Tudung Manto

Tutup Kepala Para Bangsawan
pariwisata indonesia
Foto: inikepri.com

PariwisataIndonesia.id– Sobat Pariwisata, Indonesia memiliki beragam hasil kerajinan tangan yang unik, indah, dan memesona. Selain sebagai identitas budaya, kerajinan ini juga kerap dijadikan mata pencaharian. Banyak dari kerajinan tersebut yang merupakan warisan nenek moyang dari berabad-abad silam. Salah satunya adalah Tudung Manto.

pariwisata indonesia
Foto: humas.kepriprov.go.id

Tudung Manto berasal dari Bahasa Melayu. Tudung artinya tutup kepala. Sedangkan manto berarti sulaman atau bordiran yang menggunakan benang khusus. Tudung Manto memiliki panjang 150-200 cm, lebar 70-80 cm, serta terbuat dari bahan kain sifon, kase, sari, atau sutra. Salah satu ciri khas tudung ini adalah motif atau hiasan wajib yang disebut genggeng atau kelingkan yang tidak boleh diganti dengan bahan lain.

Kelingkan terbuat dari kawat lentur seperti benang berwarna emas atau perak. Jika menggunakan benang emas, maka jarum yang digunakan untuk menyulam adalah jarum perak. Sedangkan jika menggunakan benang perak digunakan jarum tembaga.

pariwisata indonesia
Foto: disbudpar.batam.go.id

Tudung Manto diperkirakan berkembang pada masa pemerintahan Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah I (1722-1760), yang memimpin Kerajaan Riau Lingga. Pada masa itu, Kerajaan Riau Lingga berkuasa di Semenanjung Melayu dengan pusat pemerintahan di Hulu Riau. Keberadaan tudung ini diyakini merupakan pengaruh dari budaya India dan Arab.

Ada beberapa warna Tudung Manto yang penggunaannya disesuaikan dengan status sosial dalam masyarakat. Tudung warna kuning dikhususkan untuk keturunan sultan atau raja. Tudung warna hijau dikhususkan untuk perempuan bergelar syarifah dan tengku. Sedangkan masyarakat awam umumnya menggunakan tudung warna hitam.

Pada masa lalu, tudung ini hanya digunakan perempuan yang telah menikah saat menghadiri acara-acara tertentu. Cara pemakaiannya cukup sederhana, dengan meletakan tudung di atas kepala, menjulur ke bagian pipi hingga ke bawah.

Dalam perkembangannya, tudung ini boleh dipakai oleh siapa saja, dengan cara pemakaian yang menggambarkan status pernikahan. Perempuan yang belum menikah menggunakan tudung manto di leher, yang telah menikah menggunakannya di kepala, sedangkan yang berstatus janda dapat menggunakannya di leher maupun di kepala.

Motif Tudung Manto dapat dikelompokan secara sederhana antara lain:

Pertama, tali air atas dan bawah yang merupakan motif berbentuk garis di bagian paling ujung kain. Motif ini dibuat di sekeliling kain dan berfungsi sebagai pembatas motif.

Kedua, bunga kaki bawah yaitu otif antara tali air atas dan tali air bawah. Beberapa motif yang kerap digunakan sebagai bunga kaki bawah, antara lain itik pulang petang dan bunga pecah piring, awan larat dan kelok paku, kelok paku dan bunga kangkung, awan larat dan pecah piring, semut beriring, cengkeh dengan kelok paku, serta kelok paku dan bunga kendur.

Ketiga, bunga tabur dan bunga pojok. Bunga tabur adalah motif sekuntum bunga tunggal yang dibuat bertaburan dengan jarak tertentu. Beberapa motif yang digunakan misalnya, bunga melur, kuntum sekaki, bintang-bintang, bunga cengkeh, dan sebagainya. Sedangkan bunga pojok adalah motif yang ketaruh di keempat sudut tudung dan memiliki bentuk yang lebih beragam, misal motif kembang setaman, awan larat dengan bunga setandan, dan bunga melur.

Keempat, motif bulat kecil atau mutu yaitu motif berbentuk bulat kecil yang digunakan untuk mengisi ruang kosong dalam tudung.

Terakhir, motif hiasan pinggir yang terdiri dari oyah (jalinan benang emas dengan kelingkan yang berbentuk motif ombak), selari (motif ombak yang langsung dibuat menyatu dengan motif tali air bawah), dan jurai (terbuat dari manik-manik).

Pembuatan motif baru Tudung Manto tidak boleh dilakukan sembarangan. Motif yang dikembangkan harus merujuk pada segala sesuatu yang berada di lingkungan masyarakat Melayu. Selain itu, jika ingin membuat motif hewan, maka harus dibuat abstrak dan dicampur dengan objek lain. Bagi masyarakat Melayu, menaruh gambar hewan di kepala dianggap membuat derajat manusia berada di bawah hewan.

Kerumitan dan ketatnya persyaratan sebuah motif baru membuat para pengrajin lebih memilih menggunakan motif lama yang telah disepakati dan diterima oleh masyarakat Melayu. Untuk membuat sebuah Tudung Manto diperlukan waktu sekitar 15 hari hingga satu bulan.

Bagi masyarakat Melayu, Tudung Manto berfungsi untuk mengingatkan para penggunanya akan nilai atau norma yang telah disepakati bersama. Di masa sekarang, selain untuk perempuan Melayu, Tudung Manto juga kerap dijadikan cenderamata dari Kepulauan Riau.

Pada tahun 2015, Tudung Manto ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dari Kepulauan Riau.(Nita)