Kue Lapan Jam, Si Legit dari Palembang

Filosofi Kue Lapan Jam merujuk pada tiga pembagian waktu dalam 24 jam, yang bermakna waktu bekerja, waktu beribadah, dan waktu beristirahat. Selain itu, angka delapan juga merujuk pada jumlah orang yang membawa keranda jenazah. Pesan ini sebagai pengingat, setiap manusia akan menghadapi kematian, sehingga perlu mempersiapkan diri sebaik mungkin. Penasaran dengan camilan ini? Simak ulasannya, ya!
Umi Kalsum Founder PVK Grup dan CEO Media PVK Grup,EXPLORE INDONESIA,FILOSOFI KUE DELAPAN JAM,HALO INDONESIA,5 DESTINASI SUPER PRIORITASINDONESIA CULTURE AND TOURISM,INDONESIA OFFICIAL TOURISM WEBSITE,INDONESIA TOURISM INVESTMENT,INDONESIA'S OFFICIAL TOURISM WEBSITE,INDONESIAN TOURISM WEBSITE,KUE DELAPAN JAM,KULINER PALEMBANG,MAKANAN KHAS SUMATERA SELATAN,MAKANAN KHAS TRADISIONAL INDONESIA, MEDIA ONLINE PARIWISATA INDONESIA,MEDIA ONLINE PARIWISATA INDONESIA TERFAVORIT 2020,MEDIA PVK GRUP,MEDIA RESMI PARIWISATA INDONESIA,PARIWISATA INDONESIA,PARIWISATA SUMATERA SELATAN,SITUS ONLINE PARIWISATA INDONESIA TERFAVORIT 2020,SITUS RESMI PARIWISATA INDONESIA,WEBSITE PARIWISATA INDONESIA OFFICIAL, WEBSITE RESMI PARIWISATA INDONESIA, Indonesia, Pariwisata Indonesia Bangkit
Kue Delapan Jam / Foto: @kueberkatyakin

PariwisataIndonesia.id – Sobat Pariwisata, Palembang memang terkenal dengan Pempek. Namun, selain sajian gurih pedas ini, Palembang juga memiliki kuliner manis legit. Namanya, Kue Lapan Jam.

Baca juga :  Pempek khasnya Kota Palembang, Cobain, Yuk!

Nah, proses pembuatan kue serupa dengan namanya. Saat proses, memang butuh yang namanya kesabaran. Durasi waktu yang tak sebentar itu akan menghasilkan kue nan legit dan terkenal akan kelezatannya.

Baca juga :  2 Resep Makanan Palembang Terfavorit selain Pempek, “Lemak Nian”

Dahulu kala, Kue Lapan Jam merupakan camilan yang bisa dinikmati oleh kalangan bangsawan. Komposisinya merupakan bahan mewah bagi rakyat pada masa itu. Namun, saat ini Kue Lapan Jam dapat dinikmati oleh berbagai kalangan. Biasanya, masyarakat Palembang menyuguhkan kue ini saat lebaran atau imlek.

Menurut masyarakat Palembang, Kue Lapan Jam memiliki makna tersendiri. Delapan jam merujuk pada tiga pembagian waktu dalam 24 jam, yang bermakna waktu bekerja, waktu beribadah, dan waktu beristirahat. Selain itu, angka delapan juga merujuk pada jumlah orang yang membawa keranda jenazah. Hal tersebut sebagai pengingat bahwa setiap manusia akan menghadapi kematian, sehingga perlu mempersiapkan diri sebaik mungkin.

Untuk membuat Kue Lapan Jam, diperlukan bahan-bahan antara lain telur, mentega, gula, tepung terigu, vanili, dan susu kental manis. Bahan-bahan tersebut dicampur kemudian dikukus selama delapan jam. Dalam waktu delapan jam tersebut, gula akan membentuk karamel sedangkan telur akan memadat. Kedua bahan ini akan disatukan dalam proses pemanggangan yang dilakukan setelah pengukusan.

Baca juga :  Nasi Minyak khas Palembang
Baca juga :  Kisah Cinta di Pulau Kemaro

Proses memasak yang lama menjadi salah satu rahasia kue ini. Jika kurang dari delapan jam, kue yang dihasilkan akan mudah hancur dan tidak terasa kenyal. Cita rasa yang legit, manis, lembut, dan lumer di mulut menjadi daya tarik utama yang membuat orang ketagihan saat mencicipi kue ini.

Biasanya, kue ini disajikan utuh di hadapan tamu. Saat tamu ingin mencicipinya, kue baru dipotong tipis-tipis. Kue Lapan Jam sangat cocok dinikmati dengan segelas kopi atau teh.

Sobat Pariwisata, pada tahun 2015, Kue Lapan Jam ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dari Provinsi Sumatera Selatan. (Nita/Kusmanto)