PariwisataIndonesia.id – Sobat Pariwisata, bangsa ini dikenal akan kemajemukan budayanya, membentang luas dari titik terujung Indonesia dimulai dari Sabang sampai Merauke. Indonesia sungguh istimewa dan menarik, bukan?
Nah Sobat, Salah satu bentuk kebhinnekaan Indonesia, redaksi menyuguhkan untuk mengungkapkan perbedaan budaya di negeri ini bisa terlihat di setiap tarian tradisional. Merayakan perbedaan lewat tarian di tanah air, sungguh istimewa dan menarik, bukan?
Sebut saja, “Tari Saman dari Nanggroe Aceh Darussalam!”
Baca juga: Rateeb Obor, Ikhtiar Leluhur Aceh Menghadapi Pandemi
Tarian adat dari Tanah Rencong memiliki keistimewaan dan ada makna filosofi di baliknya
Sobat Pariwisata Indonesia, semenjak ditetapkan Warisan Budaya Tak benda United Nations Educational, Science and Cultural Organization (UNESCO), Tari Saman semakin mendunia.
Sejumlah perhelatan akbar digelar untuk menyemarakkan penghargaan itu. Salah satunya, pertunjukkan Tari Saman massal dan rekor dunia, mendapat pengakuan MURI.
Baca juga: Rentak Irama Dalam Kebersamaan
Asal Mula Tari Saman
Tarian adat dari kota Serambi Mekkah diciptakan oleh seorang ulama di abad XIV Masehi, yakni Syekh Saman.
Tari Saman sendiri berasal dari daerah dataran tinggi Gayo, yang secara administratif meliputi daerah kabupaten Aceh Tengah, dari kota tersebut sudah tentu ini warisan budaya sarat media dakwah.
Oleh karenanya Sobat Pariwisata, warisan luhur dari kota Serambi Mekkah, rekam jejak peninggalan bisa juga terungkap, salah satunya melalui Tari Saman ini.
Awal mula perkembangannya merupakan tarian sakral, sehingga tidak bisa dipertunjukkan sembarangan.
Menelisik kembali jejak sejarahnya, Sobat Pariwisata, tarian ciptaan Syekh Saman bermula dari permainan rakyat bernama Prok Ane.
Berikutnya, kerap dipentaskan pada saat merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW atau dikenal sebagai peringatan Hari Maulid Nabi Muhammad SAW.
Makna Tari Saman
Berkat Ulama Aceh inilah, tarian ini dijadikan sebagai media dakwah.
Sebelum tarian dipertunjukkan, maka pemuka adat akan melakukan pemberian nasihat untuk para penonton sekaligus para pemainnya sendiri.
Redaksi menduga, “Kira-kiranya, ya begitulah. Kurang dan lebih, mohon diampuni.”
Di mana kala itu, pemuka agama berpikir keras untuk menggiring perilaku masyarakat dalam berkehidupan sosial.
Mengawali pentas, pemangku adat memberi sambutan pepatah-pepatah dalam masyarakat Aceh dan ajaran agama Islam terasa begitu kental.
Sobat Pariwisata Indonesia, Tari Saman mempunyai gerakan-gerakan disiplin. Ada tepukan kedua telapak tangan ke dada, lalu ada irama musik gembira bertempo cepat.
Terlihat dalam gerak tarian terungkap makna tertentu. Redaksi meyakini, Makna berdekatan dalam jumlah penari yang banyak, simbol manusia sebagai makhluk sosial.
Baru kemudian, ada simbol penghormatan terhadap Nabi Muhammad SAW. Tampak, para penari harus duduk berbaris membentuk garis lurus.
“Ada apa lagi, Sob?”
Terdapat pada ragam gerak tarian, penari melakukan gerakan sambil duduk dan kaki bertumpu, layaknya duduk di antara dua sujud.
Makna lain dalam Tari Saman, yakni Allah SWT memerintahkan umatnya untuk menjalankan sholat.
Sobat Muslim, “Seburuk apapun kehidupan dampak pandemi Covid-19, Allah SWT turunkan wabah ini bagian dari ujian hidup kita semua dan jangan pernah sekali-kali meninggalkan sholat. Jangan, ya!”
“Indonesia sungguh istimewa dan menarik, bukan?
Tari Saman, Budaya mengikuti Peradaban
Sobat Pariwisata Indonesia, dulunya, tarian ini selalu dipentaskan tanpa diringi musik atau lagu di belakangnya.
“Perubahan zaman, membawa Tari Saman mentransformasi!”
Tari Saman bisa disebut-sebut budaya mengikuti peradaban karena ada penambahan lagu-lagu rohani serta iringan musik yang datang dari bunyian rebana.
Oh ya, Sobat Pariwisata, karena Tari Saman berasal dari dataran Gayo, wajar jika tarian tradisionalnya menggunakan bahasa Gayo dan biasanya lagi, dilantunkan oleh penari yang bersuara lantang yang berada di tengah-tengah formasi sambil menyemangati.
Mereka yang berada di tengah formasi tersebut seorang yang diistimewakan, bertugas untuk mengendalikan jalannya pertunjukkan.
Satu lagi, “Tari Saman biasanya ditarikan oleh kaum pria!”
Tari Saman semirip Tari Ratoh Duek, yang membedakan Tari Saman dimainkan oleh laki-laki, Tari Ratoh Duek sebaliknya.
Dari jumlah penari, Tari Saman dibawakan secara berkelompok, minimal tujuh orang.
Bisa juga hingga puluhan bahkan jutaan orang, terpenting, jumlahnya harus ganjil.
Sementara Tari Ratoh Duek berjumlah genap. Kesamaan kedua tarian ini, sama sama ditarikan dengan formasi duduk.
Sekali lagi, dan menjadi penutup tulisan pertama, tarian yang dikembangkan oleh Syekh Saman, seorang ulama yang berasal dari Gayo di Aceh Tengah sudah ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak benda di Bali, pada 24 November 2011.









































Leave a Reply