Begini Pandangan Ayu Astiti Saraswati Soal Perempuan sebagai Agent of Change Pembangunan

Persaingan Antar Kubu Menuju Kursi Ketua Asita Bali, 3 Arjuna VS 1 Srikandi. Berikut daftar lengkap nama 4 Kandidat Ketua DPD dan 2 Kandidat Ketua DEPETA ASITA Bali yang akan “bertarung” dalam memperebutkan suara. Silakan baca!
CEO Toya Devasya, Putu Ayu Astiti Saraswati / Foto: Nyoman-PI Bali

Bali, PariwisataIndonesia.ID – Menyoroti peran wanita sebagai agent of change (agen perubahan, red) dalam pembangunan ‘versus’ belenggu budaya patriarki terhadap kesetaraan gender yaitu laki-laki memiliki hak istimewa terhadap perempuan atau ‘dicap kelompok kelas dua’ alias kurang trengginas.

Baca juga : Begini Pandangan Ayu Astiti Saraswati Soroti Open Border Bali

Mengomentari hal tersebut, upaya mencegah dan menangani stigma sosial seputar “Pengarusutamaan Gender (PUG)”, CEO Toya Devasya, Putu Ayu Astiti Saraswati ikut angkat bicara terkait hal itu.

Putri Sulung Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah Bangli yang akrab disapa Ayu diketahui ikut meramaikan kursi Ketua Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Bali.

Kontributor Bali, Komang M. Bramasta dan Nyoman Sarjana dari Kintamani mewartakan untuk pembaca Media Pariwisata Indonesia, selamat membaca!

Mengawali wawancaranya menyampaikan, tonggak estafet kepemimpinan Toya Devasya berpindah kepadanya berdasarkan hasil keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang di dalamnya ada keluarga besar Ayu, termasuk jajaran yang duduk sebagai Dewan Komisaris.

Kerja keras generasi pertamanya itu, saat sekarang diurus oleh Srikandi Toya Group yang sukses meniti karir bertahun-tahun hidup merantau di Melbourne, Australia dan Ibukota Jakarta.

Berbekal hal tersebut, dan demi melanjutkan bisnis keluarga di masa depan jauh lebih berkembang pesat lagi dan mendunia melalui sejumlah perusahaan di bawah naungan Toya Group, maka Tim pewarta mewawancarainya, meminta pandangan Ayu selaku Ketua PERWIRA Bali.

Pendangan Anda terhadap diskriminatif berbasis gender?

Mantan Ketua HIPMI Bangli Periode 2015-2018 terlihat mengecilkan kelopak mata dan langsung tersenyum seraya mengibaskan rambutnya.

(Gelagat spontannya tak luput dari perhatian pewarta kami. Momen tersebut terjadi sepintas dan cepat sekali, red).

Jawab Ayu, mengutip surat yang dibuat oleh Raden Ajeng (RA) Kartini pada bulan Agustus tahun 1900. (RA Kartini adalah ‘Pahlawan Nasional Wanita Indonesia’ yang memperjuangan emansipasi perempuan, kala itu, dirinya berkirim surat ke sahabat penanya yang berada di Belanda yakni Nyonya Abendon, red).

“Kita dapat menjadi manusia sepenuhnya, tanpa berhenti menjadi wanita sepenuhnya,” toreh pena RA Kartini, menyibak tirai hitam dilemanya kaum perempuan kala itu yang disampaikan kembali oleh Ayu menjawab pertanyaan Nyoman dan Komang.

CEO Toya Yatra Tour and Travel dalam menyampaikan jawaban mengambil ilustrasi dari kumpulan surat “Kartini” yang juga populer dengan ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’.

“Kaum hawa tak usah takut berkarier termasuk menjadi pemimpin dalam organisasi, perusahaan atau menjadi Presiden. Selama dua kodratnya ditempuh dengan jalan benar,” jawabnya.

“Perempuan bekerja sesuai passion, wajib untuk kita dukung. Apalagi ditekuni dengan penuh suka cita harus kita dorong,” tambahnya.

Lebih lanjut, katanya, kesetaraan itu bukan semata-mata semua harus selalu sama yang terpenting adalah makna di balik kesetaraan itu sendiri adalah bersikap saling menghormati satu sama lain.

Baca juga :  GM Toya Devasya, Mantan Pejabat Birokrat Buktikan Janjinya Setelah Sukses Balik Kampung

Diakuinya, pria dan wanita juga memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing. Oleh karena itu, peran keduanya harus bisa saling melengkapi dan menguatkan satu dengan lainnya.

“Sejarah panjang tersebut menunjukkan bahwa perempuan, mungkin pandangan saya salah, tapi kalau ditempatkan hanya di ‘dapur, sumur, dan kasur’ jelas tilas sejarah ‘KARTINI’ terang benderang untuk mencegah dan upayanya itu berkenaan dengan stigma kesetaraan gender,” imbuhnya.

“Wanita memiliki kedudukan setara dengan laki-laki,” ulangnya, mempertegas pernyataannya.

Ayu Astiti Saraswati memaparkan, salah kaprah bila persepsi yang memandang perempuan harus tunduk kepada laki laki, sambungnya, prinsip ini yang digunakan oleh sebagian pria dengan menggunakan konteks budaya dan agama sebagai senjata pamungkas.

Ayu juga berpendapat, bersikap tegas bukan berarti bersikap keras, melainkan dalam rangka mendidik. Sehingga, tegas dalam mendidik, katanya, itu diperlukan.

Di akhir wawancaranya, Ayu mendorong peran perempuan untuk terlibat aktif sebagai agent of change.

“Perempuan yang ingin mengembangkan potensi diri, mewujudkan cita-citanya untuk mengabdi demi Negara dan Bangsa, why not? Sebab, mereka juga memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang,” tegasnya.

Berikut daftar lengkap Calon Ketua DPD ASITA Bali dan Ketua DEPETA ASITA Bali untuk periode 2021-2026, yang pemilihannya dikabarkan, akan dilangsungkan pada 28-29 Oktober nanti.

Profil Calon Ketua DPD ASITA BALI

  1. Putu Ayu Astiti Saraswati, jabatan President Director Toya Yatra,
  2. Komang Takuaki Banuartha, jabatan Director PT. Sari Gumi Bali,
  3. I Putu Winastra, jabatan President Director PT. Karang Bali Asli Tur (KBA Tur),
  4. I Ketut Jaman, jabatan Co-Founder PT Melali Bali DMC.

Profil Calon Ketua DEPETA ASITA Bali

  1. I Komang Nurjaya Maharta, jabatan owner PT. Bali Flamboyan Jaya,
  2. I Ketut Tunggu, jabatan Direktur PT. Panca Sari Wisata. (eh/Nyoman)