadir, sumbangkan perhiasan emas dan perak.
Lokasi yang dijadikan sebagai tempat pertemuan. Rumah, tanah lapang, masjid, surau-surau, bahkan gedung sekolah. Apa saja, untuk menghimpun dan bikin orang-orang berkumpul. Semua panitia lakukan. Titik kumpul, bergerak mendekati masyarakat. Panitia turun, mendatangi. Panitia meminta kerelaan perempuan minang sumbangkan perhiasan emas dan perak (alat pembayaran tercepat) bantu perjuangan.
Gak disangka dan ternyata dari perkiraan waktu, makin cepat terkumpul. Gerakan menggalang dana perjuangan berhasil. Sekalipun kondisi ekonomi lagi kepayahan di masa Revolusi Kemerdekaan, ternyata antusias untuk keinginan membeli pesawat terbang dapat sambutan yang luar biasa. Terkumpul emas dan perak sebanyak satu kaleng biskuit. Tepatnya pada November 1947, di kantor Gedung Agung (Sekarang Istana Bung Hatta), Wakil Presiden Bung Hatta terima emas tersebut.
Panitia berhasil. Perhiasan diterima Bung Hatta, sumbangan rakyat Sumatera Barat diterima dan dilebur. Dijadikan emas batangan seberat 14 kilogram (kg). Diterima Bung Hatta dari Ketua Majelis Pertahanan Rakyat Daerah (MPRD) Sumatera Barat, Chatib Sulaiman.
Selanjutnya Bung Hatta memberikan penugasan kepada Aboe Bakar Loebis bersama tim untuk membeli Pesawat Terbang. Pesawat Terbang berhasil dibeli. Pesawat Terbang jenis Avro Anson didapat dari Thailand. Pemilik pesawat bernama Paul H Keegan, warga negara Australia. Pesawat yang dibeli merupakan pesawat ex penerbang RAF (Angkatan Udara Kerajaan Inggris) saat Perang Dunia II.
Dan bulan Desember 1947, pesawat terbang yang baru dibeli diterbangkan ke lapangan udara Gadut, Bukittinggi. Penerbang dilakukan oleh Keegan sendiri didampingi Dick Tamimi dan Ferdy Salim dari Songkhla, Thailand Selatan. Pesawat baru bisa terbang setelah izin ‘clearance’ dari perwakilan AURI di Singapura. Perwakilan negara Indonesia nyatakan Avro Anson dalam kondisi layak terbang.

Kepemilikan pesawat diserahkan kepada AURI, lalu mengganti nomor pesawat dengan registrasi Indonesia berkode RI-003 dan VH-BBY. Pesawat pun tiba di Bukittinggi. Pesawat yang dibeli dipertontonkan ke khalayak Minang. Pesawat dibeli seharga 12 kg emas. Setelah pesawat digadang-gadang. Tibalah di Bukittinggi dua pilot terbaik AURI dari Yogyakarta. Pilot Iswahyudi mengadakan percobaan terbang. Pesawat diterbangkan. Berhasil terbang, dua pilot mengamini bagus. Layak terbang. Pesawat Avro Anson pun jadi milik bangsa Indonesia.
Tepatnya pada tanggal 9 Desember 1947, pesawat diterbangkan dari Gadut menuju Songkhla dan transit untuk mengisi bahan bakar di Pekanbaru. Dua penerbang dari AURI, Opsir Udara I Iswahyudi sebagai pilot. Dan Komodor Muda Udara Halim Perdanakusuma bertindak menjadi navigator. Dalam pesawat ditumpangi Paul Keegan, Aboe Bakar Loebis, Is Yasin, dan Dick Tamimi. Tujuan terbang selain mengantarkan Keegan pulang, tim yang berangkat mendapatkan misi dari Bung Hatta. Tim bekerja cepat dan ditugasi memulai lobby-lobby pembelian senjata.
Berkat kerjasama intelijen dan bantuan perwakilan negara. Kehadiran tim berjalan mulus. Transaksi jual-beli berbentuk penukaran kerjasama dilakukan. Pasokan senjata dikirim lewat jalur Singapura ke RI untuk siasati Embargo Belanda. Usai misi di Thailand, Aboe Bakar Loebis dan teman-teman ditangkap polisi setempat. Mereka diusir, deportasi. Tuduhannya penyelundup candu, emas dan perhiasan.
Saat itu di Songkhla masih sore hari. Akhirnya misi diputuskan berbagi tugas. Abu Bakar Lubis dan kawan-kawan bergeser. Tim bergerak ke Penang, Malaysia, menuju Singapura untuk sampai ke Bukittinggi. Sementara kedua pilot, Halim Perdanakusuma dan Iswahyudi. Ditugasi mengantarkan Keegan pulang. Lalu balik ke Gadut, Bukittinggi.
Nasib buruk menimpa, dan beritanya kurang bagus. Tanggal 14 Desember 1947, usai berpisah dari pembagian tugas di Thailand. Tim memang tidak lagi bersama. Pesawat terbang dari Bangkok menuju Singapura mengantarkan pulang Paul Keegan urung sampai. Kondisi cuaca buruk, lokasi terbang berada di wilayah Perak-Malaysia. Pesawat terjebak dalam keadaan alam yang tidak bersahabat. Pesawat RI-003 jatuh.
Pesawat terbang type Avro Anson jatuh di Malaysia. Titik lokasi jatuh di Pantai Selat Malaka, dekat Tanjong Hantu, Negeri Perak, Malaysia. Dalam perjalanan terbang menuju Singapura pesawat dihadang cuaca buruk. Tim Abu Bakar Lubis yang pindah ke Singapura lewat jalur darat terima berita buruk. Satu jam, saat tim tiba di Singapura, Aboe Bakar Loebis mendapatkan telegram dari Polisi Malaka. Berita dalam telegram mengabarkan satu unit pesawat Avro Anson kondisinya jatuh di pantai Selat Malaka, dekat Tanjong Hantu, Negeri Perak, Malaysia.
Pada tanggal 14 Desember 1947, pukul 16.30an tersiar berita kurang bagus diterima polisi Lumut dari laporan dua warga Tiongkok. Mereka berprofesi sebagai penebang kayu, adalah Wong Fatt dan Wong Kwang, melaporkan Pesawat RI-003 jatuh. Dikutip dari tni-au.mil.id, seorang petugas kepolisian berbangsa Inggris bernama Burras segera pergi ke tempat musibah. Baru pada pukul 18.00 ia tiba dilokasi kejadian. Namun, dia tidak menemukan sesuatu, karena air laut kondisinya pasang. Kesokan hari, Kepala Polisi Lumut bernama Che Wan dan seorang anggota Polisi Inggris bernama Samson berangkat ke tempat kecelakaan. Mereka tiba di lokasi pukul 09.00.
Dari temuan di TKP, berkat bantuan nelayan setempat ditemukan sosok jenazah mengapung berjarak ratusan yards dari lokasi reruntuhan pesawat. Dalam temuan disampaikan juga ada sebuah dompet, buku harian pesawat, kartu-kartu nama, sarung pistol yang sudah tidak ada pistol, sarung pisau tertulis nama Keegan. Dan beberapa potong pakaian. Dari bukti-bukti yang ditemukan disimpulkan, ini benar milik pesawat Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI).

Keterangan polisi memberikan penjelasan kecelakaan terjadi bukan karena kerusakan mesin, tetapi akibat cuaca yang sangat buruk. Kabar kecelakaan pesawat RI-003 tersebar luas, beberapa di antaranya dimuat dalam surat kabar berbahasa Inggris The Times dan Malay Tribune terbitan pada tanggal 16 Desember 1947.
Peristiwa naas pesawat RI-003 membuat para tokoh dan masyarakat di Malaysia bersimpati terhadap perjuangan Indonesia. Malaysia menaruh perhatian besar terhadap jatuhnya pesawat RI-003. Mereka bangga terhadap solidaritas kebangsaan dalam berjuang mempertahankan kedaulatan Indonesia.

Di lokasi Lumut, segera dibentuk panitia pemakaman. Tim bertugas untuk menjemput dan menguburkan Halim Perdanakusuma. Dalam peristiwa ini, mayat Iswahyudi tidak ditemukan hingga sekarang. Hanya ada jenazah Halim Perdanakusuma. Dikuburkan di Malaysia.
Beberapa tahun berikutnya, jasad pilot Halim dipindahkan ke TMP Kalibata di Jakarta. Sebagai bukti sejarah, mengenang peristiwanya dibangun monumen karena telah melahirkan dua pahlawan nasional, Iswahyudi dan Halim Perdanakusuma.

Pemerintah kemudian membangun monumen di Lapangan Udara Gadut, Kecamatan Tilatang Kamang, berjarak 5-km dari kota Bukittinggi. Dan nama Iswahyudi diabadikan menjadi lapangan terbang AURI di Malang, adapun Halim Perdanakusuma, namanya dilekatkan sebagai nama Pangkalan Utama AURI di Jakarta.
Inilah nasib pesawat RI-003. Belum maksimal dimanfaatkan. Tetapi pesawat terbang milik AURI adalah pesawat Bangsa Indonesia dibeli dari sumbangan emas masyarakat Minangkabau. Sobat Pariwisata, sudah tahu faktanya?









































Leave a Reply