Inilah Gunung Di Indonesia Paling Tinggi dan Terpendek, Sudah Tahu Belum Sob? (Seri-2)

umi kalsum founder dan ceo media pvk group,GUNUNG NGLANGGERAN,GUNUNG TERPENDEK DI INDONESIA,GUNUNG TERTINGGI DI INDONESIA,INILAH GUNUNG DI INDONESIA PALING TINGGI DAN TERPENDEK,MEDIA PVK GROUP DENGAN 10 SITUS PARIWISATA DAN E MAGAZINE,MEDIA RESMI PARIWISATA INDONESIA,PARIWISATA INDONESIA,PARIWISATA JOGJAKARTA,WEBSITE RESMI PARIWISATA INDONESIA
Foto Udara jalur Zebra Gunung Api Purba Ngelanggeran (Foto: PLANET CLIMBER/Hendra Nurdiyansyah)

PariwisataIndonesia.id – Sobat Pariwisata Indonesia, Gunung Nglanggeran berada di ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut dengan luas kawasan pegunungan mencapai 48 hektar, dan sederetan dengan pegunungan Baturagung.

Inilah Gunung Di Indonesia Paling Tinggi dan Terpendek, Sudah Tahu Belum Sob? (Seri-1)  <<< Sebelumnya

Cocok sekali bagi pendaki pemula, karena Gunung Nglanggeran adalah gunung terpendek di Indonesia. 

Berdasarkan penelitian, terbentuk sejak 60-70 juta tahun yang lalu. Dulunya, merupakan salah satu gunung api purba aktif di Indonesia yang terbentuk dari bebatuan karst.

Selain itu, Gunung Nglanggeran berasal dari gunung api di dasar laut yang terangkat dan terus menjulang tinggi kemudian menjadi daratan.

Walaupun disebut gunung berapi, tak perlu khawatir, Sob! Sebab, Gunung Nglanggeran sudah lama tidak aktif dan aman untuk didaki.

Baca juga :  Mendaki Gunung Mirip Berjalan di Atas Awan; Hutan Di Indonesia Kaya Karbon Berkontribusi sebagai Paru-paru Dunia

Menelisik sejarahnya, kata “nglanggeran” diterjemahkan dalam bahasa Jawa “nglanggar” yang artinya melanggar.

Berdasaran cerita rakyat sekitar yang melegenda sampai sekarang, gunung ini menjadi tempat untuk menghukum warga desa yang ceroboh karena merusak wayang.

Dalam kisahnya, peristiwa tersebut terjadi pada ratusan tahun silam. Saat itu, penduduk desa melangsungkan perhelatan Akbar sebagai ungkapan syukur atas hasil panen mereka. Kemudian, mengundang seorang dalang dari dari desa luar.

Disinilah kisahnya bermula. Warga di desa itu merusak wayang milik si dalang. Melihat hal tersebut, sontak ia langsung murka dan mengutuk pelakunya menjadi sosok wayang. Lalu, ia hempaskan ke Bukit Nglanggeran.

Baca juga :  Wisata Anti Mainstream Di Gunung Halau-halau Sensasinya Sik Asik, Cobain Deh!

Dalam cerita lain masih menurut warga asli di sini, bahwa di sekitar Gunung Nglanggeran terdapat sejumlah batu besar yang kerap digunakan sebagai tempat pertapaan menjelang malam tahun baru Jawa atau Jumat Kliwon.

Mereka meyakini, kawasan tersebut dijaga oleh Kyai Ongko Wijoyo serta tokoh pewayangan Punokawan atau punakawan. Tak cuma itu saja, mereka yang bersemadi di puncak gunung menganggap tempat itu bagus untuk berdoa, karena penuh keramat.

Awal mula sebelum viral seperti sekarang, kawasan ini masih dikelola oleh Karang Taruna Bukit Putra Mandiri. Mereka mengelolanya sejak tahun 1999 dengan mengenakan tarif masuk per orang sebesar Rp500, dan pada masa itu masih minim fasilitas.

Lambat laun, melihat potensi budaya dan ekowisata di situs Gunung Nglanggeran, sejak tahun 2008, Badan Pengelola Desa Wisata Nglanggeran mengambil alih dan menambah berbagai fasilitas agar pengunjung semakin nyaman.

Untuk mendaki ke puncaknya, membutuhkan waktu lebih kurang dua jam perjalanan dari berangkat sampai kembali turun. Dengan cara, menapaki jalanan tanah serta lorong-lorong bebatuan yang sempit. Tampak juga sejumlah papan petunjuk untuk memudahkan pendakian.

Bila pendakian dimulai sore hari, selagi cuacanya mendukung, dijamin kita akan mendapati pemandangan matahari terbenam yang menyertai perjalanan, dan sungguh indah suasananya tersebut.

Saat pendakian ke puncak Gunung Nglanggeran, jangan terkaget-kaget masih ada lagi objek wisata lainnya seluas 5.000 meter persegi, yaitu Embung Nglanggeran.

Embung tersebut tak kalah menariknya, berbentuk seperti telaga besar di ketinggian sekitar 500 meter dari permukaan laut. Kehadirannya, selain untuk penunjang pariwisata.

Di sisi lain, berfungsi sebagai kawasan untuk menampung air hujan guna mengairi perkebunan buah seperti kelengkeng, durian, dan rambutan yang tumbuh di sekeliling embung. Di kala musim kemarau, para petani setempat, kerap memanfaatkan airnya untuk mengairi sawah.

Objek wisata yang satu ini, juga terbilang asik. Pasalnya, dari puncak Embung Nglanggeran, pengunjung bisa menatap gunung api purba di seberang embung. Sekaligus, menikmati panorama matahari terbenam, dan terdapak spot-spot foto yang instagramable loh!

Baca juga :  Naik-naik ke Puncak Gunung; Bangun Tidur Lagi … “Ohh Indahnya Indonesia”

Setelah dikelola Badan Pengelola Desa Wisata Nglanggeran, kawasan ini semakin apik dan tertata secara baik. Dalam laman resminya, terhitung 1 Juli 2016, pihaknya menentukan harga terbaru untuk tiket per orang sebesar Rp15ribu saat siang hari, dan Rp20ribu di kala malam hari, untuk wisatawan mancanegara beda lagi harganya, yaitu Rp30ribu.

Di sepanjang kawasan tersebut tersedia pemukiman penduduk yang beralih fungsi menawarkan homestay. Ada juga, wisatawan yang pilih menginap di puncak Gunung Nglanggeran dengan cara camping.

Mereka yang camping, umumnya mau nikmati pemandangan matahari terbit, matahari terbenam dan keheningan suasana puncak gunung yang menghadirkan sensasi tersendiri.

Demikian penjelasan singkat terkait gunung tertinggi dan terpendek yang ada di Indonesia.

Di akhir tulisan, tiga caption yang disematkan redaksi terkait naik gunung sebagai penutup artikel.

  1. Mendaki gunung agar bisa menatap keindahan alam ciptaan Tuhan YME yang membentang luas sejauh mata memandang, bukan mencitrakan diri agar dunia harus melihat kita.
  2. Manalah mungkin ke puncak gunung dicapai dengan hanya memandangi dari kejauhan.
  3. Dengan bersiteguh dan persiapan yang matang, mungkin saja pendaki mampu menaklukkan gunung. Tetapi, waspadai satu hal, yaitu keangkuhan diri. Meski sebutir kerikil melekat dalam pendakian, kesombongan itu hanya akan menyisakan duka dan tersungkur.

Sobat Pariwisata, mendaki gunung bisa dikategorikan olahraga ekstrem dan digemari bukan di kalangan pria saja, banyak juga diminati oleh wanita remaja dan yang sudah berkeluarga sehingga menjadikan aktivitas ini sebagai wisata yang cukup populer.

“Konon Katanya” setelah menaklukkan satu gunung dijamin bisa bikin ketagihan, loh!

Mereka akan tergoda ke gunung berikutnya untuk ditaklukkan. Selain itu, pesona alam naik gunung banyak pihak mengakui, begitu indah dan selalu memikat hati untuk rindu kembali menjelajahinya.

Oh, ya Sobat Pariwisata! Sebentar lagi, menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-76 tahun.

Ini momen khusus bagi komunitas pendaki gunung Indonesia atau mereka yang tergerak secara pribadi dan tak ingin melewatkan pengibaran Sang Saka Merah Putih dengan memperingatinya di puncak gunung pada 17 Agustus nanti. Tertarik, Sob? (Indah Ms/Eh)