Baju Adat Aceh Pesisir, Busana Percampuran Tiga Budaya

Sobat Pariwisata mungkin masih ingat busana yang digunakan Cut Meyriska dan Roger Danuarta dalam pernikahan mereka. Pesona baju adat Aceh Pesisir yang digunakan kedua selebritis ini memang mengundang perhatian banyak mata. Yuk, kita mengenal lebih dekat baju adat tradisional dari Provinsi Aceh.
Baju Adat Aceh Pesisir, Busana Percampuran Tiga Budaya, Cut Meyriska, Roger Danuarta, pernikahan cut meyriska dan roger danuarta, pariwisata indonesai, pariwisata, media pvk, umi kalsum, berita tentang baju adat aceh, cerita tentang kebudayaan aceh, pariwisata aceh
Foto: @rogerojey

Sobat Pariwisata mungkin masih ingat busana yang digunakan Cut Meyriska dan Roger Danuarta dalam pernikahan mereka. Pesona baju adat Aceh Pesisir yang digunakan kedua selebritis ini memang mengundang perhatian banyak mata. Yuk, kita mengenal lebih dekat baju adat tradisional dari Provinsi Aceh.

Baju adat Aceh sebenarnya terbagi dua, yaitu baju adat Gayo dan baju adat Aceh pesisir. Pada zaman dahulu, baju adat Aceh pesisir hanya digunakan oleh kalangan bangsawan atau Ulee Balang. Namun, saat ini masyarakat umum pun bisa mengenakannya, saat pernikahan atau pertunjukann tari.

Baju adat Aceh Pesisir dipengaruhi setidaknya oleh tiga kebudayaan, yaitu Tionghoa, Melayu, dan Islam. Hal ini membuat baju adat Aceh pesisir unik dan memesona.

Baju adat Aceh pesisir untuk laki-laki disebut dengan Linto Baro yang diperkirakan mulai ada saat zaman. Kerajaan Perlak dan Samudra Pasai. Bagian atas baju ini berupa berupa baju sejenis breskap yang. dinamakan Meukasah. Baju ini umumnya berwarna dasar hitam, sebagai perlambang kebesaran. Desain pada bagian leher serta hiasan dari benang emas identik dengan baju Tionghoa.

Bagian bawah baju Linto Baru adalah celana berwarna dasar hitam yang disebut dengan Sileuweu atau celana ‘Cekak Musang’ karena mirip dengan celana khas Melayu. Celana ini dihias dengan lilitan sarung songket yang panjangnya sampai lutut atau 10 centimeter di atas lutut, yang membuat penampilan pria Aceh semakin berwibawa.

Pada bagian kepala dikenakan Meukotop, yaitu kopiah berbentuk lonjong ke atas yang dilengkapi dengan lilitan tenun sutra yang disebut Tengkulok, dan berhias bintang persegi delapan. Meukotop ini berguna sebagai penutup kepala layaknya peci dalam budaya Islam. Baju Linto Baro dilengkapi dengan rencong yang diselipkan pada lipatan sarung di bagian pinggang, dengan gagang yang menonjol leluar. Peletakan senjata tradisional ini sebagai simbol keberanian dan identitas diri masyarakat Aceh.

Baju adat Aceh pesisir untuk wanita dinamakan Daro Baro. Berbeda dengan baju Linto Baro, baju adat untuk wanita ini menggunakan warna yang lebih cerah, seperti merah, kuning, ungu, atau hijau. Bagian atas baju ini adalah baju kurung, baju terusan lengan panjang yang berbentuk melebar hingga bagian pinggul. Bentuknya yang tidak ketat, bertujuan untuk menyamarkan lekuk tubuh wanita. Hal itu sesuai dengan ajaran agama Islam yang dianut mayoritas masyarakat Aceh. Baju berkerah ini juga dihiasi dengan sulaman emas yang menjadi ciri khas kebudayaan Tiongkok.

Pada bagian bawah, baju ini juga dilengkapi sama seperti celana pada baju Linto Baro. Yang membedakan adalah lilitan kain yang dibuat dengan panjang hingga di bawah lutut. Jika pria mengenakan Meukotop, maka wanita Aceh pesisir mengenakan kerudung yang dilengkapi mahkota atau biasa disebut Patham Dhoi, untuk menghiasi bagian kepalanya. Patham Dhoi yang biasanya menggunakan bunga alami, membuat penampilan wanita Aceh semakin cantik dan menarik. Selain itu, wanita Aceh pesisir juga melengkapi dirinya dengan aksesoris seperti tusuk sanggul, gelang, kalung, dan sebagainya.

Gimana Sobat Pariwisata, baju Aceh Pesisir cantik dan mempesona, bukan. Penasaran untuk mencoba? (Nita/Kusmanto)