Potensi dan Permasalahan Pengembangan Candi Borobudur sebagai Wisata Ziarah (3)

Pariwisata Indonesia, Artikel Pariwisata Hari Ini, Perkembangan Pariwisata 2022, Kondisi Pariwisata Saat Ini, Pariwisata Hari Ini, Menteri Koordinator bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan kembali jadi sorotan publik, Harga Tiket Masuk Borobudur Rp750 Ribu untuk Naik Candi Tapi Tarif Sampai di Pelataran Tetap Rp50 Ribu, tiket seharga Rp750 ribu per orang diperuntukkan bagi turis lokal hanya untuk menaiki Candi Borobudur, Berita Candi Borobudur, Media PVK Group, PT Prima Visi Kreasindo, Candi Borobudur cagar budaya Indonesia yang ditetapkan sebagai situs Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO, Indonesia sebagai bangsa yang kaya dengan budaya tentu tidak mau dianggap tidak bisa menjaga kelestarian warisan budaya kita sendiri, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan pihaknya membuka peluang mengkaji kembali tarif Rp750 ribu bagi turis domestik untuk naik hingga ke area stupa Candi Borobudur, Pariwisata Paling Top di Jawa Tengah, Rekomendasi Pariwisata Terbaik di Jawa Tengah, Wisata Sejarah, Wisata Ziarah, Potensi dan Permasalahan Pengembangan Candi Borobudur sebagai Wisata Ziarah,Siti Hartati Murdaya, Hartarti Murdaya Poo, Pandangan Umat Buddha di Indonesia terhadap Potensi dan Permasalahan Pengembangan Candi Borobudur sebagai Wisata Ziarah, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Perwakilan Umat Buddha Indonesia, Ketum Walubi, Siti Hartati Murdaya adalah Ketua Umum Walubi, Candi Borobudur merupakan salah satu dari peninggalan sejarah kebesaran nenek moyang Indonesia, Candi Borobudur adalah candi Agung Buddha yang terbesar di dunia, Presiden Direktur PT Hardaya Inti Plantation, Siti Hartati Murdaya lahir di Jakarta tanggal 29 Agustus 1946, Prof Dr JG Casparis, Johannes Gijsbertus de Casparis, Murdaya Widyawimarta Poo, pesona dan keagungan Candi Borobudur, Pendiri PT Berca Sportindo, Siti Hartati Murdaya Mantan Dewan Pertimbangan Presiden, ISEI Yogyakarta, Potensi Pengembangan Candi Borobudur sebagai Wisata Ziarah dan permasalahannya, Nasib Candi Borobudur sampai saat ini sebagai monumen mati atau Death Monument, Candi Borobudur sebagai Candi Buddha adalah suatu kenyataan, Sumber daya ekonomi bagi Candi Borobudur dimulai dari aktifitas wisata ziarah, Candi Borobudur di era reformasi, Presiden Direktur PT Central Cipta Murdaya, Upacara Suci Waisak Nasional, Siti Hartati Murdaya selaku Penggagas dan Dewan Kehormatan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Siti Hartati Murdaya selaku Pendiri Yayasan Kepedulian Sosial Paramita, Situs Walubi, Tjee Lie Ing, Sri Hartati Merdaya lahir dari keluarga Budha yang taat, Berkat tangan dingin Siti Hartati Murdaya mengelola gurita bisnisnya pada tahun 2008 Forbes menobatkan sebagai orang terkaya ke-13 di Indonesia
Ketua Umum Walubi, Dra. Siti Hartati Murdaya yang terpilih secara aklamasi sejak 1998, dan terus dipercaya memangku jabatan sampai sekarang. (Foto: Media PI/Sumber dokumen: Erfo12)

Tulisan ini merupakan bagian akhir dari pandangan Dra. Siti Hartati Murdaya, yang dikutip PariwisataIndonesia.id melansir keterangan resminya, Selasa (18/05/1999), dengan judul, “Pandangan Umat Buddha di Indonesia terhadap Potensi dan Permasalahan Pengembangan Candi Borobudur sebagai Wisata Ziarah”.

Baca juga :  Pandangan Umat Buddha di Indonesia, Siti Hartati Murdaya: Potensi dan Permasalahan Pengembangan Candi Borobudur sebagai Wisata Ziarah (1)

Di sisi lain, ia adalah Ketua Umum (Ketum) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) yang terpilih secara aklamasi sejak 1998, dan sosoknya terus dipercaya memangku jabatan sampai sekarang.

Simak buah pikiran Siti Hartati Murdaya dari lanjutan seri pertama dan kedua, berikut ini.

3. Candi Borobudur sebagai Candi Buddha adalah suatu kenyataan

Kerajaan Mataram I (Kerajaan Mataram Purba) berdiri tahun 775 – 850 diperintah oleh Wangsa Sailendra, yang telah mengantarkan bangsa Indonesia memasuki zaman yang jaya dalam bidang ekonomi, politik, sosial budaya.

Baca juga :  Siti Hartati Murdaya: Pandangan Umat Buddha di Indonesia terhadap Potensi dan Permasalahan Pengembangan Candi Borobudur sebagai Wisata Ziarah (2)

Agama Buddha menjadi pandangan hidup bangsa Indonesia pada waktu itu. Wangsa Sailendra telah berhasil mendirikan Candi Borobudur yang merupakan salah satu keajaiban dunia. Di samping candi Borobudur terdapat pula candi Buddha lainnya, yaitu Candi Mendut, Candi Pawon, Candi Kalasan, Candi Sari dan Candi Sewu yang begitu indahnya.

Atisa Sriyana Dipamkara dalam tahun 1012 telah datang ke Swarna Dwipa (Sumatra) dan berdiam selama 2 tahun untuk berguru dengan seorang Maha Guru Bhikkhu Agung yang sangat termasyur memiliki pengetahuan Buddha Dharma yang tidak terbatas bernama Maha Acarya Dharmakhirti, mempelajari dan mempraktikkan ajaran Bodhicitta dan Pranidana, serta Avatara.

“Kedatangan Atisa dari India untuk belajar agama Buddha di Sriwijaya merupakan suatu prestasi Dharma dari bangsa Indonesia,” kata Presiden Direktur PT Central Cipta Murdaya (CCM Group), dikutip PariwisataIndonesia.id melansir keterangan tertulis Siti Hartati Murdaya, Selasa (18/05/1999).

Menurutnya, tahun 1983 adalah hari ulang tahun yang ke 1000 lahirnya Atisa yang diperingati dan dirayakan di seluruh India dan Banglades.

“Hal ini membuktikan betapa besarnya nama Atisa dalam perkembangan Agama Buddha di seluruh Asia dan Tibet,” terangnya.

Bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau United Nations (UN) sangat menghargai Atisa, yang ditunjukkan saat ulang tahun yang ke 1000 dipakai sebagai peringatan untuk melakukan pemugaran Candi Borobudur.

Keagungan zaman keemasan yang jaya dari zaman kerajaan Mataram Purba, tidak seluruhnya hanya merupakan mimpi masa lampau, namun keberadaan Candi Borobudur adalah merupakan suatu realita yang hidup, yang telah diwarisi oleh bangsa Indonesia sebagai warisan budaya yang tidak ternilai mutu seninya.

“Candi Agug Borobudur yang merupakan sebuah mandala agung Tantrayana sungguh merupakan limpahan berkah dan karunia kepada Umat Buddha masa kini,” imbuhnya.

“Keberadaan candi agung Borobudur ternyata bukan merupakan suatu impian saja, namun dapat kita saksikan adanya Upacara Suci Waisak Nasional yang dilakukan oleh para pendahulu yaitu saat kebangkitan kembali agama Buddha di bumi Indonesia dalam tahun 1956, yang dikenal dengan 2500 tahun Buddha Jayanti. Pada saat yang sama Buddha Jayanti juga mulai dirayakan di India, di mana Indonesia mengirimkan dua orang utusan,” tambahnya.

Kala itu, Upacara Suci Waisak Nasional tahun 1956 hanya diikuti beberapa ratus orang saja, dan ini merupakan sejarah penting dalam menilik tahun kebangkitan Agama Buddha di Indonesia. Meski demikian, tetap tidak menyurutkan semangat Umat Budha untuk setiap tahunnya di saat Waisak selalu melaksanakan puja bhakti di atas Candi Borobudur.

Malah, katanya, selama Candi Borobudur dipugar umat Buddha hanya diperkenankan melakukan Puja Bhakti Waisak di Candi Mendut. Setelah Candi Borobudur dipugar, barulah umat Buddha kembali melakukan puja bhakti Waisak setiap tahun di Candi Borobudur dan mulai dilaksanakannya prosesi keagamaan yang diadakan mulai dari Candi Mendut ke Candi Borobudur.

“Masyarakat dan Pemerintah telah menyaksikan bahwa Candi Borobudur adalah Candi Agama Buddha, dan bukannya Candi Hindu dan Buddha seperti yang diragukan oleh Dirjen Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. Karena semua sekte agama Buddha sejak lama melakukan upacara suci Waisak di Candi Borobudur,” paparnya.

Berkaca dari hal tersebut, sudah seharusnya, Candi Borobudur tidak dapat dipungkiri lagi, memang sudah jelas dan nyata adalah Candi Buddha dan merupakan tempat ibadah Agama Buddha.

“Tidak dapat dibenarkan kalau Candi Borobudur masih diragukan sebagai tempat ibadah agama Buddha. Keraguan bahwa Candi Borobudur merupakan bagian dari budaya Hindu adalah sangat keliru,” tandasnya.

Pandangannya berlanjut dengan menyinggung potensi dari manfaat Candi Borobudur, bila dihidupkan kembali sebagai tempat ziarah umat Buddha sedunia yang berkunjung ke Indonesia.

“Mereka akan merasa tidak puas sebelum berpuja bhakti di Candi Borobudur selama hidupnya di dunia ini. Di samping menjadi objek kunjungan wisata ziarah, Candi Borobudur masih tetap berperan sebagai objek wisata budaya yang berperilaku sesuai dengan semangat kesucian candinya bagi wisata nusantara dan wisata mancanegara,” tuturnya.

Adanya momok dan kekuatiran bilamana Candi Borobudur dihidupkan kembali sebagai tempat ibadah Umat Buddha, maka akan bertambah dengan cepat jumlah penganut agama Buddha di tanah air, sehingga ada beberapa pihak tertentu takut kalau umatnya pindah menjadi penganut agama Buddha.

“Hal tersebut sangatlah tidak masuk di akal, sebab Agama Buddha bukan merupakan agama yang agresif/ekspansif. Sejak kebangkitan kembali Agama Buddha di Indonesia dapat disaksikan gerakan organisasi Umat Buddha tidak pernah memiliki misi kearah itu,” katanya.

Menjadi umat Buddha ditentukan oleh karmanya sendiri, bukan dari hasil tarik menarik umat agama lain. Umat Buddha sangat menyadari tentang hukum karma dan menghindari “akusala citta” yaitu pikiran tidak baik. Umat Buddha senantiasa menjaga kerukunan antar umat beragama.

4. Sumber daya ekonomi bagi Candi Borobudur dimulai dari aktifitas wisata ziarah

Sementara itu, terhadap industri yang menyelimuti sektor pariwisata atau yang menyertai dari manfaat Candi Borobudur, diterangkannya, menjadi bagian yang tak terpisahkan satu dengan lainnya.

Bersambung ke halaman berikutnya
“Salah satu komponen utama…